Sulitnya Hidup Berdampingan dengan Ibu
Sebuah refleksi kehidupan tiga generasi yang hidup dalam satu atap
Seorang Ibu akan melepas topeng sosialnya di hadapan anak perempuannya di rumah. Ia akan menjadi dirinya sendiri yang rapuh dan pemarah, yang penuh frustrasi dan ingin menyerah.
Kalimat yang kalau ditelisik lebih dalam sebenarnya menunjukkan sisi manusiawi seseorang. Namun apakah akan semudah itu untuk dijalani?
Perempuan terbiasa untuk dikritik dan menanggung semua beban itu sendirian. Namun secara tidak sadar Ia melepaskan beban itu kepada perempuan lain dengan posisi tawar yang lebih lemah daripada dirinya. Bagi seorang pemimpin kepada bawahannya, bagi seorang Ibu kepada anaknya. Menurut pemahaman agama, memang benar seorang anak harus berupaya untuk berbakti semaksimal mungkin kepada Ibunya.
Ibumu. Ibumu. Ibumu.
Hal ini bisa jadi karena menjadi seorang perempuan dan seorang Ibu tidaklah mudah. Banyak tekanan baik fisik, psikis, sosial, emosional yang dialami seorang Ibu di masa-masa tertentu dalam hidupnya. Untuk itulah hendaknya seorang anak dan suami berusaha untuk memahami Ibu dan istrinya.
Sebuah percakapan di ruang konseling dengan Psikolog Klinisku beberapa minggu silam membuatku paham akan suatu hal. Bahwa perbedaan pendapat dan perselisihan yang terjadi antara saya dan Ibu saya seringkali didasari oleh perubahan hormonal yang terjadi di dalam tubuh kami. Saya yang berusia awal empat puluhan, dan Ibu saya di pertengahan enam puluhan. Saat seseorang berada di awal usia empat puluhan, sepertinya saya sedang mengalami gejolak emosi yang didasari oleh perubahan hormonal di dalam tubuh. Bagi sebagian perempuan, Ia mulai memasuki fase perimenopause, yaitu masa di mana tubuh mulai mengalami penurunan produksi hormon Estrogen dan mulai mempersiapkan diri untuk memasuki masa menopause antara 5–10 tahun ke depan. Memang benar fase Perimenopause tidak sama bagi setiap perempuan. Ada yang dimulai di awal usia empat puluhan, ada pula yang dimulai di masa awal usia lima puluhan. Di masa usia awal empat puluhan, secara psikologis seorang perempuan akan menjadi semakin mellow dan lebih sering mengalami mood swing, perubahan emosi, tubuh lebih mudah lelah, kulit mulai kering dan kehilangan elastisitas, dan lain sebagainya. Saya pribadi secara psikologis mulai merasakan keinginan untuk semakin merenungi makna kehidupan, mudah menangis, dan bahkan krisis identitas tahap kedua. Tulisan-tulisan saya di Medium dan Blogspot mungkin mencerminkan perasaan apa yang saya rasakan saat ini, jika kalian mau mencermati secara lebih mendalam.
Sementara kondisi psikologis yang dialami Ibu saya di pertengahan usia enam puluhan menjadi semakin tangguh dan rasional. Beliau selalu berkata bahwa saya tidak boleh mellow, tidak boleh cengeng, dan sebisa mungkin lebih tangguh secara psikologis dalam menghadapi tekanan kehidupan. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan apa yang sedang saya alami dan saya rasakan. Namun sesekali Beliau juga bisa menjadi lebih sensitif, mudah marah dan mudah frustrasi. Terutama saat Beliau sedang sendirian. Apalagi di masa-masa kami merawat Papa saat sedang sakit. Kondisi psikologis kami sangat diuji dan ketahan fisik dan mental juga diuji. Saya secara tidak sengaja menemukan dan membaca sebuah tulisan Beliau di atas kertas yang mengindikasikan Beliau masih dalam fase berduka pasca ditinggal meninggal Papa empat puluh harian silam. Menurut Psikolog saya tersebut, hal ini mungkin saja terjadi dan bisa disebabkan oleh perubahan hormonal.
Secara ilmiah, terdapat juga perubahan fisik dan hormonal yang dialami dan dirasakan seorang perempuan di fase usia pertengahan enam puluhan. Hal ini disebut sebagai fase pascamenopause atau postmenopause. Pada usia akhir 60 tahun (65–69 tahun), seorang wanita sudah melewati fase perimenopause (transisi) dan menopause itu sendiri (berhentinya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut). Perubahan fisik dan kondisi psikologis yang dialaminya antara lain: berhentinya menstruasi, kadar hormon Estrogen rendah, sensasi panas pada tubuh (hot flashes) dan berkeringat di malam hari. Hal ini tentu bukanlah hal yang mudah untuk dijalani.
Ketika dua (bahkan tiga!) orang perempuan dalam rentang usia yang jauh berbeda, bahkan berbeda generasi hidup bersama, berbagi ruang bersama; tentu banyak hal yang perlu disesuaikan. Perubahan hormonal jelas tidak bisa dicegah, namun bisa berupaya untuk dikendalikan. Saya sejak lama sudah memulai kebiasaan baik untuk mengatur regulasi emosi dan mood swing salah satunya dengan tetap bergerak meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang ekstrem. Saya membiasakan diri untuk berjalan kaki di luar ruangan baik di pagi maupun sore hari. Menghirup udara segar di luar ruangan sambil bercanda dengan anak maupun menyapa tetangga kanan-kiri, membuat saya merasa tetap terhubung dengan lingkungan sekitar. Bekerja dan mencari aktivitas di luar rumah. Hobi saya “nongkrong” di salah satu angkringan di kawasan Kotagede bersama anak juga membuat suasana hati saya membaik. Sementara Ibu saya suka sekali merapikan dan membersihkan rumah, serta menyapu halaman dan berkebun. Di tengah perasaan kosong dan hampa karena baru saja kehilangan satu (bahkan dua) anggota keluarga (dengan cara yang berbeda), kami tetap terus berusaha mencari cara dan titik temu agar dapat terus saling menjaga dan hidup berdampingan satu sama lain. Tujuan kami cuma satu: menghantarkan anak semata wayangku untuk tumbuh besar seoptimal mungkin meski kekurangan sosok laki-laki dalam hidupnya.
Sekian.

Komentar
Posting Komentar