When Your Parents Talk About Death
Entah kenapa orangtuaku begitu cemas dengan kondisiku dan anakku. Memang dengan kondisi rumah tanggaku yang sedang tidak baik-baik saja, semua terasa begitu tidak pasti. Mungkin orangtuaku cemas apa yang akan terjadi denganku dan anakku nanti setelah mereka tiada. Jujur, awalnya aku berpikir bahwa orangtuaku cemas berlebihan hingga mengarah pada Depresi. Namun setelah berkonsultasi dengan Psikolog Klinisku, aku menemukan insight baru bahwa wajar adanya pikiran tentang kematian muncul pada lansia. Dan itu bukanlah gejala Depresi melainkan lebih mengarah pada "persiapan menuju kematian". Tentu hal ini sangat menyedihkan bagiku. Mereka mungkin sedang mempersiapkan diri menuju kesana, namun bagaimana denganku? Bagaimana dengan anakku? Aku tidak mempermasalahkan kondisi rumah tanggaku, namun lebih ke arah apa yang harus kulakukan untuk membesarkan anak semata wayangku nantinya?
In this economy, dimana krisis finansial terjadi dimana-mana dan survival mode terjadi hampir di tiap negara di dunia, tentu tidak mudah membesarkan anak seorang diri. Banyak orang berujung mengalami Depresi karena krisis finansial yang melanda global. Krisis finansial berujung pada krisis pelayanan kesehatan. Meskipun sistem pelayanan kesehatan di Indonesia masih cukup baik, namun saat salah satu anggota keluargamu mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius seperti Kanker tentu membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit. Hal ini cepat atau lambat tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik namun juga kesehatan mental kami sekeluarga. Kondisi Papa saat ini drop sekali. Papa sedang menjalani Terapi Radiasi untuk menghilangkan sisa-sisa sel kanker yang masih ada di tubuhnya setelah tuntas melakukan Kemoterapi. Kondisi fisiknya drop karena tubuhnya tidak kuat menahan radiasi, yang akhirnya berdampak juga pada kesehatan mentalnya. Papa jadi sering marah-marah, mudah frustrasi dan mudah tersinggung. Kadang Ia tidak mampu bangun dari tempat tidur, bicaranya tidak jelas, dan tidak bisa makan dan minum. Mama juga ikutan stress sebagai caregiver. Terkadang situasi rumah menjadi chaos, dan berujung mereka berantem dan mengancam saling meninggalkan. Tidak jarang mereka membahas perihal kematian. Hal ini tentu menimbulkan stress di aku dan anakku. Seolah-olah mereka ingin menyerah. Tidak jarang Mama bilang "sudah, kamu saja yang mengurus Papa, Mama mau mati saja." Sungguh ironis dan menyedihkan.
Saat ini satu-satunya temanku adalah anakku. Dia yang mulai beranjak remaja-lah yang menjadi kekuatanku menghadapi berbagai gempuran stressor kehidupan. Aku menjadikannya sahabatku. Teman bercerita, teman jalan-jalan, bepergian, dll. Aku bahkan mulai membagikan kisah-kisahku padanya. Aku memberinya pemahaman bahwa hidup tidak akan selalu indah, dan kadang kita harus menerima kenyataan pahit seperti pertengkaran, perpisahan, dan kematian. Semoga Ia tidak mendewasa terlalu dini. Tapi dia benar-benar menjadi sumber kekuatanku. Aku sadar jalannya masih panjang dan semoga tidak berliku. Aku berharap tetap bisa menjadi teladan dan memberikan yang terbaik untuknya terlepas dari segala keterbatasanku. Namun sejauh ini dia tumbuh menjadi anak yang cerdas, manis dan penurut. Aku tidak pernah tahu akankah nantinya kami harus menjalani hidup kami berdua saja atau seperti apa. Aku tidak berani berspekulasi terlalu jauh. Itulah alasannya aku lebih memikirkan hidup di saat ini. Masa depan terasa jauh dan tidak pasti. Aku belum bisa menentukan arah, namun tetap berjuang detik demi detiknya.
Ma, Pa, aku berharap Mama dan Papa selalu sehat, rukun, dan bahagia. Semoga Mama dan Papa bisa menemaniku dan anakku hingga Ia dewasa kelak. Hidup saat ini memang tidak mudah. Kita semua berjuang untuk bertahan dan melanjutkan hidup. Meskipun Papa harus bolak-balik Rumah Sakit hampir setiap hari, aku harap Papa kuat, Papa sehat. Please be strong. Semoga Papa lekas diberikan kesembuhan. Aamin. 💜

Komentar
Posting Komentar