Sedikit Memaksa Diri untuk Bergerak
Sulitnya memotivasi diri untuk menumbuhkan kebiasaan baik yang konsisten
Saya sedang berjalan kaki di akhir pekan | foto dok. pribadiGet outside, breathe some air, catch sunlight, and be happy.
(Dian Paramita Nugraharini, 2026)
Ada kalanya saya sangat rajin berolahraga. Namun ada kalanya pula menggerakkan badan, bahkan bangun dari tempat tidur terasa sulit dilakukan. Ada kalanya ide-ide mengalir deras di kepala, namun ada pula kalanya otak terasa buntu.
Sampai saat ini saya merasa struggle dalam salah satu hal: konsistensi dalam melakukan kebiasaan-kebiasaan baik yang berdampak positif bagi kesehatan fisik dan mental saya. Di antaranya adalah berolahraga dan menulis jurnal. Saya bukanlah seseorang yang tahan berolahraga dan bergerak sampai berlama-lama.
Ada kala dimana pagi terasa berat untuk memulai hari. Jangankan memotivasi orang lain, memotivasi diri sendiri saja rasanya sulit. Hal ini saya diskusikan dalam sesi konseling dengan Psikolog Klinis saya hari ini.
Ternyata selama ini jam tidur saya bermasalah. Saat seseorang kekurangan jam tidur, seseorang akan merasa lelah dan tidak bertenaga saat terbangun di pagi hari. Hal ini berlaku bagi orang dewasa. Sementara bagi anak-anak, kekurangan jam tidur akan membuatnya menjadi cranky dan tantrum. Mudah rewel dan tidak bersemangat dalam menjalani hari. Sedemikian pentingnya waktu tidur seseorang bagi stabilitas suasana hati dan energinya dalam menjalani hari.
Terdapat satu video podcast menarik mengenai tidur oleh pakar tidur Vishal Dasani:
Dalam podcast tersebut dikatakan bahwa olahraga membantu tubuh untuk lebih mudah tertidur di malam hari. Salah satu faktor penting yang membuat kita mudah terlelap adalah relaksasi / perasaan rileks sekitar 30 menit menjelang waktu tidur malam. Dan cara relaksasi setiap orang berbeda-beda. That’s why ada orang yang merasa rileks dengan menulis jurnal, membaca buku, meditasi singkat dan berdoa, atau mendengarkan musik bahkan podcast dan video tertentu.
Saya sendiri memiliki kebiasaan doom scrolling yang terkadang tidak bisa dikontrol. Perlahan saya melakukan habit shifting dengan mendengarkan podcast berdurasi panjang alih-alih short reels / short video di media sosial. Hal ini sejalan dengan apa yang dituliskan oleh James Clear dalam bukunya yang berjudul Atomic Habits. Habit shifting atau pergeseran kebiasaan adalah proses mengubah perilaku atau rutinitas lama yang tidak produktif menjadi kebiasaan baru yang lebih positif dan konstruktif.
Berkaitan dengan kebiasaan olahraga, saya belum terbiasa untuk melakukan olahraga angkat beban maupun olahraga lari. Biasanya saya hanya melakukan jalan kaki dengan kecepatan stabil selama 30 menit hingga satu jam. Saya lebih cenderung melakukannya di pagi hari saat sempat, atau di sore hari di sekitar lingkungan rumah. Secara teori saya tahu bahwa untuk bisa mengubah suatu kebiasaan dibutuhkan proses dan konsistensi hingga kebiasaan baru terbentuk. Namun dengan beragam kerempongan seorang emak-emak yang juga bekerja, jadilah saya melakukannya kurang rutin. Meskipun demikian, saya sebisa mungkin meluangkan waktu di jam yang sama setiap harinya untuk berolahraga. Namun terkadang bisa bergeser beberapa waktu.
Demikian pula dengan konsistensi menulis. Ada waktu dimana ide mengalir deras, ada pula masa dimana otak terasa buntu. Saya menulis sebenarnya untuk mempertajam kemampuan otak dalam berpikir runtut dan analitis, selain untuk melawan brain rot.
Apa itu brain rot?
Menurut sebuah artikel dalam website Alodokter, brain rot adalah menurunnya kemampuan berpikir karena sering melihat konten-konten receh di internet. Dalam jangka panjang, terlalu sering menonton konten ringan / receh bisa membuat otak kewalahan menerima informasi, kehilangan kemampuan berpikir kritis, berdampak secara psikologis yaitu berisiko memicu stress dan depresi. Sementara sumber lain mengatakan bahwa gejala brain rot diantaranya susah fokus, mudah cemas dan jenuh. Di antara cara yang dapat dilakukan untuk mencegah brain rot di antaranya mengubah asupan konten receh dengan konten edukatif berdurasi lebih panjang, berolahraga, bersosialisasi di dunia nyata, dan membaca buku.
Kembali ke pembiasaan untuk menulis, saya merasa untuk dapat membuat sebuah tulisan yang baik, kita perlu lebih banyak mengonsumsi informasi yang edukatif melalui buku maupun podcast berkualitas. Jadi hal-hal yang membantu mencegah brain rot ternyata juga mampu meningkatkan kemampuan kita di bidang literasi. Ibarat sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Saya rasa ini bisa menjadi catatan pribadi saya untuk lebih banyak membaca buku dan menonton konten-konten berkualitas untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi dalam menulis.
Sebagai penutup, saya ingat perkataan seorang Psikiater, dr. Tika Prasetiawati, Sp.KJ dari RS Akademik Universitas Gadjah Mada yang mengatakan bahwa untuk membangun motivasi, kita membutuhkan purpose / alasan mengapa kita harus melakukan suatu hal yang kita anggap penting dalam hidup. Sementara untuk membangun konsistensi, maka seringkali yang perlu kita lakukan adalah berhenti berpikir dan mencemaskan hasil akhir, serta langsung melakukan aksi nyata. Secara singkat, to build consistency, we need to stop thinking and just do it anyway.
Sekian.
***
Come and visit me on Medium:
https://medium.com/@firstlumos

Komentar
Posting Komentar