Sebuah Pelukan yang Menyembuhkan
Sebuah ungkapan terima kasih untuk seorang sahabat baruku.
Ini adalah kisah tentang seorang teman yang baru saya temui beberapa bulan lalu, di akhir tahun 2025 silam. Kebetulan dia juga memiliki akun di Medium, jadi silakan yang ingin membaca tulisan Beliau:
https://ethno-data.medium.com/
Saya akan menggunakan kata ganti “Dia” alih-alih “Beliau” pada tulisan berikut. Stephen adalah seorang Data Scientist dari New York yang senang travelling keliling dunia. Pada pertengahan tahun 2025 silam, dia berkunjung ke Asia Tenggara dan mengunjungi Indonesia. Kami bertemu secara tidak sengaja di sebuah acara komunitas kesehatan mental yang saya ikuti di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Kebetulan saat itu Stephen mengisi acara menjadi native speaker dalam kelas percakapan Bahasa Inggris bagi teman-teman anggota komunitas kami. Dia dengan logat New York-nya yang kental namun sangat jelas di telinga saya, sangat ramah meladeni kami yang antusias belajar percakapan dalam Bahasa Inggris.
Bagi saya, Bahasa Inggris adalah bahasa kedua setelah Bahasa Indonesia. Saya memang pernah kursus intensif saat sekolah dulu, namun setelahnya lebih banyak berlatih mandiri melalui film-film Hollywood dan lagu-lagu di MTV jaman dahulu kala.
Stephen adalah teman pertama saya yang berasal dari luar negeri. Jaman dulu saat belum ada sosial media, saya memang pernah melakukan surat-menyurat dan bersahabat pena dengan beberapa kawan dari belahan dunia yang berbeda. Waktu itu tujuan saya adalah mengumpulkan perangko dari berbagai negara dan saya koleksi di sebuah album yang masih tersimpan rapi hingga saat ini. Sementara dengan Stephen, percakapan kami lebih banyak dilakukan melalui chat di WhatsApp dan Email. Stephen yang memiliki latar belakang pendidikan double degree di bidang Matematika dan Anthropologi sangat suka mempelajari budaya negara lain, khususnya Asia dan Afrika.
Menurut saya, Stephen adalah seseorang yang sangat dewasa dan mandiri. Seperti sebagian generasi Millenial yang (sepertinya) sedang mengalami krisis eksistensi untuk kesekian kalinya, Stephen berkeliling dunia untuk memperkaya wawasan dan mencari jawaban dari pertanyaan demi pertanyaan dalam benaknya mengenai dunia dan segala ketidakadilan yang terjadi di dalamnya. Saya belajar banyak dari dia. Belajar melihat sudut pandang yang lebih bebas dan merdeka. Kebetulan saya bertemu Stephen pertama kali saat sudah pisah beberapa waktu dengan suami (so it’s not what you think it is!). Kami murni berteman dan saya bersyukur dia bukan tipe laki-laki yang baperan dan geeran. Dia sangat rasional dan tulus dalam berkawan.
Ada suatu masa di kala kami sering bertemu dan berpetualang ke beberapa tempat bersama-sama. Salah satunya adalah ke Surakarta. Di sana kami janjian di Stasiun Solo Balapan untuk kemudian melakukan beberapa agenda podcast bersama. Di sela kepadatan jadwal syuting, kami berkunjung ke suatu tempat yang sangat berarti bagi saya. Stephen menawarkan untuk meluangkan waktu 30 menit hingga satu jam untuk kami mengunjungi sebuah makam tempat peristirahatan terakhir seorang teman.
“So I have an extra hour for us to go somewhere. Where do you wanna go?” tanya Stephen. “Karanganyar.” kata saya dengan mantap. “Okay, let’s go.” jawabnya. Kemudian kami berkendara ke sana menggunakan ojek online.
Sesampainya di sana, saya hanya termenung di depan makam sambil berdoa. Stephen mendengarkan saya melantunkan ayat suci Al-Qur’an sambil terdiam. Tidak lama kemudian, saya mendengar isak tangis. Stephen menangis mendengar saya melafalkan ayat-ayat suci tersebut.
“Why are you crying? Do you understand what I’m reading?” saya berhenti sejenak dan memutuskan untuk mengajaknya berbincang. “No, but I can feel your sincerity. I am touched.” jawabnya kemudian.
“Come here.. come closer to me.” lanjut Stephen kemudian. Saya pun mendekatkan tubuh saya ke arahnya. And what happened next is; he hugged me. Gently. Saya bisa merasakan ini adalah sebuah pelukan yang tulus dari seorang teman. Sebuah pelukan yang menenangkan dan menyembuhkan. Stephen memiliki bahasa cinta yang berbeda dari laki-laki lain yang pernah saya temui. Pelukannya hangat, tenang, dan mendamaikan.
I felt safe.
Orang yang dikebumikan di makam ini adalah seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya di masa lalu. Orang yang kematiannya mengguncangkan hidup dan kewarasan saya. Butuh waktu delapan tahun untuk saya bisa mengikhlaskan kepergiannya. Perlahan tapi pasti akhirnya saya berusaha bangkit dari keterpurukan dan kedukaan mendalam.
Apa itu arti keikhlasan? Setiap orang bisa memiliki definisi yang berbeda-beda tergantung pengalaman hidupnya masing-masing. Puluhan sesi konseling kedukaan sudah saya jalani, dan bagi saya menumpuk memori-memori indah sekaligus pahit bersama orang ini dan digantikan dengan memori-memori baru lah yang berhasil membuat saya akhirnya move on dan berani melangkah maju.
Dan bagi saya pula, pelukan hangat Stephen menjadi memori baru yang berhasil mengikis memori lamaku tentang orang tersebut. Kedekatan fisik semacam ini tidak selalu bersifat romantis. Saya hanya menganggap Stephen sebagai seorang sahabat. Pada saat itu pun kami belum terlalu lama saling kenal. Namun terkadang, kita hanya perlu merasa ditemani dan didengarkan. Dan Stephen melakukannya di saat yang tepat. Terkadang pula, kita hanya membutuhkan sebuah pelukan hangat yang mendamaikan. Pelukan hangat dari seorang sahabat yang akhirnya membuat kita berhasil mengikis memori lama yang menyakitkan, tergantikan dengan memori baru yang lebih indah dan berkesan.
Thank you, Steve. I wish you well, always.
Sekian.
***
Come and visit me on Medium:
https://medium.com/@firstlumos

Komentar
Posting Komentar