Kisah Seorang Kawan dari Masa Lalu
Sebuah refleksi dari pertemuan kembali dengan seorang kawan lama
Saya percaya bahwa hidup itu mengalir dan bergulir. Saya juga percaya bahwa cinta romantis belum tentu bertahan selamanya. Lalu kepada siapa kita mencari saat semua itu berakhir?
Kepada Tuhan. Kepada keluarga. Kepada teman.
Pentingnya berbuat baik dan menjaga silaturahmi dengan teman
Seringkali kita menghadapi situasi dimana kita melihat seseorang hanya datang saat ada perlunya saja. Ada yang tulus, ada yang tidak. Ada yang hadir setiap saat. Ada yang datang saat ada perlunya saja. Menurut saya itu semua tidak apa-apa. Manusia dewasa dipenuhi dengan tuntutan hidup dan kesibukan. Tidak semua orang bisa mengada untuk kita setiap saat. Mereka juga punya pekerjaan dan tanggung jawab yang harus diselesaikan di ranah pribadi maupun profesionalnya. Biasa saja. Belajar memahami, belajar mengerti bahwa kita bukan pusat dunia. Kadang energi kita tidak lagi searah dan sejalan, itu pun tidak apa-apa. Namun begitu, tetap penting untuk menjaga silaturahmi semampu kita dengan sahabat, keluarga, dan kerabat dekat.
Utamakan kualitas kehadiran bagi orang dewasa, dan kuantitas pertemuan bagi anak-anak
Hadir sesekali dalam beberapa minggu namun hadir penuh dan memusatkan perhatian pada lawan bicara lebih baik daripada hadir hampir setiap hari namun tidak sepenuh hati. Ini berlaku bagi sesama orang dewasa. Kualitas pertemuan jauh lebih menentukan daripada kuantitas. Namun bagi anak-anak, penting untuk kita hadir secara fisik dan psikologis sesering mungkin, setiap hari dalam keseharian. Setidaknya berusaha meluangkan waktu di tengah kesibukan. Bagi seorang anak, kuantitas kehadiran secara fisik dan psikologis sama pentingnya dengan kualitas pertemuan. Hal ini terjadi karena kuantitas dan konsistensi kehadiran bisa diasosiasikan sebagai sumber rasa aman bagi sang anak. Sementara kualitas kehadiran dapat diasosiasikan sebagai sumber rasa nyaman bagi orang dewasa.
Bukan hanya sama kekasih/gebetan, sama teman pun jangan mudah baper
Kita hidup di era dimana kabar seseorang bisa diakses dengan mudah. Thanks to social media and internet connection that make life so much easier. Hal ini bisa jadi membawa banyak keuntungan, tapi juga ada kerugiannya. Menurut saya di antara beberapa kerugiannya adalah kecanduan dan rasa mudah baper (terbawa perasaan). Pesan WA nggak dibalas dengan cepat; baper. Story Instagram nggak dilihat dengan cepat; baper. Tidak membalas/melihat dianggap kita marah sama mereka. Gebetan tidak cepat nge-view status kita dikira ilfil (hilang-feeling) atau sudah tidak suka. Padahal bisa saja dia sedang sibuk, sedang tidur, sedang tidak mood untuk membuka sosial media, sedang ada masalah, dll.
Kadang bentuk persahabatan berubah seiring waktu, namun bukan alasan untuk tidak kembali bersama
Jika angka kronologis usiamu sudah banyak (alias sudah tidak muda lagi hehehe..), pengalaman hidupmu otomatis bertambah. Bisa saja di antara perjalanan persahabatan atau hubunganmu dengan seseorang ada pasang-surutnya. Dulu terasa dekat dan lengket, tiba-tiba kalian terasa jauh karena jarak, waktu, kesibukan dan prioritas hidup. Namun bukan tidak mungkin waktu akan mempertemukan kalian kembali di masa depan. Mungkin bertemu lagi secara kebetulan di suatu tempat, maupun memang sudah direncanakan. Saya percaya pertemuan demi pertemuan sudah ada yang merencanakan. Tinggal apakah kita mampu merawat hubungan persahabatan tersebut hingga langgeng dalam jangka waktu yang lama.
Kembali kepada topik dimana kisah romantis bisa saja berakhir, disanalah pentingnya menjaga silaturahmi dengan sahabat, keluarga, dan kerabat. Saya menggarisbawahi hal ini terutama saat hubungan romantis tersebut masih terjalin dengan baik. Jangan meninggalkan teman saat kamu sedang bucin-bucinnya dengan kekasih. Bukan tidak mungkin kepada mereka-lah akhirnya nanti kamu akan kembali ketika hubunganmu dengan kekasihmu bermasalah. So be kind, be nice to your friends.
Sejujurnya, tulisan ini secara spesifik saya tujukan untuk Mbak Widhi, seorang kawan dari masa kuliah yang kenalnya juga nggak sengaja melalui dunia maya. Namun nasib baik akhirnya mempertemukan kami di Jogja belasan tahun sejak perkenalan pertama kami dahulu. Saya ingat saat itu Beliau masih mengambil Program Magister dan Doktoralnya di Korea Selatan dan Jepang. Saya ingat sekali Beliau berkata sedang “menunggu bayi-bayinya” di laboratorium, atau sedang menunggu bayi tanamannya masuk kulkas pendingin setelah menunggu berjam-jam sampai kelaparan dan tetap mengerjakan penelitian sambil nyemilin Onigiri, hihihi..
Saya ingat Beliau berkisah bahwa harus hidup berhemat di negeri orang dengan biaya hidup melalui Beasiswa pemerintah. Bahkan tidak jarang harus “puasa” dan hanya makan nasi, kimchi, dan rumput laut di penghujung hari setelah hari yang melelahkan seharian di laboratorium. Tidak jarang juga saya mendengarkan kisahnya yang menangisi kegagalan percobaannya yang sudah dikerjakan berminggu-minggu lamanya. Saya hanya bisa diam dan mendengarkan.
Ada alasan mengapa saya tetap memanggil kawan-kawan seperjuangan saya dengan rentang usia yang tidak terlalu jauh yang kini sudah memiliki gelar akademik cukup tinggi dengan sebutan “Mas” dan “Mbak” alih-alih memanggil “Dok” atau “Prof”. Alasannya bukan karena saya tidak menghormati perjuangan akademis yang telah mereka tempuh hingga sejauh ini. Saya hanya berusaha memandang mereka sebagai manusia setara alih-alih menyandang gelar akademik yang bebannya cukup berat. Ya, jangan dikira memanggil seseorang dengan titel “Dok” atau “Prof.” itu tidak memberatkan pundak mereka. With great power comes great responsibility. Saya rasa perlu ada seseorang yang “memanusiakan” mereka. Yang memandang mereka sebagai sosok seorang teman daripada seseorang dengan gelar akademik tertentu. Saya ingin merasa lebih dekat, dan mereka tahu bahwa mereka bisa melepas topeng sosial yang melelahkan itu di hadapan saya. Menjadi sesama manusia, menjadi teman.
Saya tahu bahwa kadang gelar / titel bisa memabukkan dan membutakan mata seseorang. Saya ada cerita pahit dibalik hal tersebut yang belum bisa saya ceritakan secara detil sekarang. Dua dari anggota keluarga saya (Om dan Tante) bergelar Professor dari dua Universitas Negeri terkemuka di Indonesia. Saya melihat perubahan sikap keduanya sejak menyandang gelar tersebut. Yang satu menjadi semakin rendah hati, sementara yang lainnya menjadi semakin congkak. Dari sanalah kemudian saya tidak sembarangan memanggil seseorang dengan gelar akademik tertentu yang disandangnya. Ah, sudahlah. Kapan-kapan saja saya cerita detilnya ya.
Kembali lagi, mengingat semua kisah saya dan Mbak Widhi di masa lalu; sekarang saya hanya bisa ikut tersenyum. Hari-hari yang berat telah berlalu. Sekarang Beliau sudah menuai hasil dari kerja kerasnya selama ini. I am so proud of you, Mbak Wid. Life has guide us into similar direction after years apart. Tidak peduli sedekat apa kita dahulu, yang jelas saya cuma mau berterima kasih atas jasa-jasa yang sudah Mbak Widhi lakukan kepada saya, baik disadari ataupun tidak. I always wish you for the best. Thank you for being a good friend of mine. Into more years to come of our friendship journey. :)
Selamat Hari Pendidikan Nasional bagi kawan-kawan dosen dan guruku di manapun kalian berada. Semoga kita mampu menjadi lilin penerang yang akan membimbing mahasiswa (dan murid-murid) kita menjadi Generasi Emas yang cerdas dan berbudi pekerti luhur di kemudian hari.
Sekian.

Komentar
Posting Komentar