What About Home? My Jakarta Story
Ketika banyak anak muda berbondong-bondong merantau ke Jakarta selepas lulus kuliah, saya justru melakukan hal sebaliknya. Saya ingin pulang ke Jogja. Mereka merantau ke kota besar, saya justru ingin pulang ke kota kecil. Alasannya cuma satu: mencari kedamaian jiwa. Saya lahir dan besar di Jakarta (coret). Meski tidak hidup di antara hutan beton perkantoran dan apartemen bertingkat, meski bukan anak Jaksel SCBD, tapi saya sangat familiar dengan hiruk-pikuk kota Jakarta. Eyang Putri dan Eyang Kakung saya (orangtua Papa) dulu tinggal berpindah-pindah. Mulai dari Kawasan Menteng, Cipete Dalam, hingga Pondok Labu. Saya ingat saya kecil sering sneaking ke kawasan Sekolah Internasional Perancis / French International School di Kawasan Cipete. Salah satu sekolah internasional mentereng di awal tahun 90an. Sampai sekarang sekolah tersebut masih ada. Lokasinya di jalan yang sama, hanya beberapa langkah dari rumah Eyang (yang sekarang sudah dijual).
Keluarga Papa, semua tinggal di area Jaksel hingga Depok. Papa dulu lama kerja di salah satu perusahaan migas di Jl. TB Simatupang. In short, Jakarta was my childhood, it was my life. Saya tinggal di Jakarta sejak lahir hingga lulus SMA. Dengan modal nekat dan eyel-eyelan dengan orang tua, saya memberanikan diri bernegosiasi untuk merantau ke Jogja untuk meneruskan kuliah di UGM. Untungnya saya keterima! Wkwkwk. Saya satu-satunya murid dari SMA saya yang keterima di UGM. Teman-teman seangkatan saya rata-rata melanjutkan kuliah di Jakarta. Dari mulai UI, Binus, Trisakti, Tarumanegara, Atmajaya, Moestopo, London School, Budi Luhur, hingga Esa Unggul. Saya pun kayaknya kalau tidak keterima di UGM akan kuliah IT di Binus. Pilihan kedua jatuh ke UII Jogja. Namun nasib baik menentukan saya berjodoh dengan UGM. Alhamdulillah.
Selepas kuliah S1 di UGM (yang molor lama karena keasyikan berorganisasi 😛), saya pulang ke Jakarta untuk bekerja. Sebagai fresh graduate, saya sempat bekerja setahun menjadi Guru merangkap Asisten Psikolog Anak di salah satu Biro Psikologi dan Sekolah Homeschool di kawasan Gading Serpong, Tangerang Selatan. Di sana saya menangani anak-anak berkebutuhan khusus dari mulai Autism Spectrum Disorder (ASD), Down Syndrome, serta Attention Deficit Hyperactivity Disorder / Attention Deficit Disorder (ADHD/ADD). Salah satu pengalaman berkesan selama kerja disana, saya sempat berkenalan dengan Prof. Johannes Surya, seorang Ilmuwan Matematika terkenal di Jakarta spesialis pencetak Juara Olimpiade STEM tingkat Nasional maupun Internasional. Beberapa murid saya berhasil direkrut Prof. Jo (panggilan akrab Beliau) untuk mengikuti pendidikan Olimpiade STEM tingkat Nasional di bawah bimbingan Beliau. Jangan salah, murid-murid yang direkrut tersebut adalah anak-anak dengan ASD yang kecerdasan dan talentanya di atas rata-rata serta memiliki Savant Syndrome atau jenius di satu atau beberapa bidang spesifik.
Selepas setahun yang seru dan menantang, saya memutuskan untuk pindah kerja ke tempat lain. Sesuatu yang sangat berbeda dan menjadi dunia baru bagi saya: dunia medis / kesehatan. Saya mendapat tawaran kerja di sebuah Rumah Sakit di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat sebagai tenaga Rekam Medis merangkap Admin surat-menyurat antara pihak Rumah Sakit dengan Perusahaan sebagai klien. Disana saya bekerja langsung di bawah in-house doctor alias dokter umum. Selama bekerja di sana saya jadi semakin pintar dan menambah wawasan, karena belajar dan bergaul langsung dengan para tenaga medis. Saya yang lulusan Psikologi harus belajar untuk mengejar pengetahuan medis. Di sanalah saya berkenalan dengan buku-buku dan kamus kedokteran serta brain-scan / EEG. Hal ini menumbuhkan kecintaan saya pada sistem syaraf dan kinerja otak. Berangkat dari sana, mulai tumbuhlah kecintaan saya pada ilmu Neurosains Kognitif / Cognitive Neuroscience. Sampai detik ini saya bercita-cita akan melanjutkan kuliah di bidang Neurosains Kognitif. Memang cabang ilmu ini masih belum banyak sekolahnya di Indonesia. Tapi saya lihat beberapa tahun belakangan ilmu ini menjadi booming di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Almamater saya pun; Fakultas Psikologi UGM kini sudah memiliki laboratorium Neurosains Perilaku, serta cabang ilmu yang sama. Cita-cita saya perlahan menemukan bentuk dan tempatnya, suatu saat saya akan melanjutkan kuliah S2 di sana. Saya bahkan berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pindah atau meninggalkan Jogja sebelum saya lulus kuliah S2 di UGM. Tapi ada satu kejadian yang membuat saya sedikit bergeming dan berubah pikiran: kepergian Papa.
Ngomong-ngomong, saya sudah delapan tahun tidak pulang (kota) ke Jakarta. Saya memutuskan pindah dan menetap di Yogyakarta sejak tahun 2019. Padahal rumah saya di Jakarta. Teman-teman masa kecil saya juga banyak di sana. Keluarga Papa seluruhnya juga menetap di sana. Namun akhir-akhir ini saya tergelitik untuk mudik ke Jakarta. Sejak Papa meninggal tiga minggu yang lalu, saya banyak berbincang dengan Adik-adik Papa yang hadir di pemakaman Papa saat itu. Mereka sih tidak memaksa saya untuk mudik, tapi ini hanya semacam kesadaran diri saja. Adik-Adik Papa semua datang dari Jakarta untuk memberikan dukungan moral dan material kepada kami. Hal ini membuat saya trenyuh dan terharu. Meskipun beberapa tahun belakangan kami jarang bertemu, namun mereka sangat solid dan peduli kepada kami. Makasih ya Om, Tante, Pakdhe, Budhe. Sepertinya kalau ada kesempatan saya akan menyempatkan diri untuk mudik ke Jakarta untuk menengok rumah dan Eyang Uyut Putri serta saudara-saudara semua. Do I miss the traffic or the sky scrapper buildings? No. I miss my family. Insya Allah saya akan tetap tinggal di Jogja, namun akan lebih sering mudik ke Jakarta menemui keluarga Papa. 😊💜



Komentar
Posting Komentar