Tunggu Aku di Jakarta (Part 1)

Sumber gambar: Sandy Millar dari Unsplash.com 

Jakarta adalah rumahku. Disanalah tanah kelahiranku. Dan sepertinya, ke sanalah aku akan kembali. Hidup ini seperti lingkaran terstruktur berbentuk cincin. Berawal dari suatu fase untuk kemudian kembali ke fase tersebut sebagai suatu siklus. Berawal dari suatu tempat untuk kemudian berpetualang yang jauh, hanya untuk menyadari bahwa sebenarnya di titik awal-lah tempat kita merasa diterima dan akan kembali.

Pernahkah kalian membaca novel karya Paulo Coelho yang berjudul Sang Alkemis? 
Novel tersebut adalah salah satu novel kesukaanku sepanjang masa. Pertama kali kubaca di bangku kuliah semester satu dan terngiang-ngiang hingga saat ini. Dikisahkan seorang pemuda bernama Santiago yang bosan dengan hidupnya lalu melakukan perjalanan pengembaraan hingga ke Afrika, hanya untuk menyadari bahwa harta karunnya ternyata terletak di tanah kelahirannya. Namun apakah melakukan pengembaraan tersebut merupakan sebuah keputusan salah? Tentu tidak. Perjalanan jauh membuatnya belajar tentang banyak hal. Tentang kehidupan itu sendiri yang perlahan mendewasakan dirinya. Perjalanan dalam kesendirian bersama domba-dombanya membuatnya peka akan pertanda yang diberikan oleh alam sekitarnya. Hingga akhirnya Ia memperoleh kebijaksanaan yang membuatnya melihat tanah kelahiran dan takdir yang menunggunya di sana sebagai sebuah petunjuk yang mengarah pada jawaban kehidupan yang selama ini dicarinya.

Apakah pengembaraanku selama hampir sepuluh tahun di Jogja, menunggu sesuatu yang tidak pasti ini akan berakhir sia-sia? Sepertinya tidak. Meski mungkin nantinya aku kembali dengan kondisi status yang tidak utuh, namun aku kembali sebagai jiwa yang lebih teduh dan tegar. Kehilangan Papa, kehilangan suami; membuatku belajar bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang akan abadi selamanya. Orang-orang terdekatmu, keluargamu, akan pergi meninggalkanmu, betapapun kamu berusaha untuk menahannya. Namun alih-alih merasa kosong, kamu akan kembali sebagai pribadi yang lebih utuh, lebih teguh, dan lebih bijaksana. Pertemuan dengan orang-orang lain di persimpangan jalan kehidupan akan membuatmu belajar bahwa tidak ada satu ilmu pun yang kamu pelajari baik itu dari buku, pengalaman hidup, maupun hasil diskusi dengan berbagai pihak yang sia-sia. Setiap ilmu yang didapat dari hasil pertemuan demi pertemuan membuatmu semakin pandai dan semakin lengkap. Memang tidak ada manusia yang sempurna berapapun usiamu saat ini. Namun manusia berusaha untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Manusia yang terus belajar dan memperbaiki diri adalah manusia yang beruntung. Masa depan ada di tangan mereka yang tidak berhenti mencari jawaban dari puzzle-puzzle kehidupan yang pernah dilaluinya.

Tidak ada seorang pun yang bisa melawan takdir yang sudah digariskan untuknya. Seberapapun berputarnya kamu berusaha untuk lari, cepat atau lambat kamu akan tetap kembali ke takdirmu yang semestinya.

***

Apa yang kulakukan saat ini adalah sebuah persiapan untuk menuju kemandirian yang sesungguhnya. Di usia yang tidak lagi muda, aku terus belajar untuk memperbaiki diri, untuk kembali ke hutan belantara kehidupan. Aku tahu hidup ke depan tidak akan mudah, namun semua bukan tidak mungkin untuk dilalui. Dengan adanya tanggung jawab untuk membesarkan seorang anak, serta harapan untuk tetap bisa mengejar cita-cita, tenaga yang dibutuhkan mungkin besar. Tantangan yang dihadapi tidak akan mudah. Namun aku tidak akan membiarkan diriku masuk hutan belantara tanpa persiapan yang cukup. Aku akan membekali diriku dengan keyakinan dan kekuatan, bahwa segalanya akan berjalan baik-baik saja. Contoh nyata yang akan kulakukan adalah dengan tidak membiarkan diriku kehilangan pekerjaan di Jogja sebelum kembali pindah ke Jakarta. Aku akan mengumpulkan menit demi menit, waktu demi waktu untuk menambah jam terbang profesionalku. Memang bukan perkara mudah untuk kembali berkarier di dunia profesional setelah belasan tahun menjadi Ibu Rumah Tangga sepenuhnya. Namun aku tidak akan menyerah pada keadaan. Hidup harus dijalani. Betapapun hancur dan terseok-seoknya persiapanku menuju kemandirian, aku akan menjalaninya dengan persiapan sebaik mungkin. Aku tidak akan menyerah pada keadaan, pada kondisiku. Masa depan seorang anak yang harus kutanggung ada di pundakku. Menjadi Ibu tunggal tidaklah mudah, namun bukan tidak mungkin untuk dijalani. Tentu aku berharap akan menemukan seseorang di depan sana yang bersedia menerimaku dan menemaniku di sepanjang perjalanan. Namun kalaupun tidak, aku pastikan aku akan baik-baik saja.

Maka, jika suatu hari nanti aku akan kembali ke tanah kelahiranku, ke Jakarta; maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Semoga kita semua sehat, diberi kekuatan dan ketabahan untuk menjalani hari-hari yang penuh ketidakpastian dengan kesehatan dan kewarasan yang terjaga dengan sebaik-baiknya. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. 💜

Bersambung.

Komentar

Postingan Populer