Sebuah Refleksi Pernikahan: Tentang Kecemasan dalam Pengasuhan
Tentang Pola Pengasuhan Ibu
Menurut saya, kunci dari keberhasilan pengasuhan adalah konsistensi dan ketenangan. Jika kamu ingin anakmu tumbuh menjadi orang dewasa dengan pribadi yang secure, maka mulailah merasa aman dengan dirimu sendiri. Ketenangan itu menular. Memang ada kasus-kasus tertentu di mana seorang anak yang tumbuh dari orang tua yang insecure mentally tetap bisa tumbuh menjadi anak-anak hebat dengan kepribadian yang secure dan matang. Namun itu semua membutuhkan tingkat kecerdasan emosional yang cukup tinggi. Kecerdasan emosional bisa dipelajari maupun memang bawaan sejak lahir.
Contoh ini saya rasakan sendiri dalam kehidupan saya sehari-hari. Tumbuh dari keluarga yang terpencar-pencar sejak kecil, saya merasa insecure atas ketidakhadiran sosok Papa dalam masa pertumbuhan saya dulu. Entah apa ini ada kaitannya dengan Gangguan Depresi yang saya alami di masa dewasa saat ini. Namun ketidakhadiran sosok Papa membuat Ibu saya harus pontang-panting membesarkan dua anak sendirian, dengan pengetahuan parenting yang minimalis. Akibatnya terlihat sekali Beliau mendidik dengan cara yang penuh dengan kecemasan. Ketidakmampuan Papa untuk mengimbangi dan melengkapi saat berada di rumah juga menjadi penyebab kecemasan itu menjalar kemana-mana. Rumah dipenuhi rasa ketidaknyamanan dan ketakutan. Memang orangnya resikan dan grapyak kalau dalam bahasa Jawa, namun terasa sekali Beliau tidak nyaman dengan keberadaan Papa dan anak-anaknya. Saya tidak menyalahkan Beliau atas Depresi dan kegagalan rumah tangga yang saya alami, namun sedikit banyak tentu ada andil Beliau di dalamnya.
Pertanyaannya: darimana datangnya kecemasan tersebut?
Kecemasan bisa datang dari rasa kelelahan dan ketidaktahuan. Dari ketidakstabilan emosi kedua belah pihak dan visi misi yang tidak sejalan. Sebuah pasangan harus belajar untuk saling memaafkan kesalahan demi kesalahan di masa lalu, jika ingin suatu hubungan berjalan baik dan langgeng.
Tentang Pembelajaran Hidup Berumah Tangga
Saya mungkin bukan orang yang tepat untuk memberi nasihat ini mengingat hubungan rumah tangga saya yang kurang mulus. Ini agak di luar topik namun banyak hal yang saya pelajari dari pengalaman pahit yang saya rasakan. Saya ingin sedikit berbagi tips untuk memilih pasangan agar tidak menyesal di kemudian hari, dari sudut pandang perempuan untuk mengurangi kecemasan dalam pernikahan dan pengasuhan:
1) Sebagai perempuan, jangan mengecilkan potensimu untuk mendapatkan perhatian laki-laki. Kamu berharga, dan laki-laki yang tepat akan menghargai keinginanmu untuk terus berkembang. Laki-laki yang tepat akan menyesuaikan (bukan merendahkan) dirinya demi membersamaimu.
2) Jangan menukar nilai-nilai yang kamu percaya dan kamu anut sejak lama demi apapun, termasuk cinta laki-laki. Hal ini kadang yang agak sulit dilawan, mengingat cinta kadang membuat perempuan paling mandiri dan paling pintar sekalipun bisa bertindak bodoh. Hal ini terjadi karena jatuh cinta membuat Lymbic system atau otak yang mengatur emosimu mengambil alih Prefrontal cortex atau otak bagian logika untuk mengambil keputusan. Hal ini menyebabkan seseorang yang paling logis sekalipun bisa mengambil keputusan yang bodoh.
3) Teruslah belajar dan mengembangkan diri sambil tetap menjalani peranmu dalam pernikahan. Seorang Ibu Rumah Tangga sekalipun berhak untuk tetap mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Pendidikan akan meningkatkan derajat dan self esteem seseorang. Meningkatkan kesejahteraan serta meningkatkan pengetahuan seluruh anggota keluarga. Motto yang saya terapkan dalam hidup saya adalah menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tidak peduli usia berapapun dan sedang berada di fase kehidupan apapun saat ini, tetaplah berkembang dan belajar. Salah satu penyebab kegagalan bahtera rumah tangga kami adalah karena pasangan saya kurang mendukung saya untuk kembali meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta kurang mendukung pendidikan terbaik untuk anak kami. Dia sendiri pun enggan untuk melanjutkan pendidikan untuk menunjang kariernya di masa depan. Dari sana saya merasa kurang satu visi dan misi. Pendidikan adalah salah satu hak dasar manusia. Jika tidak terpenuhi bisa menjadi batu sandungan untuk kesuksesan seseorang di masa depan. Sungguh sangat disayangkan saat seseorang justru berusaha mengganjal keinginan seorang perempuan untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya.
4) Tinggalkan unsur keyakinan Patriarki dan beralih menjadi lebih fleksibel dalam pembagian tugas domestik dan pengasuhan. Terlepas dari sebuah rumah tangga memiliki asisten rumah tangga atau tidak, pembagian tugas domestik dan pengasuhan antara kedua belah pihak sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan kelanggengan rumah tangga. Tumbuh kembang seorang anak memerlukan bimbingan, pengawasan, dan kehadiran Ayah dan Ibu. Secerdas dan stabil apapun pribadi sang anak, akan tetap mengalami kepincangan jika salah satu pihak baik Ayah maupun Ibu tidak hadir utuh dalam pengasuhan. Memang ada alternatif sosok pengganti seperti Kakek, Nenek, Pakdhe, Budhe, dll untuk mengisi kekosongan dari ketidakhadiran sosok Ayah maupun Ibu, namun hal ini tentu tidak akan seoptimal jika pengasuhan dilakukan langsung oleh kedua orang tua. Demikian pula dengan pembagian tugas domestik, seperti membersihkan rumah, memasak, dan mendampingi anak belajar. Perlu pembagian tugas yang jelas dan penerapan yang konsisten namun fleksibel untuk menjaga stabilitas rumah tetap terjaga dengan baik. Satu kritik saya mengenai hal ini adalah tidak adanya aturan yang jelas secara terstruktur dan turun-temurun mengenai pembagian tugas dan pengasuhan. Memang benar, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua, namun jika hal ini dimasukkan secara serius ke dalam kurikulum sekolah semacam pelajaran budi pekerti dan diterapkan secara konsisten, setidaknya setiap orang yang beranjak dewasa di negara ini memiliki gambaran yang jelas akan tugas dan perannya yang harus dijalankan saat berkeluarga kelak. Hal ini tentu penting jika menginginkan terciptanya Generasi Emas di masa depan yang tidak hanya unggul secara intelektual namun juga secara soft skill dan kecerdasan emosional.
5) Terus menerus berupaya untuk memperbaiki diri dan memperbaiki komunikasi. Pernikahan sebagian besar diisi oleh obrolan demi obrolan. Dari mulai obrolan serius hingga obrolan receh. Pastikan kamu menikahi seseorang yang asyik dan seru untuk diajak ngobrol. Penting dicatat bahwa kemampuan komunikasi yang baik dan asertif juga perlu diimbangi dengan kemampuan mendengarkan (listening) yang aktif.
6) Hidup di lingkungan keluarga dengan salah satu peran orang tua yang cukup dominan membuat saya "kehilangan suara" di dalam keluarga.Kritik dan saran dianggap sebagai pembangkangan. Masa-masa dimana kemampuan otak saya dalam berpikir kritis dan mulai memiliki pendapat dan keputusan sendiri justru dianggap sebagai ancaman. Saya tidak akan menekankan kecenderungan generasi tertentu dan tidak akan mengkambinghitamkan hal tersebut. Namun memang benar bahwa setiap generasi memiliki cara pengasuhannya sendiri. Entah mana yang benar mana yang kurang. Hal ini kembali terkait dengan poin di nomor 4 dimana tidak adanya panduan untuk menjadi orang tua sehingga setiap pasangan melakukan uji coba trial dan errornya masing-masing. Hal ini juga berkaitan erat dengan poin 3 dimana seorang perempuan perlu mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dengan harapan dapat melakukan pengasuhan anak dengan lebih baik dengan ilmu yang dimilikinya.
***
Kecemasan dan burnout bisa terjadi karena kelelahan, namun bisa juga didasari oleh ketidaktahuan. Untuk itulah pentingnya kita terus meningkatkan ilmu dan pengetahuan, serta soft skill dalam bidang apapun, dalam hal ini adalah mengenai kerumahtanggaan dan pengasuhan anak. Bukan berarti setiap perempuan harus belajar disiplin ilmu Psikologi Pendidikan dan Perkembangan sebagai latar belakang akademik. Minimal cukup dengan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, curiousity mengenai banyak hal, namun di sisi lain juga perlu dibekali dengan ilmu agama untuk tetap merasa bersyukur dan merasa cukup. Keseimbangan di antara keduanya,Insya Allah akan menjadikan seseorang menjadi individu yang dapat mencetak Generasi Emas di masa depan.
Sekian.


Komentar
Posting Komentar