Pentingnya Menemukan Jangkar Emosional di Saat Genting

 

Sumber: CHUTTERSNAP dari Unsplash.com 


Apa itu jangkar emosional?

Simbol Jangkar (Sauh) atau Anchor dalam Bahasa Inggris secara luas melambangkan stabilitas, keteguhan, harapan, dan ikatan yang kuat. Secara metafora jangkar bermakna tempat untuk berlabuh. Sementara secara emosional, jangkar mewakili ketahanan menghadapi tantangan hidup, serta sering digunakan untuk melambangkan persahabatan atau cinta yang tak tergoyahkan. 

Seseorang seringkali membutuhkan jangkar emosional untuk bertahan dan berpegangan dari kerasnya hempasan ombak kehidupan. Secara spiritual, jangkar terbaik adalah berpegang teguh pada Agama dan keyakinan atas kekuatan Tuhan. Keyakinan yang kuat pada Tuhan bisa menjadi fondasi untuk mengarungi kerasnya kehidupan. Hal ini sudah menjadi kesepakatan bersama yang bisa diterima di hampir seluruh belahan dunia yang mempercayai adanya kekuatan Tuhan dan Agama secara umum.

Bolehkah menjangkarkan emosi pada kekuatan selain Tuhan?

Pendapat saya mungkin agaknya bisa diperdebatkan, tapi menurut pendapat pribadi saya boleh. Hal ini bukan berarti menyekutukan Tuhan, namun membuat jangkar tersebut lebih realistis dan tergapai secara akal intelektual. Hal yang saya maksud disini adalah memvisualisasikan jangkar emosi pada sesuatu yang nyata di hadapan mata kita. Konteksnya bukan kemudian membuat Idolatry atau memberhalakan sesuatu selain Tuhan, ya. Contoh kongkritnya adalah berusaha me-reach out sesuatu atau seseorang untuk membantu kita keluar dari survival mode atau kesulitan di moment-moment berat dan genting dalam hidup. Seseorang yang bisa menyuntikkan keyakinan dan kekuatan untuk mampu bertahan dan melalui moment sulit tersebut. Dalam bahasa sehari-hari yang lebih mudah, di sanalah pentingnya kita punya circle pertemanan dan lingkungan yang baik, maupun seseorang yang diidolakan yang diharapkan mampu membantu dan menginspirasi kita dalam melalui saat-saat sulit tersebut. Someone to hold on to

Mengapa seseorang mencari jangkar emosional di saat genting?

Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan orang lain untuk mampu bertahan hidup. Seseorang merasa membutuhkan jangkar emosional ketika hantaman problematika kehidupan terasa berat dan menghimpit. Manusia membutuhkan jangkar untuk menjaga keseimbangan dalam diri dan menjaga kewarasan. Kewajiban sebagai seorang dewasa untuk tetap bersikap tenang saat menghadapi persoalan bukanlah perkara mudah. Seringkali ada kecemasan dan kekhawatiran atas ketidakpastian dalam kehidupan. Namun seringkali kita tidak bisan menunjukkannya secara langsung pada dunia luar atas dasar norma yang berlaku di masyarakat, atau public image dan nama baik yang harus dijaga. Di luar kita terlihat tenang dan tersenyum, namun di dalam hati rasanya ingin teriak dan memberontak. Pada saat inilah kita berusaha mencari jangkar. Mencari sosok atau alasan yang mampu membuat kita untuk terus bertahan. Pada sebagian orang, sosok tersebut mungkin anggota keluarga terdekat; pasangan, orangtua, anak, sahabat. Namun pada orang-orang lain, sosok tersebut mungkin adalah sosok orang asing yang tidak dikenalnya secara langsung di dunia nyata; artis idola, publik figur, tokoh agama, influencer. Semua boleh-boleh saja, semua sah-sah saja. Pemilihan sosok tersebut biasanya diambil dari nilai-nilai (value) dasar seseorang yang sejalan dengan nilai-nilai dasar yang dianut pihak yang dijadikan jangkar emosional. Mungkin kesamaan nilai, kesamaan prinsip hidup, kesamaan pandangan terhadap suatu hal, kesamaan visi dan misi dalam kehidupan. Semua boleh-boleh saja dan mungkin saja dilakukan. Dalam ranah Ilmu Psikologi Kognitif hal ini disebut sebagai Similarity Principle atau Prinsip Kesamaan. Seseorang akan melekatkan dan mengaitkan dirinya dengan orang lain yang memiliki persamaan pola dalam memandang dan meyakini sesuatu dalam kehidupan. 

Menurut saya, salah satu pemilihan sosok jangkar emosional paling sehat yang dapat dilakukan seseorang contohnya adalah pada Tuhan. Sementara untuk sosok manusia yang dapat dipilih oleh seseorang sebagai jangkar emosional adalah sosok keluarga, motivator, tokoh agama atau pihak tenaga kesehatan profesional. Dengan syarat, penetapan jangkar emosi tersebut tidak dilakukan untuk kelekatan yang tidak sehat dan berlebihan. Masih dalam batas kewajaran sekadar untuk melepaskan beban emosional secara sehat dan tidak melekat. Memiliki sosok seseorang sebagai jangkar emosional bukan berarti kita kehilangan diri sendiri. Tujuan utamanya adalah memiliki seseorang yang bisa membuat kita bercermin ke diri sendiri tentang apa yang akan dilakukannya saat Ia berada di situasi genting yang sama seperti yang sedang kita alami. Sebagai sosok inspirator untuk berbagi keresahan dalam melalui badai kehidupan. 

Semoga kita semua dapat menemukan sosok tersebut dalam hidup kita tanpa membuat kita kehilangan diri sendiri. Aamin.

 

Komentar

Postingan Populer