Another Refleksi Pernikahan Menjelang Akhir Perjalanan
Menikah memang tidaklah mudah. Banyak hal yang perlu dikompromikan. Bahkan tidak jarang banyak hal yang perlu dikorbankan: di antaranya kebebasan dan kewarasan. Bukannya selama lima belas tahun pernikahan ini aku tidak bahagia. Hanya saja begitu banyak jalur berliku yang harus dilalui, bersama seseorang yang tidak secure secara personal.
Ketika muda kita berpikir, sepertinya menyenangkan menikah dengan seseorang yang menjadi cerminan diri kita sendiri. Kita introvert, dia introvert. Kita pendiam, dia pendiam. Kita anak Mama, dia anak Mama. Hingga semua pecah menjadi konflik tak terelakkan: campur tangan pihak ketiga.
Berikut pandangan reflektif yang bisa aku berikan sebagai catatan perjalanan pernikahan kami:
1) Menikah dengan anak Mama itu sulit
Itu kesimpulan pertama. Bukan menggeneralisasi, hanya sekedar berbagi dan berefleksi. Kehidupan Masyarakat Jawa yang sangat kental dengan campur tangan keluarga dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup sungguh menyesakkan dada. Semua orang merasa berhak untuk membantu dan ikut campur dalam mengambil keputusan keluarga. Bodohnya, aku mau terjebak di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Makin lama makin terasa menghimpit dan menyesakkan, dipimpin oleh seseorang yang tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Segala sesuatu merupakan hasil kompromi dengan keluarganya, tanpa Ia memiliki hak bersuara padahal Ia adalah seseorang yang sudah dewasa.
2) Awalan bisa memprediksi hasil akhir
Segala sesuatu yang diawali dengan keburukan bisa berakhir buruk, hingga kadang membuatmu berpikir bahwa mengakhiri segalanya adalah cara terbaik untuk memutus rantai karma. Awalan dalam pernikahan bisa dimulai dari perkenalan, pendekatan, pacaran, hingga memutuskan untuk menikah. Memang betul dalam Islam tidak dianjurkan untuk berpacaran, dan itu tidak seratus persen salah. Banyak juga yang menjalani pernikahan tanpa pacaran dan semua berjalan langgeng dan baik-baik saja. Pandanganku adalah, bahwa gaya berpacaran yang buruk bisa memprediksi kehidupan pernikahan yang akan dijalani ke depannya. Seperti apa seseorang di masa pacaran, seperti itulah kelak Ia akan menjadi sosok suami / istri. Bukan tidak mungkin kesalahan-kesalahan yang dilakukan di masa pacaran akan diulangi di masa pernikahan. Dan itu rasanya jauh lebih menyesakkan.
3) Uang bukan segalanya, namun menentukan banyak hal
Jangan menikah jika tanpa persiapan dan perencanaan keuangan yang baik dan matang itu ada benarnya. Kamu tidak materialistis bukan jaminan kamu tidak berhadapan dengan orang-orang yang materialistis. Sebagai seseorang yang tidak berorientasi pada materi dan kepemilikan harta benda, aku merasa dihakimi dan dilangkahi. Sebagai Generasi Millenial / Gen-Y yang telah mengalami pasang surut peristiwa di negara ini, aku menemukan benang merah yang dirasakan kami-kami para Gen-Y dan Gen-Z: kesulitan finansial yang bersumber pada kesalahan manajemen negara di masa lalu. Dampaknya baru terasa sekarang dan mungkin beberapa dekade ke depan. Banyaknya Gen Millenial yang memilih untuk tidak menikah atau tidak memiliki anak menurutku salah satu pertimbangannya adalah pertimbangan finansial. Hal ini sudah banyak dibahas bahkan oleh Financial Planners Gen Millenial dan Gen-Z itu sendiri. Bagi mereka yang memutuskan untuk menikah, bukan tidak mungkin kondisi keuangannya akhirnya terseok-seok, apalagi jika kita tidak berasal dari keluarga yang memiliki priviledge. Aku pribadi merasa keluargaku berada di middle-class income lah. Tidak kaya-kaya banget, tapi juga tidak miskin-miskin amat. Yang berusaha membangun Kerajaan Bisnis juga ada, tapi ya masih merintis. Kenyataan pahitnya adalah, pada akhirnya kondisi finansial-lah yang mengakhiri pernikahan kami. Sebuah fakta yang sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak lama namun kami tidak berdaya upaya untuk mencegah, dan itu adalah murni kesalahan kami.
4) Ketentuan Agama seringkali menyelamatkan, namun tidak jarang menimbulkan tekanan batin tak berkesudahan
Sebagai anak yang dibesarkan oleh orang tua yang baru memperdalam agama ketika dewasa, aku mengalami banyak pergulatan batin dan kebimbangan. Ketidak-konsistenan aturan Agama dalam keluarga membuatku tumbuh menjadi pribadi yang bingung dengan aturan yang harus dijalankan. Di masa kecil semua terasa longgar, santai, dan tidak mengikat. Namun ketika timbul kesalahan demi kesalahan yang kulakukan sebagai konsekuensi bertumbuh, mulailah bermunculan aturan Agama yang mengikat dan menghukum. Agama digunakan sebagai sarana untuk menghakimi dan menilai baik/buruknya seseorang. Sebagai contoh, aku ingat aku kecil sering diajak makan makanan di restoran Chinese Food yang ada di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di sana kami memesan makanan Chinese non-halal dan makan dengan lahapnya. Aku bahkan masih ingat nikmatnya rasa Swikee Kodok saus mentega yang dipesan Mama. Atau botol demi botol Wine yang dibawa Papa sebagai oleh-oleh sepulang dari Perancis atau Amerika. Apakah itu kesalahanku bahwa kami mengonsumsi makanan non-halal? Tentu tidak. Itu karena mereka tidak tahu. Namun tidak ada seorang pun yang menghukum mereka atas kesalahan tersebut, Hal itu terjadi karena mereka sudah dewasa dan sudah bisa memutuskan segala sesuatunya sendiri. Namun kini, mereka menghukumku sebagai orang dewasa yang melakukan kesalahan pengasuhan pada anakku. Apakah itu adil? Silakan dijawab sendiri menurut keyakinan masing-masing.
5) Kalau kamu belum menemukan jodohmu sekarang, bersabarlah. Segalanya akan indah pada waktunya
Satu kesalahanku adalah memaksakan diri untuk menikah terlalu cepat dengan orang yang tidak tepat. Bagaikan membeli kucing dalam karung. Belum kenal lama, berujung melakukan kebodohan demi kebodohan yang memaksa kami akhirnya harus bersama secara terpaksa. Akhir usia dua puluhan membuatku panik tidak akan mendapatkan jodoh yang terbaik dan berakhir menjadi perawan tua. Padahal aku lanjut kuliah S2 saja belum. Meraih impianku saja belum. Aku terlalu terburu-buru memilih pasangan hidup tanpa mempelajari latar belakang hidup dan keluarganya. Perpisahan di akhir cerita adalah suatu keniscayaan yang sangat predictable sebenarnya. Kalau boleh memilih lagi, aku lebih baik membersamai seseorang yang sudah kenyang pegalaman hidup dan pacaran ketimbang seseorang yang belum pernah pacaran sama sekali dan masih naif dan memandang cinta dan kehidupan relasi romantis. Jangan dikira hanya perempuan saja yang bisa memandang kehidupan romantika percintaan sebagai sesuatu yang naif. Laki-laki pun bisa. Berharap sekali pacaran langsung mendapatkan pasangan terbaik untuk selamanya. Padahal laki-laki yang sedemikian kemungkinan besar kurang berpengalaman dan kurang bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat. Kalau boleh memutar waktu, aku ingin menyelesaikan sekolah setinggi-tingginya dulu dan meraih cita-citaku sebelum menikah dan siap mempunyai anak. Karena penyesalan yang datang belakangan sungguh menyesakkan. Kamu kehilangan waktu separuh hidupmu untuk kembali ke titik semula dan mengulang semuanya dari awal. Sungguh tidak efektif waktu dan melelahkan. Menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya juga memungkinkanmu untuk menemukan jodoh yang lebih sepadan dan kemungkinan besar tingkat kecocokannya akan lebih tinggi. Aku percaya pendidikan akan mampu meningkatkan derajat hidup seseorang dan menambah kebijaksanaan dalam memandang hidup secara keseluruhan. Karena Tuhan akan menjodohkanmu dengan seseorang yang sepadan dan kompatibel denganmu. Setidaknya itulah yang kuyakini hingga saat ini.
6) Berhati-hati dalam melangkah tidak sama dengan tidak mengambil langkah sama sekali
Dari kesalahan demi kesalahan yang kulakukan di masa lalu aku belajar, bahwa menghukum diri sendiri atas kesalahan di masa lalu adalah sebuah tindakan bodoh dan kerdil. Do you wanna know what's my biggest mistakes in marriage? Ini adalah mengkerdilkan diri demi menyelaraskan posisiku dengan suami. Kasus KS yang kualami di masa pacaran membuatku kehilangan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa aku tidak layak untuk maju. Banyak pihak menyayangkan keputusanku untuk mundur dari dunia profesional dan menutup diri dari pergaulan. Namun itulah kenyataan pahit yang harus kutelan. Kebodohan di masa lalu membuatku kehilangan hampir separuh waktu hidupku untuk menyesali dan menghukum diri sendiri. Hingga akhirnya aku berpikir bahwa satu-satunya hal yang perlu kulakukan adalah memutus rantai trauma itu semua. Memutus kontak dan hubungan dengan sumber masalahnya. Sudah cukup aku menghukum diriku sendiri. My time is prescious and it's slipping away. Now I am going to strive to compete whole-heartedly.
***
Maka inilah saatnya untukku kembali on-track dan bertumbuh lagi. Dengan dukungan dan motivasi dari berbagai pihak, perlahan aku bangkit. Setahap demi setahap aku kembali mengumpulkan keberanian untuk tumbuh dan berkarya lagi. Meski itu berarti harus menyudahi hubungan traumatis yang sudah terjalin belasan tahun lamanya.
Orang hebat bukanlah orang yang tidak pernah jatuh,
namun Ia yang mampu untuk bangkit lagi.
(Riza Putranto, 2026)
Tulisan ini kubuat terinspirasi dari sebuah tulisan di Medium.com berjudul Tidak Menikah Kamu Tidak Apa-Apa, Menikah dengan Orang yang Salah Kamu Kenapa-napa karya Mas Riza Putranto. Terima kasih Mas atas inspirasi tulisannya. Sehat-sehat selalu untuk kita semua. 🙏


Komentar
Posting Komentar