Menjadi Sareh di Tengah Badai Kehidupan

 



Sareh adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti sabar, tenang, tidak tergesa-gesa (ora kemrungsung), dan membawa ketenangan dalam bertindak. Kata ini sering digunakan dalam petuah hidup orang Jawa "Sareh, Sumeh, Sumeleh" yang berarti "tenang, tersenyum, dan pasrah kepada Tuhan". Di tengah ketidakpastian hidup dan kekacauan dunia; di dalam badai kehidupan, maka kunci agar tetap bisa menjalani hidup dengan tenang adalah satu: pasrah. Kepasrahan bukanlah suatu kata yang bersifat pasif. Justru sebaliknya, pasrah adalah bentuk penyerahan diri setelah mengupayakan yang terbaik. 

Istilah ini menjadi warisan turun-temurun di keluarga kami. Aku diajarkan tentang kesarehan oleh Mama, sementara Mama diajarkan konsep kesarehan oleh Eyang Kakung, dan Eyang Kakung diajarkan oleh Eyang Uyut. Ciri orang yang sareh akan terlihat dari ketenangan jiwanya saat menghadapi ujian kehidupan. Tidak mudah mengeluh dan tidak menyerah. Kesarehan berarti percaya bahwa akan ada kemudahan setelah kesulitan. Seperti yang tertulis dalam surat Al-Insyirah dalam Al-Qur'an. Di antara satu kesulitan akan datang dua kemudahan. Masa sulit, masa krisis akan berlalu. Badai akan berganti terang. Hujan akan berganti pelangi. Malang tak dapat ditolak, nasib tak dapat ditebak, namun kontrol diri terhadap segala sesuatu yang menimpa kita lah yang menjadi tolak ukur keberhasilan pengendalian diri seseorang. Dan keyakinan kita akan kasih sayang Tuhan akan membawa kita pada pencerahan dan titik terang dalam hidup. Berprasangka baik pada Tuhan akan membawa kita pada kebaikan itu sendiri.

Satu percakapan absurd dengan Mama kemarin membuat saya terhenyak. 

"Kamu bersikap begini karena kamu tidak pernah berada di titik nadir dalam hidup!"
"Coba belajar untuk tidak mengeluh meski hidup terkadang terasa sulit dan tidak adil. Belajar untuk Sareh dan Berserah."

Jleb!

Bayangkan, di tengah himpitan kondisi finansial, situasi global yang memanas, rumah tangga yang di ambang kehancuran, kondisi kesehatan mental saya yang labil, dan kondisi kesehatan Papa yang memburuk; sangat sulit untuk tetap bisa bersikap tenang dan berpikir dengan waras. Bisa dibilang, kami sedang berada dalam titik nadir dalam kehidupan keluarga kami. Segala sesuatu terasa sulit, terasa rumit, terasa sempit. Namun Mama berusaha tetap bersikap tenang dan mengambil alih nahkoda rumah tangga. Mama mengajarkanku untuk bersikap sareh melalui ucapan dan tindakan yang selaras. Tiga orang perempuan berbeda generasi ini; Mama, saya, dan anak saya; kami bahu-membahu menjaga kestabilan rumah dan merawat Papa. Kami seperti tokoh di film serial favoritku Gilmore Girls. Dimana Emily, Lorelai, dan Rory Gilmore bersatu untuk merawat Richard yang terbaring lemah di Rumah Sakit. Rasanya heroik. Rasanya ajaib. Kami sendiri heran kami mampu bertahan sejauh ini. Anakku sama sekali tidak mengeluh. Dia patuh, perhatian dan penuh kasih sayang dalam merawat Eyang Kakungnya. Dia anak yang manis dan cerdas. 

Rabbi Hab lii Minash-shaalihiin(a). 
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang Shaleh. 
(QS: Ash-Shaffat: 100).
Papa memang baru saja pulang dari rawat inap di Rumah Sakit minggu lalu. Kondisinya memang sempat drop karena kondisi malnutrisi yang dialaminya. Kerongkongannya mengalami luka akibat Radioterapi yang mengakibatkan berkurangnya asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Salah satu jalan yang ditawarkan oleh dokter adalah penggunaan Nasogastric Tube (NGT) atau lazim disebut sebagai selang Zonde yang menghubungkan area mulut, kerongkongan hingga ke lambung. Papa makan menggunakan suntikan spuit yang digunakan untuk memasukkan makanan berbentuk semi-cairan ke dalam lambung. Gunanya agar tidak terjadi gesekan antara makanan yang dicerna dengan alat pencernaan di tubuh. Alhamdulillah setelah penggunaan selang NGT selama lebih dari satu minggu, kondisi Papa sudah membaik dan sudah diijinkan untuk pulang ke rumah. Kini tinggal kami bertiga yang berjuang untuk merawat Papa di rumah.

Ternyata merawat orangtua dengan penyakit kronis tidaklah mudah. Efek dari Radioterapi yang dijalani Papa menjalar kemana-mana. Hasil rontgen USG Thorax menunjukkan terjadi perlukaan dan adanya lubang di Paru-paru. Papa mengalami infeksi paru ringan akibat masuknya bakteri Streptococcus  pneumoniae dari udara ke dalam lubang di Paru-parunya. Efeknya dirasakan secara fisik dan mental. Selain fisiknya yang melemah, berat badan yang turun drastis, Papa juga mengalami gangguan kesadaran dan halusinasi akibat terganggunya asupan oksigen ke dalam tubuh. Sepanjang pagi dan siang Papa mengalami penurunan kesadaran dan meracau karena halusinasi ringan. Sementara di malam hari Ia terjaga sepanjang malam dengan perasaan cemas.

Kondisi yang penuh dengan tekanan yang menguji daya tahan fisik dan mental membuat kami harus memutar otak untuk bertahan dari gempuran stress. Mama sedang mengajarkanku untuk menjadi sareh dan ikhlas, menjadi kuat dan tangguh melalui pengalaman, dan aku bertanggung jawab untuk meneruskan tongkat estafet itu ke anakku. Dalam Ilmu Psikologi ini disebut sebagai Experiential Learning. Mempelajari sesuatu langsung melalui praktik dan mengalaminya secara langsung. Kami sedang di-training untuk menjadi lebih kuat, lebih tangguh, lebih ikhlas, dan lebih sareh dalam menjalani ujian kehidupan.

Inna ma'al usri yusra
Fa-inna ma'al usri yusra
Sesungguhnya di antara satu kesulitan itu ada dua kemudahan
(QS: Al-Insyirah: 5-6)

Mohon doanya agar Papa segera diberikan kesembuhan. Insya Allah ujian ini akan membuat kami menjadi manusia yang lebih sareh, lebih ikhlas, lebih tangguh dalam menjalani kehidupan. Semoga ujian ini menjadi pengingat dan penggugur dosa-dosa kami, dan kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diselamatkan dan beruntung di dunia dan di akhirat. Aamiin. 

Komentar

Postingan Populer