Leaving Traumatic Relationship Behind
Akhirnya kuputuskan untuk menyudahi saja semuanya. Relasi penuh trauma dari masa lalu yang kelam. Aku sudah jujur pada semua orang tentang apa yang kurasakan, apa yang kusembunyikan selama bertahun-tahun lamanya. Rasanya menyakitkan sekaligus melegakan, melepaskan semuanya. Ini bukan sebuah kisah habis manis sepah dibuang. Ini adalah sebuah kenyataan pahit betapa ketidakstabilan kondisi finansial dan psikologis bisa menghancurkan bahtera rumah tangga. Bukan pertama, tapi kedua kalinya. Menyakitkan. Menyesakkan. Tapi inilah kenyataan. Saat kedua belah pihak tidak mau lagi memperjuangkan segalanya. Meninggalkan. Mencampakkan. Mengabaikan. Menyudahi segalanya.
Tidak, aku tidak benci. Aku cuma trauma. Bagaimanapun juga dia tetap Ayah dari anakku. Kami akan tetap berteman. Melakukan co-parenting semampu kami dengan segala keterbatasan yang ada. Aku sudah memberi pengertian kepada anakku tentang apa yang terjadi, dan sejauh ini dia memahami. Aku tahu dia sedih dan kecewa. Tapi dia sudah merasakan kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan sebelumnya. Pengabaian.
Depresi memang kejam. Depresi menghancurkan sendi-sendi kehidupan secara menyeluruh. Saat tulang punggung keluarga mengalami goncangan yang melenyapkan kewarasan dan rasa tanggung jawab. Haruskah ku bertahan? Rasanya tidak. Semua kembali ke niat awal. Apakah masih ada keinginan untuk bersama atau masing-masing saja? Sepertinya aku sudah tahu jawabannya. Aku sudah melihat polanya, dan aku tidak kaget, tidak heran. Memang begitulah dia apa adanya. Keinginan untuk pulih bersumber dari diri sendiri. Orang lain hanya bisa menyemangati, namun keputusan untuk bangkit ada di dirimu sendiri. Aku sudah tidak mau turut campur lagi. Urus saja dirimu sendiri. Kamu sudah besar, sudah bisa memutuskan yang terbaik. Aku anggap apa yang kamu lakukan sejauh ini adalah keputusanmu, entah sadar entah tidak. Entah waras entah tidak. Entah netral entah tidak. Aku sudah tidak peduli.
Hidupku sudah mulai teratur, stabil dan damai. Perlahan aku kembali menemukan kebahagiaan dan keteraturan. Rutinitas membantuku pulih. Mengatur pola hidup yang lebih baik membuatku waras. Aku tidak akan menyalahkanmu atas apa yang kamu lakukan di masa lalu. Semua sudah berlalu. Forgiveness is hard, but I have moved on. Tapi itu semua bukan berarti aku akan bertahan di hubungan yang traumatis. Nanti aku nggak bisa sembuh. Aku tidak bilang kamu jahat. Kamu hanya kurang kontrol diri. Sayangnya semua harus berakhir untuk sama-sama pulih, sama-sama sembuh. Ya sudah kalau memang begitu adanya. Untuk apa hidup bersama kalau hanya saling men-trigger saja? Bahtera kita adalah bahtera yang rapuh. Sudah selayaknya sejak awal kita tidak bersama. Tidak ada yang perlu disesali. Namun sungguh sayang ini semua harus berakhir dengan meninggalkan luka yang mungkin bekasnya tidak akan pernah hilang. Sekali lagi, forgiveness is hard, but I have moved on. Kamu tidak perlu khawatir, anak kita akan kuat. Dia akan kulatih menjadi wanita tangguh yang tidak mudah patah. Kegagalan dan kehilangan justru akan membuat daya lenting mentalnya menguat. Dia akan baik-baik saja.
Aku tidak akan menutupi segalanya. Justru dia perlu tahu apa yang terjadi. Agar dia bisa belajar dari pengalaman dan kegagalan orang lain. Kamu tidak perlu mengalaminya sendiri untuk belajar. Itulah pentingnya belajar sejarah. Dia akan belajar dari sejarah kegagalan orangtuanya untuk menjadi lebih tangguh dan lebih bijak dalam menyikapi hidup. Banyak kok anak broken home yang berhasil dalam hidupnya. Selama kita bisa mendidiknya dengan baik, dia akan baik-baik saja. Terima kasih sudah pernah ada dalam hidupku. Aku belajar banyak dari kamu. Ini bukan terakhir kali kita akan bertemu. Suatu hari nanti, kita akan memahami ini semua sebagai sebuah pelajaran hidup yang berharga.


Komentar
Posting Komentar