Menyelami Dunia Inklusi dengan Neurodiversitas
Listen little child, there will come a day
When you will be able, able to say
Never mind the pain or the aggravation
You know there's a better way for you and me to be
- Spice Girls
Semua berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Akhirnya aku kembali bergelut di bidang Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, setelah beberapa tahun terakhir bergelut dengan dunia Kesehatan Mental. Menjadi guru anak-anak neurodivergent dengan Autism Spektrum Disorder tidaklah mudah. Butuh kesabaran ekstra dan pemahaman mendalam tentang teori, yang kadang terasa tidak sejalan dengan praktiknya. Butuh jiwa besar untuk menjalani peran tersebut. Beruntungnya aku sudah memahami konsep menjadi Ibu dan Pendidik dari pengalaman sebelumnya. Tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Tentu masih banyak trial dan error, masih perlu banyak belajar. Namun kesempatan ini sungguh tidak akan ku sia-siakan. Setiap hari, setiap saat, aku mendapatkan pengalaman baru dari murid kecilku, sang guru kehidupan. Setiap hari ada saja tingkahnya yang lucu dan menggemaskan, serta kadang membuatku mengelus dada.
Sebagai informasi, sekarang aku bekerja sebagai seorang guru anak dengan kebutuhan khusus atau biasa disebut anak ABK dengan kondisi neurodiversitas khususnya Autisme. Kelas kami merupakan kelas Inklusi, dimana anak-anak dengan kebutuhan khusus berbaur dengan anak-anak non-Autism di dalam kelas yang sama.
Apa itu Neurodiversitas?
Seseorang dengan neurodiversitas atau biasa disebut dengan neurodivergent adalah satu kondisi dimana individu memiliki fungsi otak, pola belajar dan pemrosesan informasi yang berbeda dengan standar "normal" (neurotipikal) masyarakat. Contoh individu yang mengalami kondisi neurodivergent adalah individu dengan Autisme, Disleksia, Attention Deficit Hyperactivity Disorder / ADHD, Tourette Syndrome, dan lain sebagainya.
Ada kejadian menarik yang membuatku belajar tentang pentingnya memahami kondisi neurodivergent seorang anak. Contohnya seperti kejadian kemarin saat salah satu dari guru pendamping / shadow teacher kami berhalangan hadir, saya dan Bu Kepala Sekolah (Kepsek) kelabakan menghadapi tingkah anak-anak istimewa di kelas. Keduanya; sebut saja Dev dan Fai; memiliki Autisme dan tantrum di saat yang bersamaan. Satu hal yang kupelajari adalah mereka terlihat saling men-trigger satu sama lain, bahkan setelah dipisahkan dan dipindahkan tempat duduk di sudut ruangan. Salah satu di antaranya (Dev) terlihat ketakutan karena reaksi cemas temannya adalah mencakar dan menggigit. Ia tampak ikut cemas saat Fai sedang tantrum dan menangis kencang. Dev sangat sensitif terhadap suara tangisan. Dev cemas saat melihat Fai menangis. Biasanya reaksi Dev adalah mencengkeram dan mengigit teman yang sedang menangis. Namun setelah diberi pengertian beberapa kali, akhirnya Dev berhasil menahan keinginan untuk menyerang temannya. Namun alih-alih, Ia juatru mencengkeram dan berusaha menggigit tanganku.
Menghadapi keduanya, Aku dan Bu Kepsek akhirnya memutuskan untuk melerai dan memisahkan keduanya. Melihat Dev diperhatikan oleh kedua orang guru, Fai merasa cemburu. Akhirnya dia tantrum sebagai sinyal protes. Sementara itu, anak-anak lain non-autism juga perlu diperhatikan. Akhirnya kami berbagi tugas; saya memegang Dev dan Fai secara bergantian dengan menjaga jarak aman di antara keduanya, sementara Bu Kepsek memegang anak-anak non-autism. Strategi ini cukup berhasil di awal, namun cukup melelahkan secara fisik dan mental. Baru kali ini saya melihat Bu Kepsek yang biasanya tenang dan berwibawa terlihat cukup kelabakan menghadapi kedua anak istimewa ini. Namun pada akhirnya kami berhasil mengatasi keadaan melalui kerjasama yang cukup solid.
Pertanyaan selanjutnya:
Apakah saya tahan menghadapi tantangan menangani anak-anak dengan Autisme? Jawabannya: Ya! Tentu tidak mudah menghadapi mereka, namun saya menganggap hal tersebut sebagai tantangan yang bisa dikendalikan. Satu hal yang menakjubkan dari pekerjaanku tersebut adalah, betapa hebatnya anak-anak ini dalam hal kemandirian, toleransi, dan kerjasama. Yang kumaksud adalah anak-anak dengan kondisi non-Autism yang ternyata mampu menerima temannya yang mengalami kondisi neurodivergent dengan tangan terbuka dan lapang dada. Didikan tegas namun penuh dedikasi dan kesabaran Bu Kepsek membuahkan hasil. Anak-anak kecil ini, dengan satu komando oleh salah satu di antara mereka langsung dengan sigap membantu Ibu Guru untuk menemani dan menenangkan temannya yang mengalami tantrum. Hal yang mereka lakukan cukup sederhana: hanya duduk tenang menemani temannya yang sedang menangis, sambil memegang tangannya. Setelah berhasil tenang, mereka mengajak anak ini untuk bermain bersama. Ajaibnya, hal ini cukup efektif untuk mereka. Aku percaya bahwa ketenangan batin dan kepolosan hati seseorang menular kepada orang-orang di dekatnya.
Penting bagi orang tua untuk mengajarkan toleransi terhadap perbedaan sejak dini. Mengajarkan seorang anak tentang pentingnya menghormati orang lain dengan kondisi yang berbeda dengan kita mengajarkan mereka untuk lebih memahami dan berempati terhadap perbedaan yang ada. Penerimaan oleh lingkungan sekitar dan konsistensi dan keberlanjutan pembelajaran menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan inklusi secara umum. Satu hal yang saat ini sulit untuk diterapkan, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Namun saat semua itu terjadi, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik dan lebih aman bagi kita semua; dengan menerima, memahami dan berempati. Kita bisa hidup lebih damai dan berdampingan satu sama lain. Belajar menghargai perbedaan melalui pendidikan Inklusi sejak dini.


Komentar
Posting Komentar