Ketika Masa Pendewasaan Itu Tiba


Bulan Ramadhan tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan tahun ini benar-benar menguji kesabaran dan memupuk pendewasaan diri kami sekeluarga. Papa sedang sakit. Sejak tiga bulan yang lalu Papa didiagnosis mengalami penyakit Kanker Kelenjar Getah Bening. Ada tiga buah benjolan di lehernya yang terdeteksi sebagai Kanker. Sejak saat itulah kami makin terbiasa bolak-balik ke Rumah Sakit. Kanker ini menggerogoti tubuhnya. Oleh sebab itu, tidak ada jalan lain, beliau harus berobat Chemotherapy. Saat aku menulis tulisan ini, aku baru pulang mengantar Papa menjalani terapi Rehabilitasi Medik ke Psikolog Klinis. Ya, beliau syok saat mendapatkan vonis yang diberikan dokter, sehingga harus di-back up mentalnya ke profesional kesehatan jiwa. Syukurlah sekarang kondisi Papa sudah mengalami kemajuan. Sejak menjalani Chemotherapy perdana, kondisi Papa makin lama makin stabil. Saat sesi Rehabilitasi Medik perdana, kondisi Papa masih terguncang. Namun di sesi pertemuan kedua hari ini, Papa menunjukkan banyak kemajuan. Hari ini Papa mulai bisa berjalan kaki sebentar sehingga tidak terlalu tergantung pada pemakaian kursi roda. Kondisi fisik Papa juga semakin bugar karena di-back up dengan asupan nutrisi yang baik dan seimbang. 

Mama rajin sekali memasakkan aneka sayuran bergizi dan buah-buahan. Asupan suplemen juga terus diberikan untuk menunjang sistem imun tubuh bekerja dengan baik. Aku cukup senang melihat kemajuan kondisi Papa saat ini. Sungguh berbeda sekali dengan masa dimana Papa baru terdeteksi Kanker beberapa bulan yang lalu. Kondisi rumah sangat chaos karena setiap orang masih syok dan belum dapat menerima kenyataan. Sekarang kami perlahan mulai menata diri dan membangun komunikasi yang baik dan asertif. Setiap orang di rumah ini mulai saling menyesuaikan diri dengan kondisi new normal

Pengobatan kanker adalah pengobatan marathon yang panjang dan membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang memadai baik untuk survivor maupun  caregivernya. Aku mulai melihat perubahan pola komunikasi yang semakin lama semakin baik yang ditunjukkan oleh kedua orang tuaku. Baik Mama maupun Papa mulai menurunkan egonya masing-masing agar proses pemulihan berjalan optimal. Kini aku mengakui bahwa menjadi seorang caregiver penyakit kronis itu tidaklah mudah. Papa mulai jujur memintaku untuk menemaninya terapi di Rumah Sakit. Bisa dibilang kini Rumah Sakit menjadi rumah kedua Papa. Dalam seminggu kami bisa menghabiskan 2-3 hari bolak-balik ke Rumah Sakit. Benar-benar melelahkan secara fisik, mental, dan finansial. Di minggu kedua aku sempat tumbang demam saat menemani Papa menjalani Chemotherapy selama enam jam lamanya. Tapi aku tidak mau menunjukkannya kepada mereka karena aku tidak tega melihat Mama dan Papa kelelahan dan tidak ditemani saat menjalani terapi. Aku menyadari saat ini adalah saat pendewasaanku dan saatnya aku berbakti kepada kedua orang tuaku. Aku harus bisa menjalani ini semua. Kami akan bisa melalui ini bersama-sama. Salah satu masa yang krusial bagi seorang anak adalah saat seorang anak harus menemani orangtuanya yang sedang sakit. Insya Allah aku akan bisa menjalani peranku sebagai seorang anak dengan baik. 

Sungguh hidup kami sedang banyak kejutannya. Kami berusaha untuk menjalaninya dengar tegar dan ikhlas. Ini semua adalah bukti bahwa Allah SWT masih menyayangi dan mengingat kami. Semoga semua penyakit yang kami alami, baik fisik maupun mental menjadi penggugur dosa-dosa kami. Terima kasih atas segala support yang telah teman-teman dan kerabat tunjukkan kepada kami sekeluarga. Bisa dibilang ini adalah titik terendah dalam hidupku sejauh ini. Tanpa dukungan dan bantuan dari teman-teman dan kerabat sekalian, mungkin kami akan sulit untuk melalui cobaan ini semua. Terima kasih atas doa dan support yang telah diberikan, orang-orang baik. Perjalanan pengobatan masih panjang, mohon doanya agar kami selalu dikuatkan. Aamiin Yaa Rabbal 'Alamin.


Komentar

Postingan Populer