Therapy Sessions Part 7 - Menemukan Kembali Tujuan Hidup

Baru kali ini aku pulang dari Terapi dengan perasaan kesal dan hampa. Ya, tadi aku "bertengkar" dengan mas Satria di ruang konseling. Aku merasa disepelekan olehnya, karena aku datang dalam keadaan bingung dan kosong. Aku tahu dia tidak bermaksud untuk menyepelekanku. Mungkin dia bingung dan sedikit kecewa denganku karena progressku yang lambat. Tapi aku tidak terima dia bersikap dingin dan tidak seperti biasanya. Mungkin dia lagi banyak pekerjaan yang menanti. Mungkin dia lagi bad mood. Mungkin dia habis berantem sama pacarnya. Mungkin.. mungkin.. dan segala kemungkinan lainnya. Ah, itu bukan urusanku. Seharusnya dia bersikap seperti biasanya. Aku yang sedang lelah mental karena tumpukan pekerjaan di rumah dan membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah malah jadi tambah bingung. 

Lalu tibalah kami pada topik itu; topik yang membuatku tidak dapat berkata-kata. Mas Satria kembali mempertanyakan tujuan hidupku karena Ia merasa ceritaku tidak terarah. Masalah yang kuhadapi nyata di depan mata, namun aku justru cerita ngalor ngidul, mungkin itu membuatnya jengah. Mas Satria memang orang yang tegas, namun biasanya dia hangat. Namun kali ini dia bersikap dingin padaku. Tahukah kalian apa yang membuatku marah? Dia menyebutku tidak konsisten! Sial! Tahukah kamu kalau saat ini masalah hidupku sedang menumpuk? Tahukah kamu kalau nasib kami sedang diujung tanduk? Tahukah kamu bahwa kondisi mentalku dan suamiku sedang tidak baik-baik saja? Sebal...

Aku tahu dia hanya ingin membimbingku untuk menemukan pencerahan. Dari A to Z yang sudah kuceritakan padanya, dia cuma bilang satu hal: "Sudah berapa lama kamu tidak berolahraga?" HAH?! Dia tahu Depresiku sedang kambuh. Dia mengetahui hal itu saat aku menceritakan aktivitasku selama dua minggu terakhir, yang menurutnya tidak konsisten. Dia cuma menghela napas sambil memalingkan wajahnya dariku sambil berkata, "Jangan berpikir macam-macam dan jauh ke depan dulu. Kembalikan dulu suasana hatimu seperti semula. Kamu tahu bagaimana caranya." Dia selalu begitu. Selalu mengatakan bahwa akulah yang mengetahui diriku sendiri.  Akulah yang mengendalikan hidupku. Aku jadi teringat sebuah puisi kegemaran mas Yuda dulu, Invictus oleh William Ernest Henley yang kira-kira bunyinya begini:

Out of the night that covers me,
      Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
      For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
      I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
      My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
      Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
      Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
      How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate,
      I am the captain of my soul.

Copyright Credit: William Ernest Henley, "Invictus" from Poems (London: Macmillan and Co., 1920): 83-84. Public domain. Source: Poems (Macmillan and Co, 1920)

Sebuah puisi tentang kekuatan pikiran dalam mengarungi badai kehidupan dan tetap dapat mengontrol dirinya dengan baik. Kali ini aku setuju dengannya. Aku memang sedang kehilangan arah dan tujuan hidup karena badai kehidupan yang sedang mendera. Aku sedang bingung menentukan arah hidupku pribadi dan keluargaku. Well, sebenarnya masalahnya tidak seberat itu sih. Tapi tetap saja kami sedang butuh untuk memperjuangkan sesuatu. Suamiku sedang berusaha untuk mencari pekerjaan baru setelah dia resign dari kantornya yang lama. Keuangan kami mulai menipis dan panggilan wawancara itu tidak juga berhasil ditembusnya. Kami dalam krisis keuangan. Mau tidak mau aku harus berusaha untuk membantunya mencari uang. Aku membuka bisnis kecil-kecilan di bidang Art & Craft di Kotagede. Sejauh ini aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri melalui usaha ini. Namun kebutuhan keuangan kami lebih dari itu. Situasi kejiwaan suamiku yang masih dalam fase Depresi membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan dan persyaratan wawancara kerja. Aku hanya berharap Ia segera bangkit dan dapat menemukan pekerjaan sesegera mungkin, mengingat kami masih memiliki tanggungan seorang anak kecil yang masih bersekolah.

Setiap kali aku mengingat hal ini aku kembali bertekad untuk segera menemukan kembali mojo-ku. Aku berharap segera kembali pulih dari fase Depresiku dan dapat membantu suamiku mencari sesuap nasi. Membuka bisnis Art & Craft terutama di bidang Rajutan sudah menjadi cita-citaku sejak 10 tahun yang lalu. Kegemaranku, jika tidak bisa dikatakan keranjingan merajut membuatku sangat ingin membuka toko rajutku sendiri suatu saat nanti. Dan kini cita-cita itu perlahan menemukan  bentuknya. Setidaknya, hal inilah yang dapat kulakukan untuk saat ini. Membantu suami mencari nafkah dengan mengerjakan sesuatu yang sudah menjadi passionmu sejak lama tentu menyenangkan. Sepertinya aku hanya sedang kehilangan minatku untuk sementara karena aku sedang berada dalam fase Depresi, dan semoga hal ini hanya bersifat sementara. 

Ya! Ini dia jawabannya. Toh yang namanya tujuan hidup pun boleh bersifat sementara. Kita boleh-boleh saja menentukan tujuan hidup jangka pendek sesuai kebutuhan. Enam bulan, setahun, dua tahun, atau tujuan hidup kita lima tahun ke depan kita tentukan saat ini. Mungkin itu yang dimaksud oleh Terapisku. Aku hanya sedang kehilangan mood untuk melakukan rutinitas sehari-hari, bukan kehilangan tujuan hidupku. Aku rasa sudah jelas bahwa tujuan dan prioritas hidupku adalah untuk menjaga kestabilan ekonomi dan kebahagiaan bagi keluarga kecilku saat ini. Hal yang diperlukan sekarang adalah menjaga konsistensi, sebab aku sudah menemukan aktivitas yang harus kulakukan sehari-hari. Dan sesekali tidak konsisten karena kehilangan semangat untuk seminggu hingga sebulan ke depan itu tidak apa-apa. Aku bukannya kehilangan tujuan hidup jangka panjang. Aku hanya perlu menumbuhkan kembali semangat hidup yang sempat hilang. Yuk, kita semangat lagi... it is okay not to feel okay sometimes, take your time and try to bounce back as soon as possible! 😃

Komentar

Postingan Populer