Therapy Sessions Part 6 - Fantasi yang Berkembang Menjadi Waham

Saya baru pulang dari melakukan Psikoterapi dengan mas Satria dan hendak menuliskan insight-insight yang saya dapat di ruang konseling. Tulisan ini saya buat hanya sebatas sharing pengalaman saja. Saya bukan Psikolog Klinis atau Psikoterapis, ini murni hanya bertujuan untuk sharing insight terapi saja.

Hari ini kami membicarakan tentang Yuda. Semoga kalian belum bosan membacanya. Menurut mas Satria, perasaanku ke Yuda bukanlah sesuatu yang nyata. Menurutnya itu hanyalah mekanisme Fantasi semata. Aku memang mencintai Yuda sejak lama. Namun Yuda tidak mencintaiku. Kemudian aku mengembangkan mekanisme fantasi sebagai bentuk pertahanan ego. Perasaanku yang dalam terhadap Yuda sudah berkembang menjadi Waham. Meskipun perasaan itu sudah lebih terkendali, namun Ia kerap muncul saat aku merasakan tekanan kehidupan atau stress. Membayangkannya membuatku merasa lebih baik. Sebenarnya jika itu terjadi pada fase stabil dan kondisiku normal, semua akan baik-baik saja. Namun lain halnya saat aku merasa stress, bayangan dan fantasi itu muncul kembali disertai dengan halusinasi. Aku membayangkan Yuda sebagai sosok lelaki idamanku yang bisa membantuku lepas dari segala permasalahanku. Aku bahkan membayangkannya sebagai sesosok Superhero yang bisa menolongku.

"Rasa itu tidak nyata, Mbak. Yuda yang ada di bayanganmu bukanlah Yuda yang sesungguhnya. Dia hanya ada dalam fantasimu." Ujar mas Satria.

"Ya, tapi aku merasa sangat dekat dengannya secara emosional." ujarku.

"Itu hanya khayalanmu saja. Yuda yang sesungguhnya tidak seperti itu. Kamu hanya berfantasi tentang Yuda yang sesuai dengan harapanmu. Itu adalah salah satu bentuk Ego Defense Mechanism berupa Fantasi." Lanjut mas Satria.

"Kalau begitu, bagaimana mungkin Ia bisa muncul dalam kasus-kasus Wahamku?" tanyaku kemudian.

"Semua suara itu tidak nyata. Suara-suara yang kau dengar di telingamu merupakan suara hatimu sendiri. Suara tersebut muncul sebagai bentuk Proyeksi harapanmu terhadap objek yang kamu inginkan." Lanjut mas Satria menjelaskan.

"Lalu apa yang harus kulakukan, Mas?" tanyaku putus asa.
"Aku mencintainya, Mas. Sangat." Lanjutku mengiba.

"Ikhlaskan saja. Semua sudah berlalu. Jangan sampai perasaanmu menghancurkan hidupmu saat ini dan di masa depan. Semua khayalanmu itu tidak nyata, kamu harus berusaha untuk melawannya. Itulah yang disebut sebagai Waham atau Delusi. Jika kamu tidak berusaha untuk melawannya, fantasimu akan berkembang menjadi waham." Ujarnya berusaha menjelaskan.


****

Tentu tidak semudah itu melepaskan kenangan masa lalu yang indah. Sulit sekali untuk melawan fantasi yang sudah berkembang selama bertahun-tahun. Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, bahwa sebenarnya aku sudah beranjak pulih. Namun kini Depresiku berkembang menjadi Bipolar Disorder dengan Gejala Psikotik. Moodku naik turun. Meski cenderung stabil, low moodku pada fase Depresi masih cukup mengganggu. Aku cukup beruntung berada di circle pertemanan yang mendukung upaya kepulihanku. Aku kini sudah dengan leluasa bergaul, tidak lagi mengurung diri di kamar seperti di masa awal aku terdiagnosis Depresi Klinis. Kini, meskipun sedang berada di fase Depresi aku sudah mulai sadar, sudah ada awareness atas perubahan suasana hatiku. Terapi yang kulakukan sudah masuk di tahun ketiga, sehingga aku sudah mulai mengenali gejala dan pemicu gejala / trigger yang kualami. 

Dulu aku kira semua ini adalah bentuk rasa cintaku ke Yuda. Ternyata ini hanya bagian dari gejala Bipolar yang kualami. Ternyata rasa cinta ini bisa lebih dikendalikan dengan obat-obatan Antipsikotik dan Terapi Kognitif yang rutin. Sungguh, keadaanku kini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Mengalami Bipolar Disorder menjadi bagian dari pembelajaran pengalaman hidup yang sangat berharga bagiku. Aku yang sekarang jadi lebih bisa memahami perasaan orang lain. Aku berusaha untuk mendukung kawan-kawanku yang sedang merasa terpuruk. Aku menawarkan bantuan dan mengulurkan tangan untuk menemani mereka Terapi jika memang tidak ada keluarga atau kerabat dekat yang beresedia menemani. Aku hanya ingin mereka tidak merasa sendirian dalam berjuang. Aku hanya ingin mengada untuk mereka sebagai kawan yang baik dan suportif. Dengan demikian, upaya pemulihan kondisi mental mereka menjadi lebih optimal.

Kini hal yang ingin kulakukan adalah menjadi support system bagi kawan-kawanku sesama penyintas Gangguan Mental. Aku ingin mendukung mereka berjuang meraih kepulihan. Untuk kalian yang berada diluar sana dan sedang berjuang untuk pulih dari Gangguan Mental yang kalian alami, tetap semangat ya. Kamu tidak berjuang sendirian. Mari berjuang bersama! 💜


Komentar

Postingan Populer