Perbedaan Konseling dan Psikoterapi serta Tujuan Melakukan Proses Psikoterapi

Apa itu Psikoterapi?

Istilah Psikoterapi berasal dari dua kata, yaitu "psiko" dan "terapi". "Psiko" artinya kejiwaan atau mental dan "terapi" adalah penyembuhan atau usada. Jadi, kalau dibahasa Indonesiakan Psikoterapi mungkin dapat disebut usada jiwa atau usada mental.

Definisi Psikoterapi dengan tepat memang sulit diberikan. Hanya saja secara umum dapat dikatakan bahwa: Psikoterapi atau usada jiwa/usada rasa/usada mental adalah proses formal interaksi antara dua pihak atau lebih. Yang satu adalah Profesional penolong dan yang lain adalah "Petolong" (orang yang ditolong) dengan catatan bahwa interaksi itu menuju pada perubahan atau penyembuhan. Perubahan itu dapat berupa perubahan rasa, pikir, perilaku, kebiasaan yang ditimbulkan dengan adanya tindakan profesional penolong dengan latar ilmu perilaku dan teknik-teknik usada yang dikembangkannya.

Apa Perbedaan dari Konseling dengan Psikoterapi?

Sebelum masuk ke tujuan seseorang melakukan proses Psikoterapi, mari ketahui lebih dulu perbedaan dari Proses Konseling dengan Proses Psikoterapi. Menurut Corsini (1989) dalam Subandi dkk (2002), Konseling dan Psikoterapi berbeda bukan secara kualitatif, melainkan secara kuantitatif. Menurut J.E. Prawitasari dalam Buku Psikoterapi, Pendekatan Konvensional dan Kontemporer (2002), suatu proses interaksi antara Profesional dan Kliennya disebut Konseling atau Psikoterapi hanyalah berbeda jumlah intervensi yang dilakukannya saja. Perbedaan nyata terlihat dari keaktifan Konselor atau Terapis. Dalam konseling, Konselor lebih aktif memberikan intervensi daripada Terapis yang lebih banyak mendengarkan. Konseling lebih sebagai pemecahan masalah yang disediakan oleh Konselor, sedangkan Psikoterapi lebaih sebagai proses koreksi pengalaman emosi. Akan tetapi, mungkin saja koreksi ini terjadi begitu masalah terpecahkan atau masalah terpecahkan dengan adanya koreksi pengalaman emosi tersebut.

Apa Tujuan dari Psikoterapi? 

Tujuan yang ingin dicapai dalam Psikoterapi biasanya meliputi beberapa aspek dalam kehidupan manusia sebagai berikut: 

1. Memperkuat motivasi untuk melakukan hal-hal yang benar. Tujuan ini biasanya dilakukan melalui terapi yang sifatnya direktif atau suportif. Persuasi dengan segala cara dari nasihat sederhana sampai pada hipnosis digunakan untuk menolong orang bertidak dengan cara yang tepat.

2. Mengurangi tekanan emosi melalui kesempatan untuk mengekspresikan perasaan yang mendalam. Fokus di sini maksudnya adalah katarsis. Inilah yang disebut mengalami bukan hanya membicarakan pengalaman emosi yang mendalam. Dengan mengulang pengalaman ini dan mengekspresikannya akan menimbulkan pengalaman baru.

3. Membantu Klien mengembangkan potensinya. Melalui hubungan dengan Terapis, Klien diharapkan dapat mengembangkan potensinya. Ia akan mampu melepaskan diri dari fiksasi yang dialaminya. Ataupun Ia akan menemukan bahwa dirinya mampu untuk berkembang ke arah yang lebih positif.

4. Mengubah kebiasaan. Terapi memberikan kesempatan untuk perubahan perilaku. Tugas terapeutik adalah menyiapkan situasi belajar baru yang dapat digunakan untuk mengganti kebiasaan-kebiasaan yang kurang adaptif. Pendekatan perilakuan sering digunakan untuk mencapai tujuan itu.

5. Mengubah struktur kognitif individu. Struktur kognitif menggambarkan idenya mengenai dirinya sendiri maupun dunia di sekitarnya. Masalah muncul biasanya karena terjadi kesenjangan antara struktur kognitif individu dengan kenyataan yang dihadapinya. Untuk itu struktur kognitif perlu diubah untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

6. Meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengambil keputusan dengan tepat. Tujuan ini hampir sama dengan tujuan konseling. Sering terjadi dalam Terapi pun isu tentang pengambilan keputusan dan pemecahan masalah akan pula muncul. Untuk itu langkah-langkah seperti dalam Konseling dapat dilakukan. Antara lain dapat dilakukan kombinasi antara kemampuan, ketrampilan yang dimiliki klien disesuaikan dengan minatnya untuk menentukan keputusan yang akan diambilnya.

7. Meningkatkan pengetahuan diri atau insight. Terapi biasanya menuntun individu untuk lebih mengerti akan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukannya. Ia juga akan mengerti mengapa ia melakukan suatu tindakan tertentu. Kesadaran dirinya ini penting sehingga Ia akan lebih rasional dalam menentukan langkah selanjutnya. Apa yang dulunya tidak disadarinya menjadi lebih disadarinya sehingga Ia tahu akan konflik-konfliknya dan dapat mengambil keputusan dengan lebih tepat.

8. Meningkatkan hubungan antarpribadi. Konflik yang dialami manusia biasanya tidak hanya konflik intrapersonal tetapi juga interpersonal. Manusia sejak lahir sampai mati membutuhkan orang lain, sehingga Ia akan banyak tergantung dengan orang-orang penting dalam hidupnya. Dalam Terapi individu dapat berlatih kembali untuk meningkatkan hubungannya dengan orang lain sehingga Ia akan dapat hidup lebih sejahtera. Ia mampu berhubungan lebih efektif dengan orang lain. Terapi kelompok memberikan kesempatan bagi individu untuk meningkatkan hubungan antarpribadi ini.

9. Mengubah lingkungan sosial individu. Hal ini dilakukan terutama untuk Terapi bagi anak-anak. Anak yang bermasalah biasanya hidup dalam lingkungan yang kurang sehat. Untuk itu Terapi ditujukan untuk orang tua dan lingkungan sosial dimana anak berada. Terapi yang berorientasi pada sistem banyak digunakan untuk memperbaiki lingkungan sosial individu.

10. Mengubah proses somatik supaya mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kesadaran tubuh. Latihan-latihan fisik dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran individu. Latihan relaksasi misalnya dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan. Latihan yoga, senam, maupun menari dapat pula digunakan untuk mengendalikan ketegangan tubuh.

11. Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran, kontrol, dan kreativitas diri. Mengartikan mimpi, fantasi perlu untuk mengerti akan apa yang dialaminya. Demikian juga meditasi dapat mempertajam penginderaan individu.

Tujuan-tujuan Terapi di atas biasanya saling mengkait satu sama lainnya. Mereka tidak berdiri sendiri. Misalnya latihan tubuh dapat dikombinasikan dengan latihan meditasi. Mengembangkan potensi dapat dikombinasikan dengan pemecahan masalah.


Sumber: MA Subandi dkk. Psikoterapi Pendekatan Konvensional dan Kontemporer. Pustaka Pelajar. Yogyakarta: 2002  

Komentar

Postingan Populer