Therapy Sessions - Part 5 (End)
Terkadang kita merasa berjodoh dengan seseorang seolah semesta memang sudah mengatur pertemuan tersebut. Aku datang ke mas Satria untuk Konseling dengan kondisi sedih dan kesepian. Bukan karena belum bertemu pasangan hidup, namun dalam kondisi baru ditinggal sahabat pindah ke tempat nun jauh disana. Saya punya seorang sahabat. Wawan namanya. Ia adalah seseorang yang kukenal sejak kami duduk di bangku Sekolah Dasar di Jakarta. Orangnya lucu dan iseng. Dia adalah seseorang yang bersedia menghiburku dan menghidupkan suasana di mana pun Ia berada. Suatu ketika di pertengahan tahun lalu Ia berkata ingin mencoba peruntungannya di luar kota. Di Bali -lah kini Ia berlabuh.
"Bagaimana rasanya setelah dari Solo, Mbak?" Ujar Mas Satria untuk membuka pembicaraan.
"Kamu benar-benar melakukan rencanamu untuk nyekar?" Tanyanya kemudian.
Aku ingat hanya berselang beberapa minggu selepas kepindahan Wawan ke Bali, aku lalu berkonsultasi dengan Mas Satria untuk pertama kalinya. Saat itu aku punya dua concern; mengikhlaskan kematian Yuda, dan kepindahan Wawan ke luar kota. Bagi sebagian orang yang tidak merasakan sendiri betapa beratnya move on bagi seseorang dengan gangguan Depresi Klinis, kemungkinan akan menganggap ceritaku basa-basi dan cari perhatian saja. Pada intinya, aku butuh teman. Ketika kamu sudah menemukan jodohmu atau pasangan hidupmu, orang selanjutnya yang kau butuhkan adalah sahabat yang memahami. Berkaca dari pengalamanku pribadi, jangan memutus tali pertemanan dengan siapapun, terutama orang-orang yang kamu rasa sefrekuensi atau sahabat se-chemistry. Mengutip kata-kata orang tuaku, kalau bisa tetap produktif, tetap bergaul lah selepas menikah. Jangan tutup dirimu demi menjaga perasaan pasangan. Temukanlah pasangan yang mau menerima hubunganmu dengan sahabat-sahabatmu.
Apakah kalian pernah dengar istilah kesepian dalam pernikahan? Hal ini biasa terjadi pada perempuan yang sudah berumah tangga namun memutuskan untuk berada di rumah saja. Aku pernah membaca sebuah jurnal Psikologi yang menyebutkan bahwa Ibu Rumah Tangga lebih rentan terkena Depresi ketimbang Ibu yang bekerja di luar rumah. Pada akhirnya kusadari, hal itulah yang kurasakan.
KESEPIAN.
Hal ini akhirnya terkuak di pertemuan kesekianku dengan Mas Satria. Dia menuliskan kata ini di selembar kertas HVS. Setelah sebelumnya mengujiku dengan sebuah tes inventori.
"Mbak, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Mas Satria dengan ramah.
"Aku nggak tau... rasanya numb." sahutku sekenanya.
"Aku nggak tau... rasanya numb." sahutku sekenanya.
"Okay..." lanjutnya dengan sabar.
"Inikah yang kamu rasakan, Mbak?" tebaknya dengan menunjukkan kata tersebut di atas kertas.
"Kamu perlu jujur dengan dirimu sendiri. Tidak apa-apa kalau sesekali kita merasa tidak baik-baik saja." Ucapnya kemudian.
"Aku nggak tahu... aku nggak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Rasanya nyesek." Lanjutku.
"Aku kehilangan semangat hidup sejak Yuda meninggal." Jawabku.
"Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" Tanyanya kemudian.
"Aku ingin nyekar ke Solo minggu depan. Sudah setahun aku tidak ta'ziyah ke makam Yuda." Sahutku.
"Oke, datang lagi kesini selepas dari Solo. Aku ingin mendengar ceritamu." Tutup mas Satria untuk menyudahi sesi kali ini.
***
Akhirnya aku benar-benar melakukannya. Aku datang seorang diri ke Solo demi ke makam Yuda. Beberapa hari kemudian ku benar-benar datang ke Rumah Sakit untuk berkonsultasi.
"Bagaimana rasanya setelah dari Solo, Mbak?" Ujar Mas Satria untuk membuka pembicaraan.
"Kamu benar-benar melakukan rencanamu untuk nyekar?" Tanyanya kemudian.
"Ya, Mas. Aku benar-benar ke sana. Tapi..." Aku tidak dapat melanjutkan kalimatku.
"Tapi apa?" Kejar Mas Satria kemudian.
"Tapi apa?" Kejar Mas Satria kemudian.
"Tapi aku tidak merasakan apapun. Rasanya hambar... tidak senang, tidak lega, hambar saja. Aku senang dalam perjalananku menuju Solo, namun Aku cuma melamun di depan pusaranya. Menurutmu kenapa hal itu bisa terjadi?" tanyaku balik mengejar.
"Kamu tidak merasa senang? Tidak merasa lega setelah "bertemu" Yuda?" Ucapnya.
"Tidak. Rasanya seperti orang linglung. Aku bingung untuk apa pergi kesana." Jawabku.
Mas Satria terdiam sejenak. Ia memperhatikan ekspresi wajahku. Sedikit mengacak-acak rambutnya sebelum kemudian menjawab.
"Aku tahu kenapa..." Jawabnya untuk memecah keheningan.
"Kamu menjadikan Yuda sebagai tujuan hidup karena kamu tidak menemukan tujuan hidupmu!" Ujarnya sambil menatapku tajam. "Benar begitu kan?" Lanjutnya tanpa meminta persetujuanku.
Aku terkesiap. Tidak menyangka Ia akan memberi statement seperti itu.
Aku kehilangan kata-kata untuk membalas pertanyaannya.
Aku kehilangan kata-kata untuk membalas pertanyaannya.
Sepertinya apa yang Ia katakan ada benarnya! Mas Satria seperti membangunkan kesadaranku sebagaimana Sang Pawang membangunkan kesadaran harimau yang sedang tidur. Dia benar! Bukan Yuda yang membuatku Depresi. Tapi diriku sendiri. Aku mempergunakan sosok Yuda yang sudah tiada karena tahu dia tidak akan bisa protes! The truth is, I cannot find my purpose in life. Not until I met him.
Mas Satria tersenyum penuh kemenangan. Ia sangat yakin dengan jawabannya.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Take your time. Kita masih punya waktu 30 menit. Namun bisa diakhiri sekarang jika kamu mau. Sekarang Mbak boleh pulang." Ucapnya kemudian.
Aku pulang dengan perasaan kesal. Bagaimana mungkin Psikolog yang satu ini bisa menebak jalan pikiran yang bahkan tidak kusadari sendiri. Tapi ya sudah. Toh aku percaya padanya. He's a good one I admit.
***
Aku terus merenungi kata-kata Mas Satria. Aku pikir selama ini aku secinta itu pada Yuda! Ternyata akulah yang belum menemukan purpose-ku sendiri. Itulah gunanya aku ke Psikolog, batinku. Semua upayaku untuk sembuh terbayar sudah. Akhirnya aku tahu apa yang menjadi inti masalahnya.
Sesuai perjanjian Aku kembali datang ke Sesi Konseling berikutnya. Kali ini Aku membawa sebuah tas besar penuh barang-barang milik Yuda. Kemudian aku menyerahkan isi tas tersebut pada Mas Satria.
"Apa ini, Mbak?" Tanyanya saat itu.
"Tas ini berisi barang-barang milik Yuda yang selama ini kusimpan. Ada syal, mug, tempat pensil dan beberapa buku karangan Yuda. Mulai detik ini aku akan melepaskannya pergi. Aku mohon Mas Satria bersedia menyimpannya untukku." Jawabku atas pertanyaannya.
"Okay... kamu sudah ikhlas melepas barang-barang ini semua? Berhubung barang-barang ini semua sekarang menjadi hak milikku. Bagaimana jika Aku mendonasikan barang-barang ini ke Panti Asuhan?" Ucapnya.
"Okay... kamu sudah ikhlas melepas barang-barang ini semua? Berhubung barang-barang ini semua sekarang menjadi hak milikku. Bagaimana jika Aku mendonasikan barang-barang ini ke Panti Asuhan?" Ucapnya.
"Terserah Mas, Aku sudah ikhlas..." jawabku penuh keyakinan.
"Baik, ingat Mbak. Ini adalah terakhir kalinya kamu bisa memegang barang-barang milik Yuda. Setelah ini barang-barang ini tidak akan kembali kepadamu. Apa Mbak sudah siap?" Tanyanya berhati-hati.
"Ya, Aku sudah yakin." Jawabku mantap.
It's time to let go... batinku. Tidak pernah sebelumnya aku merasa semantap ini untuk move on dari seseorang yang kucintai. Memang sudah saatnya untuk melepaskan...
Selepas sesi tersebut, aku tidak lagi merasakan rasa menggebu-gebu kepada Yuda. Semua sudah netral. Aku tidak melupakan. Hanya berusaha mengikhlaskan. You're forgiven Mas Yuda, not forgotten.
Thank you so much Mas Satria. You're a good one and I cannot thank you enough for feeling relieved.
Thank you. 💜

Komentar
Posting Komentar