Therapy Sessions - Part 4
Aku sudah mulai lelah dengan segala upaya demi memperbaiki kondisi Moodku yang naik turun. Jujur, aku sudah lelah. Bolak-balik, gonta-ganti Terapis membuatku bosan. Tiada seorang Terapis pun yang akhirnya kupercaya. Mereka semua baik. Tapi aku kurang telaten mungkin. Aku malas mengerjakan Peer dari mereka. Yang nyuruh meditasi lah, yang nyuruh ngedate lah, nyuruh bolak-balik nyekar. Aku lelah.
Aku sempat off tidak Konseling Psikoterapi dengan Psikolog manapun selama lebih dari enam bulan. Aku tahu itu kurang baik. Seharusnya jika kusadar dengan kondisi kesehatan mentalku, aku sebaiknya konseling minimal sebulan sekali. Eh, tapi aku punya alasan lain. Sejak beberapa kali merasa kurang cocok dengan beberapa Terapis, aku melihat sebuah iklan Biro Konseling di Instagram. Mereka menawarkan kelompok dukungan Psikososial bersama Konselor yang juga sebaya. I ended up joining this therapy group for over a year now. Aku merasa cocok. Kami mengobrol dalam grup kecil seminggu sekali dalam sebulan keanggotaan. Aku merasa cukup nyaman. Bahkan aku sempat berpikir untuk mengganti Konseling dengan Psikolog menggunakan Kelompok Dukungan Sosial ini.
Kadang kala, kita sebagai penyintas Depresi dan gangguan kesehatan mental lain hanya butuh teman untuk berbagi. Merasa punya teman yang ikhlas mendukung dan mendengarkan, berbagi cerita dengan sesama penyintas itu menyenangkan. Hingga saat saya menulis cerita ini, saya masih aktif tergabung di kelompok dukungan sosial ini. Tapi saya tidak akan menjelaskan secara detil nanti dikira promosi. Tapi saya bertemu banyak orang dan menjalin pertemanan dengan orang-orang baru, termasuk dengan Konselornya. I am happy with this platform.
***
Apakah saya lupa bercerita bahwa saya rutin minum obat Anti-Depressant? Ya, meski tidak ke Psikolog dalam jangka waktu lama, saya tetap rutin ke Psikiater dan minum obat yang dianjurkan. Sampai di satu titik saya tiba-tiba menyadari sesuatu; kenapa saya tidak mencoba Konseling dengan Psikolog Klinis di Rumah Sakit tempat saya Terapi dengan Psikiater? Sepertinya layak dicoba! Tentunya saya juga akan mendapatkan keuntungan data saya terintegrasi di dalam rekam medis Rumah Sakit. Isn't that a good and mindful idea?! Jadilah pada suatu tengah tahun di tahun lalu, saya mencoba melakukannya.
Suatu hari selepas saya berobat ke Psikiater, saya iseng daftar konseling ke Psikolog Klinis di Rumah Sakit tersebut (Rumah Sakit yang sama tempat saya dirawat inap dulu). Psikolognya ada! Available! Kebetulan Beliau juga masih punya slot 1 pasien lagi di hari itu. FYI, kebanyakan Psikolog Klinis (mungkin yang masih baru praktik beberapa tahun) hanya menerima maksimal 3 pasien perhari. Kenapa bisa demikian? Karena Konseling dengan metode Psikoterapi cukup melelahkan. Bahkan untuk Psikolognya sendiri. Mereka harus memusatkan perhatian secara penuh dan berempati penuh dengan pasien-pasiennya. Bayangkan jika satu pasien membutuhkan waktu konseling selama 60-90 menit. Tentu melelahkan berbincang dengan perhatian penuh selama 3 x 60-90 menit perhari. Untuk itulah secara Kode Etik, seorang Psikolog perlu membatasi jumlah pasien perhari.
Mas Satria namanya. Ia baru praktik di Rumah Sakit tersebut selama tiga bulan lamanya. Masih muda dan sangat bersemangat. Usianya kira-kira 8-9 tahun di bawahku. Single, ganteng, dan sangat berempati. Aku mudah saja merasa cocok dengan gaya Terapinya. Ia memposisikan diri sebagai teman bercerita yang empatik. Seperti biasa, aku langsung bercerita tentang hubunganku dengan mas Yuda. Di pertemuan pertama langsung to the point saja. Aku ingat wajahnya kebingungan bahkan Ia bingung harus memanggilku dengan sebutan apa. Kenalan juga belum, sudah nyerocos aja nih cewek! Mungkin begitu batinnya. :)
Aku ingat tatapannya yang menghujam jantungku tiap kali aku menyebut nama itu. Cowok ini tipikalnya mengejarmu untuk berkata sejujurnya. Udah kayak Psikolog Forensik pokoknya. Nyaliku agak ciut saat Ia menatapku tajam. Asal kamu tahu Mas, aku ini orangnya jujur banget loh. Bahkan aku nulis cerita ini pun dengan sejujurnya. Hihihi.
Begitulah, aku merasa plong namun kelelahan secara emosional di pertemuan pertamaku dengan Mas Satria. Tapi aku senang, orang ini sangat berbakat menginvestigasi. Mengingat jam terbangnya yang belum seberapa, he's very talented as a new therapist. Namun ada satu hal yang membuatku ter-flashback.
Auranya mirip Yuda. Caranya berbicara, kadang agak sedikit sombong dan merendahkan lawan bicara, tapi sangat peka dengan perasaan orang lain. Aku serasa bernostalgia saat Konseling dengannya.
Selebihnya, mas Satria melakukan tugasnya dengan baik. Kali ini, aku mempercayainya.
Awal perjanjiannya, kami akan melakukan pertemuan rutin seminggu sekali sebanyak 4 pertemuan. Dengan topik mengikhlaskan kepergian mas Yuda. Selepas pertemuan pertama, pada pertemuan selanjutnya Ia mengajakku melakukan Terapi Kursi Kosong, Salah satu cabang dari terapi Psikologi Gestalt. Caranya cukup mudah. Pasien diminta untuk duduk berhadapan dengan sebuah kursi kosong kemudian berbicara dengannya. Sang Terapis memposisikan diri sebagai instruktur dan observer. Perlahan pasien menempatkan diri sebagai kedua belah pihak. Duduk bergantian dengan dua peran berbeda. Kesan pertamaku? It didn't work. Aku tidak berhasil mengeluarkan emosi yang seharusnya dirilis, malah pusing sendiri mau ngomong apa. Hahaha. Untuk kesekian kalinya, Psikoterapinya tidak berhasil. Tapi kali ini aku tidak menyerah. I have my faith in this young therapist. I believe he was trying his best avoiding me into Depression relapse. And he did it.
... bersambung

Komentar
Posting Komentar