Therapy Sessions - Part 3

Tahukah kamu apa saran Mbak Shinta padaku? Beliau menyuruhku menulis surat di selembar kertas. Surat Cinta untuk Mas Yuda. Kemudian aku diminta membacanya di depan makam mas Yuda. Whew! Sungguh saran yang anti-mainstream! Tapi toh akhirnya kulakukan juga. 

Minggu berikutnya aku kembali datang ke Puskesmas. Melaporkan apa yang kurasakan seminggu terakhir. Tentang perjalananku ke Solo untuk nyekar dan sowan ke keluarga mas Yuda. Apakah aku diterima dengan baik? Ya. Keluarga mas Yuda sangat baik dan pengertian. Aku sedikit merasa terhibur.

Mungkin ini terdengar aneh. Seharusnya aku lah yang menghibur keluarga mas Yuda. Mereka pasti merasa sangat kehilangan. Namun kenyataannya, justru Ibunya yang menghiburku. Beliau memelukku di depan makam mas Yuda sambil berbisik agar aku segera melepaskan mas Yuda. 

"Biarkan dia tenang di alam sana, Mbak." demikian Beliau berucap. Aku tentu menaruh respek mendalam pada Ibunya. Serta Adiknya. Kedatanganku bukan untuk menguak luka, namun untuk memberi penghiburan.

"Mereka sangat baik kepadaku, Mbak..." Ucapku di pertemuan kali ini.
"Namun entah kenapa ada rasa bersalah menyeruak di hatiku." lanjutku.
"Kamu merasa bersalah? Kenapa?" Selidik mbak Shinta.
"Aku tidak sampai hati melibatkan mas Yuda dan keluarganya dalam kasus Rumah Tanggaku. Suamiku begitu benci dan dendam padanya sampai akhirnya perceraian terjadi. Aku tidak sampai hati jika sampai Ibunya tahu mengenai hal ini." Ucapku sambil terisak.
"Kalau begitu lupakan. Lupakan Yuda dan mulai lembaran baru dengan siapapun yang akhirnya menjadi jodohmu kelak. Ingat mbak, anakmu membutuhkan kasih sayang Ibunya. Kamu harus sembuh! Demi anakmu..." Ucap mbak Shinta dengan tegas.
"Aku belum bisa, Mbak. Belum sekarang."

"Mau mencoba Psikoterapi? Silakan berbaring di tempat tidur yang telah disediakan," Ucap mbak Shinta untuk memutus kecanggungan.
Akupun nurut saja dengan perintahnya. Lalu aku berbaring.

"Sekarang pejamkan matamu dan dengarkan instruksiku." Ucap mbak Shinta untuk memulai terapi.
Ia kemudian menyetel sebuah lagu instrumental yang lembut dan menenangkan.

"Bayangkan dirimu sedang berada di sebuah bukit yang tenang. Di sana ada sebuah pintu. Kamu perlahan mendekati dan membuka pintunya. Di sana, kamu menemukan sosok Yuda. Sekarang, katakan apapun yang ingin Kamu katakan padanya.
Aku berusaha memahami instruksinya. Berimajinasi bertemu dengan sosoknya. Tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipiku.

Sedih. Hanya itu yang kuingat dari sesi terapi tersebut. Segala jenis terapi psikologis yang kujalani pada akhirnya berusaha membuatku mengikhlaskan kepergian Yuda. Dan itu berat. Aku memeluk Yuda dengan erat sebelum sosoknya akhirnya menghilang dan melayang ke angkasa. Sakit. Saking sedihnya hatiku, rasanya mirip dengan orang sakit hati. Orang patah hati. Hanya rasa sakit yang kuingat. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk ganti konseling ke Psikolog lain. Aku merasa ini tak akan berhasil. It didn't work. Hanya rasa sakit di hati tanpa berhasil mengikhlaskan kepergiannya.


                                                                                ***


Pada sesi Konseling di tempat lain bersama Psikolog yang berbeda, aku berkenalan dengan terapi Mindfulness. Kali ini Terapisnya seorang laki-laki. Perawakannya yang tinggi besar membuatku segan. Meskipun begitu, hati dan suaranya amat lembut didengar. Ia menjelaskan sedikit tentang terapi Mindfulness yang akan dijalani. Singkatnya, Ia ingin mengajariku tentang mengada di saat ini, dan di tempat ini. Latihan kesadaran yang berupa meditasi singkat. Namun ada satu hal yang kuingat. Saat itu pandemi sedang marak. Pelayanan Psikologis pun tidak dapat dilakukan secara sempurna. Kami duduk berhadapan dengan jarak yang lumayan jauh, sekitar 2-3 meter. Membuatku merasa agak terasing karena tidak dapat berinteraksi dengan intimate. Mas Vito namanya. Ia sangat halus dan sabar. Namun entah kenapa, aku merasa agak kurang sreg sejak pertemuan pertama. Ia mengajariku mengulangi beberapa gerakan yang disertai dengan teknik pernapasan. "Lakukan latihan ini setiap hari pagi dan petang selama dua minggu." Ucapnya. 

Apa? Aku harus bolak-balik meditasi setiap hari? Selama dua minggu? Batinku saat itu. Aku yang pemalas ini diberi peer mengulangi gerakan tertentu setiap hari? Huft.
Tidak ada lagi yang kuingat mengenai Konseling bersama mas Vito selama beberapa minggu ke depannya. Akupun menyerah dengan cepat. Hanya ada satu hal yang menurutku berharga saat itu. Sebuah nasihat darinya.

Sebelum kalian bertanya-tanya, aku dan suami memang memutuskan untuk rujuk menikah kembali for good setelah dua tahun berpisah. Untuk itu, menurut mas Psikolog, aku perlu menghangatkan kembali hubungan yang kembali terjalin. 

"Mas, bagaimana caranya agar hubunganku dengan suami bisa menghangat lagi seperti dulu sebelum kami berpisah?" Tanyaku suatu ketika.
"Cobalah menghabiskan waktu bersama, mbak. Quality time bersama suami." Demikian sarannya saat itu.
"Maksud Mas pacaran lagi, gitu?" selidikku kemudian.
"Yaaaa... bisa dibilang begitu." Imbuhnya lagi.

Lucu ya, kami yang pernah menikah selama sepuluh tahun ini disuruh pacaran lagi sama Psikolog. Kayak anak Abege, Hihihi. 

"Mbak perlu memperbaiki hubungan Mbak dengan suami." Ucapnya saat itu. 
"Bagaimana caranya, Mas?" tanyaku lugu.
"Coba nge-date mbak, kencan berdua suami." Demikian sarannya.
"Menghabiskan waktu berdua saja bisa merekatkan kembali hubungan yang redup. Mungkin candle light dinner berdua, bepergian bersama, atau melakukan quality time lain bersama suami." Lanjutnya.

Did it work? No.

Suamiku bukan tipe suami romantis yang menghujanimu dengan hadiah maupun ajakan untuk Candle Light Dinner di Restoran. Dia tipe anak rumahan yang males diajak kemana-mana. Seandainya saja ku bisa masak beragam masakan sehingga kami bisa Candle Light Dinner saja di rumah on Valentine's Day. Huft. Aku mulai ingin menyerah dengan segala Psikoterapi yang diberikan. Berkali-kali merasa stuck dan gagal dalam Terapi. Lelah, tapi aku ingin sembuh.

Hingga akhirnya ku bertemu dia...


...bersambung.


Komentar

Postingan Populer