Therapy Sessions - PART 2

Rasanya aneh saat mengetahui masih ada orang di luar sana yang belum memahami tentang gangguan kejiwaan. Apakah mereka malu karena terlihat berbeda? Apa salahnya berobat ke Psikolog atau Psikiater. Mereka sama-sama beritikad baik untuk memperbaiki kondisimu. Mereka tidak akan sembarangan menjebloskanmu ke Rumah Sakit Jiwa. Namun apa salahnya jika kondisimu memang mengharuskan demikian? Aku pernah masuk Rumah Sakit Jiwa, yang ternyata tidak semenakutkan seperti yang kau bayangkan! Awalnya rasanya memang aneh. Agak sedikit tidak menyenangkan saat seorang perawat menganggapmu tidak waras dan berteriak memaksamu untuk minum obat. Tapi toh lama-kelamaan saya terbiasa. Mereka semua beritikad baik. Saya-nya saja yang ketakutan berlebihan. 


Saat itu adalah kali pertama ku bertemu Psikiater. To be honest, I couldn’t say a word. I lost my mind and losing my words. Ditanya apa-apa saya malah nge-blank ketakutan. Paranoia, is it?

“Halo mbak, saya dengar kamu suka merajut ya? Masih sering merajut?” Ucap sang Psikiater untuk membuka percakapan.

Saya hanya menatapnya dengan rasa curiga. Siapa dia? Saya tidak bisa mengenalinya. 

“Siapa kamu?” tanyaku curiga.

“Saya Doktermu di sini.” Jawabnya kemudian.


Selanjutnya saya tidak ingat. Namun saya ingat dia mencatat sesuatu di atas kertas.


Tidak banyak yang dapat kuingat dari pengalamanku rawat inap di Rumah Sakit Jiwa. Sebagian besar hanya berupa blurred memory yang susah ditangkap. Aku ingat aku melihat orang-orang berlarian di lapangan tengah Rumah Sakit jam setengah dua belas malam. Aku ingat pasien di seberang ruanganku mengajakku bermain tembak-tembakan seperti anak kecil bermain. Aku ingat seorang di antaranya memiliki waham kebesaran dan dia berusaha mengirimiku doa-doa yang ganjil terucap. Aku ingat seorang wanita paruh baya bolak-balik mengajakku berkenalan, namun Ia melakukannya lebih dari lima kali. Tidak ada yang waras. Termasuk saya. Saat itu saya merasakan kecurigaan pada setiap orang yang mendekat. Waham curiga. Tapi Sang Psikiater tidak melabeliku sebagai penyintas Schizophrenia. Lebih ke Depresi dengan episode Psikotik. Saya dirawat selama dua minggu. Selebihnya berobat jalan hingga saat ini.


Sekarang saya merasa baik-baik saja. 


Selepas dua minggu yang berat itu, saya ganti berobat ke Psikolog Klinis. Kali ini ku berobat ke Puskesmas. Perceraian membuatku bangkrut. Kami hidup pas-pasan. Ku mengandalkan Puskesmas demi kewarasan lahir batin. Cukup dengan tujuh ribu rupiah saja, ku bisa konseling dengan seorang Psikolog muda yang mendengarkan dengan sepenuh hati. Tampaknya tidak banyak yang tahu tentang kemudahan akses Konselor Psikologi di Puskesmas. Sering kali saya hanya seorang diri di sana. Tidak ada teman mengantre. Bebas rasanya. Bebas ngedumel, bebas menangis, tapi nggak sampai teriak-teriak kok, I am chilled already.


Mbak Shinta, Psikologku saat itu, bertanya sekilas tentang apa yang kurasakan. Aku bilang aku tidak apa-apa. Hanya merasa sedih berkepanjangan. Menangisi kepergian seorang laki-laki yang kucintai. 


“Ada yang bisa saya bantu?” Ucap Sang Psikolog untuk mengawali pembicaraan.

Tangisku pun tumpah. Aku bercerita panjang lebar tentang kegalauan hatiku.

“Pasti sedih ya, kehilangan seseorang yang kita cintai yang pergi untuk selamanya.” Demikian Beliau menanggapi pada saat itu.

“Pasti Ia sangat dekat di hatimu…” Beliau mencoba berempati.

Saya tidak dapat berkata apapun lagi.

“Kamu benar-benar mencintainya?” tanyanya kemudian.

“Ya, mbak… Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku. Aku hanya merasa sangat kehilangan.”

“Wajar kalau kamu merasa begitu. Lalu upaya apa yang kamu lakukan untuk mengurangi rasa sedihmu? Adakah satu hal yang ingin dilakukan?” Ucap mbak Shinta.

“Ya, ada. Aku hanya ingin diberikan izin untuk nyekar ke makamnya secara rutin. Serta bertemu keluarganya.” Lanjutku.

“Lakukan saja. Kita coba sekali ini lalu datang kembali minggu depan ya. Kita lihat hasilnya.” Tutup mbak Shinta untuk mengakhiri sesi kali ini.



... bersambung.

Komentar

Postingan Populer