Therapy Sessions - PART 1
Saya masih ingat saat pertama kali ke-trigger Depresi. Saat itu awal tahun 2018.
Kebiasaan buruk saya yang terlalu kecanduan sosmed membuatku kena batunya
sendiri. Keseringan buka sosmed dan ngepoin status orang lah yang menjadi
trigger-ku. Eh tapi gaes, jangan meremehkan rasa baper (bawa perasaan-red) ya.
Bisa jadi hal itu merupakan sensitivitas kita terhadap sesuatu. Seperti saya
yang suatu ketika begitu mengkhawatirkan kondisi kesehatan seorang teman yang
berujung saya Depresi ketika mengetahui beliau akhirnya meninggal. Bisa jadi itu
firasat, bisa juga tidak.
Bisa jadi pada saat itu saya sedang galau dengan
hidup dan perasaanku sendiri. Aku bingung mesti bertanya pada siapa. Akhirnya
aku mencari teman melalui sosial media. Aku sadar sebagai statusku sebagai
seorang istri tidak boleh sembarangan berkenalan dengan pria lain. Tapi dia
berbeda, dia adalah temanku semasa kuliah dulu. Seorang dokter lulusan Belanda.
Aku baper. Kelewat baper malah. Dia ganteng, smart dan humble. Singkatnya, aku
jatuh cinta. . Sesaat setelah kutahu tentang berita kematiannya, duniaku berubah
abu-abu. Hingga suatu pagi ku terbangun dengan perasaan melayang. Ya, literally
melayang. Sesaat aku merasa jiwaku telah meninggalkan dunia fana. Inikah rasanya
menjumpai kematian? Kepalaku pusing, namun tubuhku terasa ringan, sangat ringan.
Aroma khas bunga-bungaan tercium di sekeliling ruangan. Bau kemenyan. Hey, ini
bukan cerita mistis ya, tenang saja. Kamu tidak akan menjumpai cerita yang
menegangkan kok. Santai saja. Tapi kuingatkan sekali lagi, ini cerita
berdasarkan kenyataan. True story.
Tiga minggu sejak aku mengalami pengalaman
aneh itu, akhirnya aku ke Dokter. Seorang Dokter Umum langgananku. Sejatinya
beliau seorang ahli Imunologi, tapi malah saya bebani dengan pertanyaan “ Saya
kenapa, Dok?” “Anda nggak kenapa-kenapa, Bu.. hanya Depresi ringan. Sebaiknya
Ibu coba datang ke Psikiater.” “Sementara saya bantu dengan Aromatherapy ya, Bu…
semoga membantu.” Sesaat setelahnya ku merasa agak membaik. Namun saat itu saya
belum berobat ke Psikiater. Alasannya? Suami dan keluarganya tidak mengijinkan.
Mungkin mereka malu punya menantu mengalami gangguan kejiwaan.
Long story short,
kalian tahu keadaanku saat akhirnya berobat ke Psikolog Klinis? (Saat itu belum
ke Psikiater). Keadaanku sungguh memprihatinkan. Aku harus menukar kewarasanku
dengan sebuah kondisi; perceraian. Aku terdesak oleh keadaan. Keluarga suamiku
tidak mengijinkanku untuk berobat kejiwaan karena mereka merasa itu bukan
tanggung jawab mereka. Aku mengalami Depresi karena kematian “selingkuhan”.
Shit. Up til now I still feel it’s illogical. Sungguh tidak masuk akal!
Ketrigger Depresi is a hard thing to get through. Bagaimana mungkin mereka bisa
mendefinisikan sesuatu yang tidak masuk akal! . Memang benar aku Depresi karena
Griefing berkepanjangan. Namun bukan berarti mereka bisa mendefinisikanku
sedemikian rupa. Aku nggak terima! Akhirnya kuiyakan saja ancaman perceraian
dari suamiku. Bagaimanapun juga, kesehatan mentalku adalah segalanya. Aku rela
membarternya dengan selembar akta perceraian.
... bersambung.

Komentar
Posting Komentar