Tribute to Yuda Hananta: A Genius Wayfarer

 


Tiga minggu sudah Yuda pergi meninggalkan kita dan segala yang dicintainya di dunia ini. Aku masih saja tidak bisa mempercayai kepergiannya yang seolah tanpa pesan terakhir itu. Aku tidak pernah mengetahui bahwa selama beberapa bulan terakhir ini ternyata dia sakit. Kami hanya sempat bertegur sapa sejenak di pertengahan bulan Juli lalu saat ini berlibur ke Bali bersama keluarganya. Liburan terakhirnya.

“Liburan yang begitu berkesan...” begitu tulisnya di akun media sosialnya kala itu. Saat itu ia berpose menggunakan cabled sweater abu-abu yang sengaja kurajutkan sebagai hadiah tahun baruku untuknya. Ya, entah kenapa aku senang sekali mengiriminya hadiah sejak ulang tahunnya ke-31 tahun lalu. Dia adalah knitting recipient favoritku! Sikapnya yang begitu humble dan grateful terhadap hadiah-hadiah rajutku, betapa ia berterima kasih dan berjanji akan merawatnya dengan baik semampunya, benar-benar membuatku merasa dihargai. Di saat orang tuaku pun menentang keputusanku untuk berhenti bekerja sebagai karyawati di sebuah Rumah Sakit di Jakarta dan memutuskan untuk mengejar passionku belajar desain rajutan handmade beberapa tahun silam, Yuda seolah justru mendukungku. Ia selalu memberi apresiasi dan respon positif terhadap karya-karya rajutan dan desain-desainku.

Tidak banyak orang tahu bahwa sebenarnya aku sempat menghindar dari teman-temanku sejak lulus kuliah dulu. Aku menghindari ajakan-ajakan meet ups dan reuni dari siapapun, mulai berkutat dengan duniaku sendiri, dan hanya bersedia berinteraksi melalui sosial media. Sayangnya, Yuda tidak mengetahuinya.

Di saat itulah Yuda hadir kembali dalam keseharianku. Ia yang saat itu baru mulai menempuh studi doktoralnya di salah satu kampus kedokteran di Amsterdam, tiba-tiba mengirimkan friend requestnya di sosial media. Tidak hanya sekali saja ia mengirimnya. Aku sempat mencoba mengabaikan friend request darinya selama setahun, dengan alasan stigma buruk yang melekat di dirinya, sebelum akhirnya ia mengirimkan kembali untuk kedua kalinya dan aku pun menyerah dan akhirnya menerima ajakannya untuk berteman. Ah, toh cuma di dunia maya saja, tidak ada salahnya, pikirku saat itu.

Dari situlah aku mulai mengetahui kegemarannya akan dunia jurnalistik dan tulis-menulis. Ah, aku pun dulu sempat bergelut di dunia jurnalistik selama beberapa waktu. Aku bergabung di pers mahasiswa fakultasku, dan ia di fakultasnya. In short; we have something in common.

Aku sangat menyukai tulisan-tulisannya. Bahasanya yang lugas dan pemikirannya yang out of the box menunjukkan kecemerlangan berpikirnya. Kemampuannya dalam menulis cerita dan menyusun plot dengan kejutan-kejutan di akhir, serta logika tulisan yang kuat membuatku tidak bisa berhenti membaca kumpulan tulisannya.

Kegemarannya travelling ke tempat-tempat yang jauh membuat content tulisannya kaya dengan beragam informasi yang belum pernah kudengar sebelumnya. Sydney, Amsterdam, Brussels, Copenhagen, Praha, Paris, Berlin, Barcelona, Lisbon, Santorini, bahkan kota tua Fez di Maroko dan Pegunungan Atlas di Gurun Sahara pun dijelajahinya. A genius wayfarer!

That’s what he is. Aku tentu tahu, sudah menjadi rahasia umum bahwa rata-rata mahasiswa Kedokteran memiliki multiple intelligence dalam beberapa bidang sekaligus. Aku rasa Yuda pun memiliki kelebihan lain selain prestasi akademiknya, dan kebetulan itu juga salah satu hobi lamaku; menulis. Entah sudah berapa buku teks Kedokteran dan jurnal ilmiah yang telah ditulisnya. Belum termasuk buku kumpulan cerpen yang sempat ia kirimkan kepadaku beberapa waktu lalu. Belakangan aku pun tahu ternyata ia juga pandai bernyanyi.

Tahun demi tahun aku habiskan sambil menjelajahi dunia maya, dan hari demi hari pulalah aku semakin tertarik dengan tulisan-tulisan Yuda di akun media sosial maupun di blognya. Aku sampai bisa mengenali perubahan pola tulisannya beberapa waktu terakhir. Well, aku sih tidak terlalu mengenalnya sewaktu kami masih sama-sama kuliah di Jogja dulu, namun melalui tulisan-tulisannyalah aku justru merasa lebih dekat. Tidak bisa dipungkiri kalau Yuda memang outstanding. Tulisan-tulisannya yang kontroversial namun menginspirasi justru membuatnya terlihat stand out. Cerdas, lugas, agak arogan dan menyebalkan, namun sangat engaging. Menurutku, justru karena perbedaan sudut pandangnya, dia jadi terlihat begitu unik.

Satu hal yang ingin kugarisbawahi di sini adalah; aku menyukai dan menghormatinya sebagai seorang teman, seorang Yuda yang unik. Rasanya aku belum pernah bertemu dengan seseorang seunik dia sebelumnya. He’s truly one of a kind!

Satu hal yang paling kusukai dari kepribadian Yuda adalah fighting spiritnya yang tinggi dan terpancar jelas baik saat bertemu langsung dengannya maupun melalui tulisan-tulisannya. Meskipun terkesan agak menyebalkan, namun di sisi lain ia tetap humble dan sangat peka terhadap perasaan orang lain. Menurut hematku sebagai seorang crafter dan perajut, Yuda layak untuk disebut sebagai knit-worthy person; Ia adalah seorang dokter, guru, penulis, dan sahabat yang cerdas, ramah, sopan, dan sangat inspirasional. May you rest in peace, dok. You will be missed.


Jakarta, 12 Oktober 2018

Komentar

Postingan Populer