THE LAST AUTUMN: A Short Story About Hand Knitted Gifts
PART 1
Days don’t matter, please come back
As I said here, pouring my heart, so you can have a little piece of my song
How I love, how I greet, how I feel
Hear my stories, sing my songs
Handmade for you...
Suara alunan lagu milik Raisa mengalun pelan dari playlist Spotify di laptop abu-abuku.
Entah kenapa kalau mendengar suara Raisa bernyanyi hatiku langsung nyessss… ademmm..
mau cuaca sepanas apapun, hati sekesal apapun, langsung terasa sejuk.
“Hei… melamun aja! Mikirin siapa hayooo…” Shinta menepuk pelan bahuku membuyarkan
lamunanku siang ini.
“Ah, enggak mikirin siapa-siapa... cuma lagi pusing mau cari ide desain terbaruku. Aku sudah
dihubungi terus-menerus oleh editor majalah Knitzone untuk segera masukin desain terbaru
bulan ini. Otakku lagi nggak bisa diajak kompromi. Akhir-akhir ini aku susah fokus bahkan
hanya untuk menyelesaikan satu project rajut simpel.” celetukku sambil pasang muka cemberut.
Namaku Rara. Sejak beberapa tahun lalu aku memang gemar merajut. Aku lulusan Fakultas Psikologi di salah satu kampus di Jogja. Aku sempat bekerja di salah satu Rumah Sakit di
kawasan Jakarta Pusat sebelum akhirnya resign untuk mengejar passionku di dunia desain
rajutan handmade yang aku pelajari secara otodidak sejak lulus kuliah.
“Coba buka Pinterest aja, Ra… di sana kan banyak contoh desain keren dari seluruh dunia.”
Shinta mencoba untuk memberi saran.
“Iya sih, tapi aku lagi nggak mood, nanti aja deh…”
sahutku malas.
Alih-alih membuka situs-situs desain, aku malah membuka situs jejaring sosial.
“Oh iya, kemarin kan aku baru nyelesein satu proyek shawl rajutan, aku posting di grup rajutku
ah.” celetukku riang.
“Ah kamu, Ra... pamer teruuuusss…” ujar Shinta sambil sengaja menyenggol lenganku.
“Memangnya rajutan-rajutanmu yang udah selemari itu belum cukup? Belum pada kepake juga
kan? Ngapain sih bikin project baru melulu?” Shinta melanjutkan kata-katanya sambil geleng-
geleng kepala.
“Done! Udah ku upload fotonya…” ucapku pura-pura nggak denger sambil nyengir lebar.
Nggak lama kemudian, beberapa menit setelah foto rajutanku ku unggah ke medsos, langsung
dapat respon dari teman-temanku sesama perajut. Nggak hanya itu, beberapa teman kuliahku
pun ikutan merespon. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu nama yang tertera di layar laptop abu-
abuku.
Yuda? Ngapain dia ikut-ikutan nge-like postingan rajutanku? Emangnya dia ngerti soal rajutan
apa? ucapku dalam hati.
“Ngeliatin apa, Ra? Serius amat… ngeliatin foto cowok ya?” Shinta tanpa basa-basi langsung
nyeletuk.
“Tuh…” aku langsung menunjuk satu nama yang tertera di layar.
“Siapa, Ra? Cakep…” lanjut Shinta.
“Temen kuliah.” sahutku pendek.
“Beneran cuma temen? Kok ngeliatin sampe segitunya? Temen apa “temen”?” lanjut Shinta
sambil menggodaku.
“Hush… sembarangan aja kalo ngomong! Aku nggak kenal banget kok, cuma kenal-kenal biasa
aja…” aku segera mengklarifikasi.
“Shinta, mau kukasih tau satu rahasia nggak?” tanyaku lagi.
“Apaan, Ra? Mau... mau…” tanya Shinta dengan muka penasaran.
“Dia sumber inspirasi desainku.” jawabku lagi sambil setengah berbisik.
Yuda sebenarnya bukan teman baru untukku. Kami berkenalan saat masih sama-sama
kuliah di Jogja 10 tahun silam. Dibilang teman akrab juga bukan, karena kami beda fakultas dan
jarang berinteraksi. Kami saling kenal karena kebetulan beberapa sahabatnya adalah
sahabatku juga. Dari beberapa kali pertemuan kami, jujur aku sangat terkesan dengan
kepribadiannya. Kalau boleh ku rangkum dalam satu kata, aku akan menyebutnya gentleman.
***
Aku memang cukup aktif menggunakan situs jejaring sosial atau medsos. Sejak mulai
belajar merajut delapan tahun silam, aku banyak menemukan teman-teman baru lewat hobiku
ini melalui komunitas online di medsos. Aku senang bisa berbagi progress project rajutan
terbaru melalui situs jejaring sosial seperti Facebook, Instagram, dan Ravelry; sebuah situs
khusus bagi komunitas perajut seluruh dunia. Kami saling menyemangati untuk menyelesaikan
sebuah project rajutan. Ada berbagai alasan seseorang ingin belajar merajut. Ada temanku
yang belajar merajut untuk kemudian hasilnya dipakai sendiri, ada yang merajut kemudian
hasilnya diberikan sebagai hadiah kepada keluarga, sahabat, kerabat, dan kolega, ada juga
yang merajut untuk kemudian hasilnya dijual atau disumbangkan kepada pihak yang
membutuhkan. Bahkan ada juga orang yang belajar merajut karena merasakan manfaatnya
untuk kesehatan fisik dan mental.
Seperti biasa, selesai menyelesaikan satu project rajutan, aku lalu mengunggahnya di
grup rajutku. Teman-temanku sangat suportif walaupun kami jarang bertatap muka. Beberapa
di antaranya malah aku belum pernah bertemu sama sekali. Tentu ada juga beberapa orang
teman kopdar rajut alias kopi darat di mana kami sesekali bertemu untuk merajut bersama.
***
September 2017
Setiap kali aku mengunggah hasil karya rajut dan desainku di medsos, Yuda selalu
menjadi teman pertama yang memberi apresiasi dan respon positif. Aku sampai surprise dan
heran; Ah, mungkin dia memang menyukai seni, ucapku dalam hati. Hal itu dilakukannya sejak
berbulan-bulan sebelumnya. Sampai pada suatu ketika di bulan September, aku gemas dan
akhirnya untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir; aku pun menyapanya.
“Hai, Mas Yuda... “ tulisku singkat melalui jaringan pesan pribadi.
“Apa kabar, Mas? Masih inget aku?” aku mencoba mengawali percakapan.
“Hai, Ra… kabarku baik. Off course masih inget dong. Kamu apa kabar?” jawabnya sesaat
setelah menerima pesanku.
“Kabarku baik. Mas Yuda sekarang kuliah di Belanda?” tanyaku lagi.
“Iya, aku lagi ambil PhD di Amsterdam. Ini udah hampir selesai sih, lagi nyusun thesis.”
jawabnya.
“Happy belated birthday ya, Mas… kamu ulang tahun kan minggu kemarin?” lanjutku.
“Ah... ah… thank you, Ra. Kok kamu inget tanggal ulang tahunku?” jawabnya kegeeran.
“Haha… iya dong, masa ultah temen sendiri nggak inget.” sahutku lagi.
Padahal di hari ulang tahunnya, aku ingat dia memposting kegiatannya seharian di
medsos dengan hashtag tanggal hari itu. Hmmm… pasti itu hari yang istimewa untuknya. Benar
saja, saat aku cek birthday reminder, tanggal 6 September memang hari ulang tahunnya. Lalu
keesokan harinya ia misuh-misuh di medsos karena merasa nggak ada yang ingat tanggal
ultahnya. Hahahaaa… sungguh aku pingin tertawa geli kalau teringat postingannya saat itu.
“Mas, aku pingin kirim kado ultah buatmu, boleh? Sekali-sekali aku pingin bikinin rajutan buat
kamu. Mau nggak?” tanyaku hati-hati.
“WOW! Boleh banget, Ra… MAU BANGET! Thank you, yaaa…” jawabnya antusias.
“Iya sama-sama, Mas…” lanjutku dengan perasaan senang.
Tiga hari kemudian kado rajutanku sampai di tangannya. Yuda tampak senang sekali. Ia
pun langsung mengunggah fotonya menggunakan topi rajutanku ke medsos.
“Raraaa… makasih ya, aku suka banget kado dari kamu. Nanti pasti aku pakai buat winter di
Amsterdam.” sebaris pesan masuk ke inbox-ku dari Yuda.
“Sama-sama, Mas… Alhamdulillah kalau mas Yuda suka hasil rajutanku. Ah, nggak usah
nunggu winter, Mas… aku sengaja bikinkan pakai warna-warni musim gugur, biar bisa dipakai
pas autumn. Tapi tetap bisa dipakai sampai winter sih…” balasku segera.
“Topi rajutnya dipakai buat jalan-jalan ya, Mas… biar makin keren! Trust me, everyone will stare
at you every time you wear it, be ready to catch people’s attention.” lanjutku sambil cengar-
cengir sendiri.
“Seriously? I will.” jawabnya untuk menutup percakapan siang itu.
Sebenarnya bukan tanpa alasan aku memberikan kado rajutan untuk Yuda. Ia punya hobi travelling
lebih tepatnya ikutan nimbrung sambil asyik chatting sembari mengisi waktu. Aku sih enggak
keberatan dia ikutan nimbrung. Aku malah senang masih ada teman yang bersedia menemani
ngerjain tugas akhir saat teman-temanku yang lain sudah lulus duluan. Apalagi Yuda sangat
cerdas dan tidak pelit berbagi ilmu. Ia nggak keberatan ditanya-tanyain soal hal-hal umum
terkait penelitian.
Sebenarnya bukan tanpa alasan aku memberikan kado rajutan untuk Yuda. Ia punya hobi travelling keliling Indonesia hingga Eropa. Menurutku memberinya kado rajutan tangan adalah keputusan yang tepat. Lagipula saat masih kuliah di Jogja dulu, ia beberapa kali menemaniku dan Mas Esa saat mengerjakan penelitian tugas akhir. Langsung terpikir olehku untuk memberikan sedikit dukungan dan perhatian seperti yang dilakukannya
dulu kepadaku dan mas Esa. Ya, mengiriminya hasil rajutan tanganku adalah salah satu bentuk
dukungan moralku kepadanya. Dan satu alasan lagi.
***
Begitulah awal mulanya aku kembali berinteraksi dengan Yuda setelah bertahun-tahun
tidak berjumpa. Agak lucu sebenarnya kenapa aku dulu tidak pernah benar-benar mengenalnya
secara akrab, padahal kami selalu berpapasan dan berjumpa di manapun dalam berbagai
kesempatan. Aku juga cukup dekat dengan beberapa sahabatnya di kampus Kedokteran
tempatnya belajar. Beberapa di antaranya adalah teman hangout ku saat itu.
Aku masih ingat ketika aku penasaran untuk bertanya tentang siapa dia ke Rendy,
seniorku di salah satu ekskul di Gelanggang Mahasiswa yang juga teman akrabnya.
“Ren, itu siapa yang duduk di pojokan sekre?” tanyaku penasaran.
“Oh, itu Yuda, teman sekelasku. Kenapa kamu nanyain Yuda, pingin kenalan?” tanya Rendy
blak-blakan.
“Ah, enggak… aku cuma pingin tahu aja, soalnya aku sering papasan sama dia di kampusku.
Tapi aku nggak berani negur, kelihatannya dia pendiam dan agak dingin…” sahutku asal.
“Aku juga denger selentingan-selentingan soal dia...” aku diam nggak berani meneruskan kata-
kataku.
Rendy lantas menatapku tajam beberapa saat...
“Mau ku kasih saran? Nggak usah kenalan sama dia, Yuda mah sinting!” sahut Rendy lagi
sambil berlalu.
Kata-kata Rendy begitu melekat dan membekas di ingatanku. Aku jadi ragu mau
mengenal lebih jauh dan berteman dengan Yuda pada saat itu.
***
Yuda sangat aktif di media sosial. Pengalamannya sebagai wartawan kampus
membuatnya lihai dalam menyajikan tulisan yang sangat menarik untuk dibaca. Aku juga
termasuk salah seorang yang menikmati dan mengagumi tulisan-tulisannya; cerdas, lugas, dan
sangat menginspirasi. Tapi kalau boleh jujur, menurutku content dan gaya menulisnya agak
sedikit kontroversial. Aku terus mengikuti tulisan-tulisannya sampai pada suatu titik aku merasa
dia agak berubah. Bukan bermaksud ingin mencampuri urusan pribadinya, tapi alarm psikologi-
ku mengisyaratkan sepertinya dia sedang dalam masalah yang agak serius, hanya dengan
membaca perubahan pola tulisan-tulisannya di medsos. Apa aku harus bertanya kepadanya?
pikirku saat itu. Tapi ah, itu bukan urusanmu, Ra… he’ll be just fine, aku mengingatkan diriku
sendiri untuk tidak mencampuri urusan orang lain.
Oktober 2017
Aku terus-menerus menangkap sinyal yang tidak beres. Sampai pada suatu hari di
bulan Oktober aku putuskan untuk kembali menyapanya setelah membaca salah satu
tulisannya. Namun alih-alih bertanya tentang masalahnya, aku justru membicarakan hal lain...
“Mas Yuda apa kabar?” ucapku seraya memberanikan diri untuk menyapanya lagi.
“Hai Ra, kabarku baik. Kamu gimana kabarnya?” ucapnya basa-basi.
“Kabarku baik, Mas… kamu lagi di Indonesia apa di Amsterdam sekarang?” aku kembali
mengawali obrolan.
“Aku lagi di Amsterdam. Oh ya, Ra… makasih ya topi rajutanmu aku bawa nih. Kupake terus
soalnya di sini lagi dingin. Topinya enak dipakenya, anget.” ucapnya kemudian.
“Di Amsterdam lagi dingin banget ya, Mas?” tanyaku lagi sedikit retoris.
“Iya, Ra…” jawabnya singkat.
“Mas…” aku menulis dengan ragu-ragu.
“Kenapa, Ra?” ia balik bertanya.
Aku diam sejenak, berusaha mengumpulkan keberanianku untuk melontarkan kata-kata
selanjutnya.
“Aku bikinin sweater rajutan ya buat kamu…” ucapku akhirnya.
Gantian dia yang terdiam sesaat. Sepertinya dia juga berusaha menyusun kata-kata yang tepat
untuk menjawabnya.
“Boleh, Ra… tapi kali ini aku beli ya. Aku enggak enak ngerepotin kamu terus. Sweater rajutan
bikinnya susah dan lama, kan?” jawabnya dengan bijak.
“Enggak usah beli, Mas… aku yang nggak enak ngasih harganya ke kamu.” sahutku cepat.
“Maksudmu another knitted gift for me?” tanyanya menegaskan.
“Kinda... if you don’t mind…” lanjutku ragu-ragu.
“No, not at all. I’d be honored. But promise me this is the last one, okay? Next time I’ll purchase
if I need one…” akhirnya ia tidak kuasa menolak permintaanku.
“Okay, deal...” sahutku senang karena berhasil meyakinkannya.
“Mau request dibuatkan sweater kayak apa, Mas? Who’s your favorite cartoon character?”
tanyaku kemudian.
“Aku suka Spiderman, sih… Peter Parker is my favorite!” jawabnya antusias.
“Hmmm… I have an idea. How about I make you a sweater that makes you look like
Spiderman? Just put your sweater and glasses on, and voila… you will look like Peter Parker!”
ucapku kemudian sambil sedikit menggodanya.
“Ah... ah… will I? Thank you Raraaa…” jawabnya kegeeran.
“Hmmm… kayaknya aku punya koleksi desain keren dari majalah rajut Perancis. I bet you’re
gonna love a Parisian style sweater, aren’t you? Haha.. nggak terlalu Spidey ya?” lanjutku.
“OMG… that’s even better! Thank you sooo much for doing it, Rara…” lanjutnya lagi. Aku bisa
merasakan antusiasmenya dari sini.
“Tapi sabar ya, Mas… It will take me some time to finish it.” lanjutku lagi.
“Take your time, Rara. Aku senang sekali mau dibuatkan sweater rajutan. What a special gift, I
never expected to get one before. I’ll be patiently waiting.” ujarnya sekaligus menutup
percakapan kami saat itu.
Maka demikianlah. Aku tidak pernah benar-benar mengetahui apa permasalahan yang
sedang dihadapinya sampai tulisan-tulisannya agak berbeda akhir-akhir ini. Aku pun tidak
berani bertanya lebih lanjut. Aku hanya ingin menunjukkan perhatianku sebagai seorang teman.
I just want to show him that I care. I just want to offer him something heartwarming to comfort
him.
Seusai chatting dengannya, aku lantas membuka akun Instagram-ku. Rupanya dia
langsung update status.
“Ku kan menunggu, tapi tak selamanya…” tulisnya sambil mengutip salah satu lagu Raisa. Ia
mengunggah foto sebuah pager dengan hashtag seperti sedang menunggu sesuatu. Aku cuma
senyum-senyum sendiri. Yuda memang ajaib. Ia punya cara yang unik untuk berinteraksi dengan
teman-temannya.
November 2017
“Ra, kemungkinan aku akan pulang ke Indonesia akhir tahun ini. Kayaknya bakalan agak lama.
Kamu kirim sweaternya nanti saja ya sekalian tunggu aku sampai di Indonesia.” sebuah pesan
masuk ke inbox-ku dari Yuda.
“Okay, Mas.” jawabku singkat tanpa berpikir apa-apa pada saat itu.
***
Desember 2017
Segera setelah kuselesaikan sweater rajutanku untuknya, aku pun kembali
menghubunginya. Saat itu menjelang akhir tahun seusai Natal.
“Sudah sampai di Indonesia, Mas?” aku menulis sebuah pesan untuknya.
“Belum, Ra… ini masih transit di Oman. Mungkin satu dua hari lagi baru sampai di Indonesia.”
jawabnya.
“Sweatermu sudah jadi, Mas… aku kirimin sekarang aja ya…” sahutku lagi.
“Okay, Ra… thank you ya. Aku udah siapin oleh-oleh buat kamu nih… kamu mau kan ku
bawain oleh-oleh dari Belanda?” Ia balik bertanya.
“Waw... mau banget, Mas… kalo enggak ngerepotin bawanya sih...” sahutku girang.
“Ah, enggak kok… okay nanti aku kabari lagi kalau sudah sampai rumah ya.” lanjutnya lagi.
Beberapa hari kemudian…
“Raraaa… thank you yaaa… kiriman sweatermu udah sampai. Aku sukaaa... banget! Keren
banget, Ra!” Yuda mengirimkan pesan ke inbox-ku.
“Sama-sama, Mas… I’m glad you like it. Enjoy your new sweater ya…” aku segera membalas
pesannya.
Selesai bercakap-cakap dengannya seperti biasa aku membuka akun Instagramku. Rupanya dia
langsung mengunggah fotonya menggunakan sweater rajutanku dengan caption panjaaaang khas
Yuda. Aku senang sekali membacanya. I know you are knit-worthy, dok… ucapku dalam hati.
10 Januari 2018
Sebaris pesan kembali masuk ke inbox-ku dari Yuda.
“Rara…” tulisnya singkat.
“Kemarin aku janji mau kirimin kamu oleh-oleh dari Belanda, kan? Sorry aku baru sempat kirim
hari ini, semoga kamu suka ya…” lanjutnya lagi.
“Iya nggak apa-apa, Mas… makasih ya.” jawabku segera.
11 Januari 2018
Pak Pos datang malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. Kiriman dari Yuda! sahutku
senang. Benar saja, segera aku buka paket darinya. Isinya sekaleng Stroopwafels dan sebuah
buku kumpulan cerpen yang ditulisnya tiga tahun silam. Tidak lupa ia menyelipkan sebuah
postcard khas Belanda bergambar Rijksmuseum dengan latar orang-orang sedang bermain ice skating.
mudah-mudahan kamu suka dan masih bisa dibaca ya… ^_^” kira-kira demikian isinya. Lalu
segera aku baca judul cerpen di halaman yang terbuka tadi.
-Bukan Sekedar Sebelas Januari-
Sebelas Januari bertemu menjalani kisah cinta ini, naluri berkata engkaulah milikku…
Aku lalu spontan membuka hapeku untuk melihat tanggal hari itu: 11 Januari. Ahhh,
what a nice coincidence! Aku buka lagi halaman-halaman selanjutnya secara acak, lalu mataku
tertuju pada salah satu halaman… ada namaku di situ sebagai salah satu tokoh dalam
cerpennya! Waaahh!! Aku tahu sih ceritanya bukan tentangku, tapi saat kamu menemukan
namamu di sebuah buku yang sedang kamu baca tentu rasanya surprise, happy, dan merasa
lebih tertarik untuk mengetahui jalan cerita selanjutnya, kan? Harus kuakui kalau Yuda memang
pandai membuat para pembacanya merasa lebih dekat dan engaged dengan tulisan-tulisannya.
Aku segera membuka inbox-ku untuk mengirimkan
pesan untuknya.
“Mas Yudaaaa… kirimanmu sudah sampai, Mas…
makasih yaaaa…” aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku.
“Waaah, udah sampai ya? Iya sama-sama, Ra…
mudah-mudahan suka ya…” jawabnya.
“Suka banget, Mas… Stroopwafels-nya enak!
Kumpulan cerpenmu juga bagus-bagus! How do you know I really wanted to read your book?”
tanyaku antusias.
“Ah really? I just knew it… *wink*” sahutnya.
“Thank you, Mas… I’m so lucky to have the chance to read your book langsung dari kamu.” sahutku
sungguh-sungguh.
“Sama-sama, Ra… I’m so honored to be gifted a knitted sweater from you, too… pasti nanti
akan kupakai…” sahutnya kemudian.
“You deserve it, Mas… of all my friends you’re on top of my knit-worthiness list!” sahutku
kemudian.
“Apa itu knit-worthiness, Ra?” tanyanya penasaran.
“Orang yang dianggap layak diberikan kado rajutan tangan karena dianggap istimewa atau
dihormati oleh perajutnya.” jawabku.
“OMG, I feel so special.” jawabnya terhenyak.
“You are, Mas…” jawabku sungguh-sungguh.
Diam sesaat.
“Ra, aku boleh tahu alasan kenapa kamu ngasih aku kado rajutan dua kali berturut-turut?”
tanyanya serius.
Aku terkesiap. Aku nggak nyangka bakal dikasih pertanyaan to the point kayak begitu. Aku
diam sejenak, berusaha menyusun kata-kataku untuk menjawabnya.
“Soalnya aku mau bilang makasih karena mas Yuda sudah menginspirasiku dalam membuat
desain.” jawabku akhirnya.
“Ahhh… I knew it! Sudah kuduga…” ucapnya. Mungkin saat ini dia sedang cengar-cengir
kegirangan di ujung sana.
“Really? How do you know?” tanyaku menyelidik.
“Ah... ah… I have a good sense, don’t I?” lanjutnya penuh teka-teki.
“Thank you, Ra...OMG I’m speechless… aku juga nggak pernah dikasih kado se-spesial ini
sebelumnya… Let me treasure these gifts ya...” lanjutnya terharu.
***
Beberapa hari kemudian, seperti biasa aku sedang membuka-buka akun Instagramku.
Saat itu aku melihat Yuda memposting sesuatu di Insta-storynya.
If you choose to love me, promise me you will accompany me until my dying day...
Aku terhenyak. Entah apa maksudnya. Entah buat siapa. Aku tidak mau berpikir macam-
macam, tapi tulisan itu terus terngiang-ngiang di pikiranku sampai beberapa hari setelahnya.
PART 2
Februari 2018
Suatu malam di pertengahan bulan ini aku bermimpi. Herannya, Yuda ada di dalam
mimpiku. Aku dan Yuda sedang berada di tempat praktik dokter kenalanku lalu ia mengatakan
sesuatu yang membuatku tercekat..
“Rara, makasih ya atas perhatian-perhatian kamu selama ini. You make me feel so special, Ra.
You do! But I’m sorry I have to say goodbye now, take care ya, Ra…” ucapnya sambil mengelus
pelan pipiku, lalu ia pergi.
Aku terbangun dengan panik, bingung, linglung. Setelahnya aku tidak bisa tidur lagi
sampai pagi datang. Pagi itu, bahkan sampai beberapa hari setelahnya kepalaku terasa
berputar-putar kemanapun kakiku melangkah.
Beberapa hari setelahnya dia tidak terlihat online. Aku agak khawatir sesuatu yang
buruk terjadi sama Yuda. Mimpi itu terus terbayang di ingatanku. Sebenarnya Ia sempat
memberikan nomor ponselnya kepadaku.
“Just in case, kalau ada apa-apa dan mau menghubungi aku, via What’s App aja ya, Ra.”
katanya saat itu. Aku menatap lekat-lekat nomor ponselnya di hapeku, tapi aku urungkan niatku
untuk menghubunginya. Ah, mungkin dia sedang sibuk ngerjain thesis dan butuh privacy…
batinku.
Beberapa hari kemudian dia memposting sesuatu yang kembali membuatku tercekat;
Sebotol besar Paracetamol. Spontan aku langsung merespon...
“Mas Yuda lagi sakit?” tanyaku agak khawatir. Dia tidak membalas.
Tentu agak sulit menerka kondisi kesehatan seseorang hanya melalui foto-fotonya.
Apalagi Yuda seorang dokter. Agak ambigu jika mau menafsirkan saat seorang dokter
menunjukkan foto obat-obatan apalagi tanpa disertai keterangan tulisan yang jelas; entah itu
untuk dirinya sendiri yang sedang sakit, atau untuk pasien, atau mungkin hanya sekedar ingin
menunjukkan saja sebagai alat edukasi kesehatan. Aku tetap berusaha berpikir positif namun
aku nggak bisa bohong kalau aku mulai mengkhawatirkan keadaannya. Aku pun spontan
menghubungi mas Esa.
“ Hai Mas Esa, ini Rara. Apa kabar, Mas?” tanyaku untuk mengawali percakapan.
“Hai Rara, kabarku baik. Tumben kamu ngehubungin aku? Biasanya kalau kuhubungin kamu
nggak pernah balas.” katanya.
“Ah iya, Mas… maaf baru sempat.” Aku berbasa-basi dengan kikuk.
“Ada apa, Ra?” tanyanya kemudian.
“Mas Esa lagi di Jakarta? Kalau ada waktu boleh ketemuan? Ada yang mau aku omongin,
Mas…” sahutku.
“Iya aku lagi di Jakarta. Mau ngomongin soal apa, Ra?” tanya mas Esa lagi.
“Soal mas Yuda, Mas…” kataku berhati-hati.
Diam beberapa saat.
“Ra, aku sempat lihat di Instagramnya Yuda, apa bener kamu ngasih kado rajutan buat dia?”
akhirnya Mas Esa membalas seolah bisa membaca arah pembicaraanku.
“Iya bener, Mas…” jawabku. Entah kenapa kali ini aku merasa agak bersalah kepadanya.
“Ya sudah nanti kalau waktunya pas aku hubungi lagi ya untuk ketemuan.” lanjutnya..
“Iya, makasih banyak ya mas Esa…” jawabku.
“Sama-sama, Ra…” jawabnya singkat.
Beberapa minggu aku tunggu kabar dari Mas Esa, dia belum juga menghubungiku.
Begitu pula dengan Yuda, dia seolah-olah menghilang entah kemana.
Juli 2018
Pertengahan bulan Juli, akhirnya aku melihat Yuda online dan memposting sesuatu
setelah beberapa bulan menghilang.
This is my fight song, take back my life song, prove I’m alright song
My power’s turned on, starting right now I’ll be strong, I’ll play my fight song...
Ia mengutip sebait lagu milik Rachel Platten. Tampaknya itu lagu kesukaannya. Spontan
aku langsung merespon…
“Mas Yudaaaa… where have you been lately? Welcome back…” sahutku riang.
“Ah… ah… thank you, Raraaaa… iya sorry aku lagi nggak bisa sering-sering online, it’s kinda
distracting.” Ia membalas.
“Gimana kabarmu, Mas?” tanyaku lagi.
“Sehat, Ra… ^_^” Ia hanya menjawab singkat sambil memberi emoticon senyum.
Tidak lama kemudian Ia memposting foto-foto liburannya. Rupanya dia sedang berlibur
ke Bali bersama keluarga. Dari beberapa foto yang diunggahnya, foto terakhir lah yang
membuatku tercekat. Awalnya aku senang karena melihatnya menggunakan sweater rajutanku
sambil berpose di pantai. Namun setelah kuperhatikan lagi captionnya, aku menangkap kesan
sedih di sana. Pada saat itu aku langsung teringat salah satu paragraf di buku kumpulan cerpen
yang ditulisnya. Buru-buru kubuka bukunya dan mencari halaman yang ku maksud.
I’ve wasted my nights, you turned out
the lights, now I’m paralyzed, still stuck
in that time
When we called it love
But even the sun sets in paradise...
Aku terhenyak. Perasaan tidak enak kembali merasuki hatiku. Entah kenapa
aku terbayang lagi mimpiku malam itu.
***
6 September 2018
Memasuki bulan September perasaanku semakin tidak menentu. Entah kenapa aku
semakin mengkhawatirkan keadaan Yuda. Kebetulan di awal bulan ini aku berkesempatan ke
Solo untuk menghadiri acara pernikahan kerabat. Aku tentu ingat minggu pertama bulan
September ia berulang tahun. Apa mungkin aku hubungi saja dia untuk sekedar ketemuan
sebentar? pikirku. Entah kenapa kali ini aku benar-benar ingin menemuinya. Setibanya di Solo
aku kembali menatap lekat-lekat nomor ponselnya di hapeku. Tapi... ahhh… lagi-lagi ku
urungkan niatku untuk menemuinya. Aku ragu apa dia mau kutemui. Ya sudahlah, tunggu saja
kabar darinya. Sabar sedikit mungkin dia memang sedang tidak ingin diganggu, lagi-lagi aku
berusaha meyakinkan diriku sendiri.
21 September 2018
Jumat pagi hari di pertengahan bulan September, ada pesan masuk dari mas Esa.
Rupanya pesan itu sudah masuk sejak semalam, namun baru kubuka keesokan paginya.
Akhirnya mas Esa menghubungiku juga… pikirku saat itu.
“Ra, aku mau ngabarin berita duka. Mas Yuda Hananta meninggal dunia hari ini karena sakit.
Mohon doanya semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya.” begitu isi pesan dari mas Esa.
Lututku langsung lemas, leherku serasa tercekat. Aku pun tak kuasa membendung air
mataku…
Mas Yuda,
Aku nggak menyangka dari ribuan postingan di akun Instagram-mu selama bertahun-tahun,
kamu “menutup”nya dengan sebuah foto yang sangat indah menggunakan sweater rajutanku.
I’m so honored. Thank you so much for all of your kindness and support for me, and for all of
your friends. I’m gonna miss you so much, my inspiration…
Tak pernah kukira bahwa akhirnya tiada dirimu di sisiku
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan,
Kau bukan hanya sekedar indah, kau tak akan terganti…
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
,
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu...

Komentar
Posting Komentar