Rujuk
Cerita Pendek oleh I.P Yuda Hananta
Saya mendekati anak laki-laki itu, merangkulnya lalu mengelus-elus kepalanya, saya perkirakan usianya 9 tahun, dia menangis, air mata membanjiri mata dan wajahnya, lalu membasahi kaos biru bergambar X-Men yang dia kenakan. Pemandangan malam itu, membawa saya menerawang ke kejadian 7 tahun lalu, anak itu mengingatkan saya ke adik saya yang menangis histeris di teras rumah, sesaat setelah dia mendapat berita tentang meninggalnya Bapak.
Anak laki-laki itu pun baru saja kehilangan ayahnya. Laki-laki berusia 52 tahun yang meninggal di ruang UGD tempat sore itu saya bertugas.
Sekitar 4 jam sebelumnya, dalam waktu hampir bersamaan ruang UGD yang tadinya dingin dan lengang, tiba-tiba hiruk-pikuk.
Pasien pertama saya malam itu: Seorang laki-laki, ayah si anak itu yang datang tergesa-gesa ditemani ibunya dan seorang tetangga. Laki-laki itu mengeluhkan buang air besar berdarah, berwarna hitam, yang dalam istilah medis kami sebut melena. Rekam medisnya yang tebal menceritakan riwayatnya dengan lengkap. Diabetes yang dialaminya sejak beberapa tahun dengan kontrol gula dan pengobatan yang tidak teratur, hingga akhirnya didapati komplikasi dari diabetesnya: luka-luka dengan infeksi, gagal ginjal yang menjadikannya tampak bengkak dari wajah hingga kaki, sesak nafas yang semakin memberat, menjadikan tubuhnya begitu lemah. Rekam medis menunjukkan laki-laki itu belum juga seminggu lalu pulang dari perawatan di rumah sakit kami.
Dan pendarahan hitam yang dialaminya sore ini, menjadikan kondisinya lebih menantang. Pasien lemah, nyaris tidak bisa menceritakan apapun, selain mengeluh dan meracau. Istrinya menyalahkan minuman vitamin C dosis tinggi yang dikonsumsi suaminya itu beberapa waktu sebelumnya. Saya melihat, meraba, mendengar, mengendus dan berpikir. Sekaligus. Pasien tampak pucat, sekaligus kuning. Lemah semakin lemah. Kesadarannya menurun. Tanda vital berubah, tekanan darah menurun, nadi melemah, dan tampak terengah-engah. Infus dipasang, cairan dan obat injeksi segera diberikan untuk stabilisasi keadaan umum dan menghentikan pendarahan. Oksigen dialirkan. Tanda vital dimonitor. Darah diambil, beberapa pemeriksaan saya mintakan untuk dikerjakan. Dan ya, sesuai dugaan saya, pasien anemia berat, kadar hemoglobinnya 3,2 (yang normalnya harusnya lebih dari 14!!!). Seketika saya langsung berpikir untuk merencanakan tindakan transfusi darah untuknya, butuh banyak kantong untuk pasien ini. Tapi saya menelan ludah, saat pandangan saya beralih ke bagian bawah lembar hasil pemeriksaan lab, ureum dan creatinin darah pasien ini meningkat, nyaris 8 kali lipat, fungsi ginjal pasien ini jelek sekali. Transfusi darah bahkan bisa membahayakan jiwanya.
Masalah rumit demikian mendorong saya meminta operator menghubungkan ke dokter spesialis penyakit dalam yang bertugas di rumah sakit saya. Saya bermaksud berkonsultasi. Saya ceritakan kembali kondisi pasien, dan sebagaimana pernah saya pelajari di bangku kuliah, dokter spesialis penyakit dalam menyarankan transfusi simultan dengan cuci darah untuk pasien ini. Ya, transfusi bisa kami lakukan tapi tidak dengan cuci darah. Pasien ini harus dirujuk, dan malam semakin larut. Cuci darah cito atau segera karena gawat darurat menjadikan tantangannya berlipat ganda.
Sembari menangani pasien pertama, pasien kedua datang meminta perhatian kami. Dua perawat dan satu bidan yang menemani saya berjaga dengan sigap membagi tugas. Pasien kedua, seorang gadis, usia belasan, dibawa keluarganya dengan dinaikkan mobil pick-up, sebelumnya mengalami kecelakaan sepeda motor sekitar satu jam sebelumnya. Saat sadar, pasien masih sadar penuh, bisa berkomunikasi dengan baik, tetapi gadis itu sama sekali tidak ingat kejadian kecelakaan yang dialaminya. Sepertinya benturan yang terjadi cukup keras, luka-luka di berbagai bagian tubuh, wajahnya, dan terutama bagian kelopak mata, pipi, bibir bengkak. Daerah sekitar kedua matanya menghitam, kami menyebutnya racoon eye atau brill hematom.Darah mengering di sekitar cuping hidung dan mulut. Sisa makanan, mie dan nasi berlendir membasahi bagian depan tubuhnya, pasien ini sempat muntah. Keluarganya menunjukkan selembar surat rujukan, dari suatu rumah sakit, tak jauh dari rumah sakit saya berada. Tertulis diagnosis pasien, pengobatan yang dilakukan dan dokter pengirimnya. Saya seketika naik pitam. Meski pasien sadar penuh, keadaan ini saya nilai adalah cedera kepala sedang, bahkan menuju berat. Yang dalam penatalaksanaannya perlu evaluasi dengan foto CT Scan, yang rumah sakit tempat saya bekerja tidak mempunyai, dan bahkan kemungkinan perawatan intensif yang fasilitas, ditambah ketiadaan SDM bedah saraf yang mungkin diperlukan, yang di rumah sakit kami pun tidak memadai untuk cedera kepala seperti ini. Tapi pasien datang sendiri diantar keluarganya, tidak ada tenaga medis atau paramedis yang mengantar. Tidak ada telepon atau komunikasi dalam bentuk apapun dari rumah sakit sebelumnya untuk merencanakan rujukan. Rujukan macam apa ini, saya pikir. Segera saya telepon ke rumah sakit perujuk, mengkonfirmasi maksud rujukan, dan menyampaikan komplain saya. Dokter di sana hanya bisa mengiya-iyakan, karena junior-nya yang adalah dokter magang yang merujuk pasien tersebut. Saya nyaris tidak peduli siapapun yang merujuknya, karena setiap dokter saya rasa harusnya tahu etika merujuk yang benar. Melihat keadaan pasien demikian, saya berpikir bahwa rujukan ke rumah sakit yang lebih baik, bukan di rumah sakit kami, mumpung keadaan pasien masih bisa ditransportasikan, harus segera dilakukan untuk pelayanan yang optimal.
Pekerjaan saya selanjutnya adalah berburu rumah sakit rujukan. Berburu? Ya, karena merujuk pasien tidak semudah yang diperkirakan orang. Rumah sakit rujukan pertama saya perlukan untuk cuci darah dan sekaligus transfusi untuk upaya penyelamatan pasien pertama, yang kedua untuk si gadis dengan cedera kepala, rumah sakit rujukan yang dimaksud harus punya CT-Scan dan ruang perawatan intensif.
Jogja, sepantasnya bersyukur memiliki rumah sakit yang cukup banyak, tersebar dari ujung gunung di lereng Merapi, hingga pinggir pantai Selatan. Dari ujung timur Prambanan hingga ujung barat sungai Progo. Namun, sekali lagi, merujuk tidak semudah yang diperkirakan. Malam itu, dering telepon UGD tak henti-henti, nomor-nomor diputar, petugas-petugas di rumah sakit target dihubungi: UGD, pendaftaran, bangsal, dan lain-lain. Lebih dari sepuluh kali saya memperkenalkan diri, menyampaikan maksud rujukan, menceritakan kondisi pasien, berdiskusi, bahkan kadang hingga beradu argumen dengan petugas di rumah sakit rujukan. Tapi malam itu, dari seluruh rumah sakit di Kota Jogja dan Kabupaten di sekitarnya (Sleman, Bantul, Klaten), tak satupun rumah sakit rujukan bisa menerima. Sebagian besar beralasan kamar perawatan penuh, beberapa menyampaikan ketiadaan sumber daya manusia, beberapa menyampaikan peralatan yang tidak tersedia. Saya nyaris putus asa. Di rumah sakit tempat saya bekerja ini, dalam tugas jaga malam yang sering saya dapatkan, hal-hal rujuk-merujuk seperti ini memang selalu tidak mudah. Alur penatalaksanaan yang ada di SOP atau buku teks, harus dengan jelinya dimodifikasi saat kita mendapati dunia tidak seindah itu, tempat rujukan tidak mudah didapat.
Sejam, dua jam, tiga jam berlalu. Keadaan pasien pertama, laki-laki dengan anemia berat terus menurun. Nafasnya semakin jarang dan dalam, nadinya melemah, sudah tidak lagi berkomunikasi. Motivasi keluarga yang kami sampaikan dari awal, terus dan terus harus diulang, saya tidak berani menjanjikan apapun, hanya mendengar, dan mengiyakan keluhan mereka. Pasien kedua cenderung tenang, cukup stabil, membuat saya agak lega. Karena proses rujukan yang lama tak berkesudahan, saya terpikir menggunakan High-Care Unit (HCU), semacam ICU sederhana di rumah sakit kami untuk observasi sementara pasien kedua. Berdasar konsultasi dengan dokter spesialis anestesi sebagai penanggung jawab HCU, pasien kedua diijinkan masuk HCU. Ruangan dipersiapkan, pasien dipersiapkan. Fokus saya beralih ke pasien yang pertama.
Suasana hiruk-pikuk UGD beralih menjadi senyap, saya seketika merasa begitu lemah dan tidak berdaya. Memahami bahwa seharusnya ada suatu tindakan yang harusnya diambil, tetapi tidak bisa dilakukan karena keadaan. Senyap, dingin, UGD seketika menyeramkan, semacam bayangan malaikat maut yang mengintai satu atau bahkan kedua pasien yang sedang saya kelola. Pasien tak kuasa melawan, saya pun demikian. Pasien pertama berhenti bernafas spontan. Saya dan perawat menghambur ke pasien. Melakukan apapun yang diperlukan saat itu. Mata saya tak lepas dari monitor, yang menunjukkan keadaan tidak membaik, bahkan memburuk. Nadinya sudah tidak teraba, nafasnya sama sekali tidak ada. Gambar listrik jantungnya lurus. Pasien saya nyatakan meninggal setelah lebih dari 4 jam dalam pengawasan kami di UGD. Tangisan pecah. UGD yang semula senyap, kembali hiruk-pikuk. Ada seorang istri yang histeris. Seorang anak kecil yang meraung-raung. Menantu yang marah dan jengkel. Dan saya yang terdiam, tersenyum kecut, berdiri di antara mereka. Saya mohonkan ijin pasien unruk dibersihkan. Perawat dengan sigap menangani tubuh kaku itu. Saya menuju meja, dan menulis rekam medis dan membuat surat kematian.
Merujuk pasien selalu tidak semudah yang dikatakan saat saya duduk di bangku sekolah kedokteran.

Rest in peace mas Yuda Hananta
BalasHapus