Kereta Kuning

Cerita Pendek oleh I.P Yuda Hananta

Sudah kurang lebih 20 menit saya duduk di salah satu sudut gerbong kereta api Prambanan Ekspress saat cerita ini dimulai. Perjalanan ini perjalanan yang biasa sebenarnya, seperti perjalanan yang sudah puluhan kali saya tempuh. Tapi seperti biasa, mengamati perilaku orang adalah kebiasaan saya di manapun saya berada yang sulit saya hilangkan. Seperti senja ini, saat sesuatu yang menarik terjadi di kereta kuning ini.

Cerita ini dimulai saat rangkaian gerbong kuning kereta Prambanan Ekspress perlahan meninggalkan stasiun Solo Balapan. Kerumunan orang yang menghambur menyerbu berebut naik seketika berpindah menjadi pemandangan manusia yang berdesakan di kotak sempit gerbong itu. Tampak sekumpulan Ibu-Ibu dengan bayinya, rombongan keluarga yang pulang jalan dan menenteng tas-tas belanjaan, gadis-gadis ABG nan ramai, jarang tampak pengelana yang bepergian seorang diri seperti saya.

Dalam suasana berdesakan begitu, sebagian besar orang sudah akan cukup senang saat bisa menemukan tempat untuk setidaknya berdiri, duduk lesehan dan meluruskan kaki bahkan terasa seperti bonus yang berharga sekali. Tapi bagi saya, kesenangan saya adalah mengamati orang-orang di sekitar saya. Salah satunya seorang gadis, yang menurut taksiran saya dia berusia 2-3 tahun lebih muda dari saya, dengan postur yang cukup tinggi untuk seorang gadis Indonesia, rambutnya yang kecokelatan bergelombang sebahu dengan poni sebagian dibiarkan terjatuh, wajahnya unik (kalau tidak boleh dibilang cantik), dan bulu matanya lentik. Dia tampak anggun dengan pakaiannya yang sederhana: celana jeans biru dan kaos oblong Dagadu bertuliskan kalimat lucu, yang sontak membuat saya tersenyum saat membacanya.

Gerak-geriknya sederhana, terkesan tomboy, satu-satunya yang membuatnya terlihat feminin dan memberi aksen pada pakaiannya adalah scarf chifon merah maroon dengan motif bunga-bunga anyelir yang melingkari bahunya. Di tangan kanannya dia menenteng tas tangan coklat tua berukuran sedang dan tangan kirinya sibuk mengutak-atik ponsel pintar berlayar lebar.

Saya terus mencuri pandang sambil terus mengagumi penampilannya. Gadis itu tampak kebingungan karena seluruh bangku yang ada di gerbong itu sudah terisi. Saya jadi kikuk saat si gadis berjalan menyelip keramaian orang, mendekat ke arah saya. Saat kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun Balapan, saya yang beruntung siang itu mendapat satu tempat duduk di pojok gerbong, sudah siap berdiri dan menawarkan tempat duduk saya ke si gadis, tapi tampaknya dia terlalu sibuk berbicara dengan seseorang di ujung telepon, hingga kereta akhirnya sampai di stasiun berikutnya, Purwosari, stasiun perhentian terakhir di kota Solo sebelum kereta kuning ini melaju ke Jogja.

Meski tak sebesar Balapan, stasiun Purwosari berkontribusi cukup signifikan terhadap jumlah penumpang Prambanan Ekspress, mengingat lokasi stasiun ini yang cukup strategis di Jalan Slamet Riyadi yang dekat dengan banyak lokasi wisata. Begitu pula yang terjadi sore itu, saat sejumlah penumpang yang tak kalah banyak merangsek masuk ke gerbong yang sudah penuh.

Dari sekian banyak penumpang yang datang dan berdesakan, kembali saya menemukan sosok yang menarik di sana. Kali ini, seorang pria, tampaknya seumuran saya, wajahnya cerah dan bersih, dia tampak santai dalam kemeja lengan pendek biru gelap, celana jeans biru belel, dan sneakers abu-abu, rambutnya cukup tertata, beberapa helainya jatuh menutupi sebagian dahinya. 

Pria itu tampak tidak sendiri, dia masuk gerbong bersama 2 orang temannya. Sekumpulan anak muda yang barangkali selesai menghabiskan hari mereka di Kota Solo ini. Dia sebagaimana anak muda biasa pada umumnya. Yang membuatnya istimewa adalah senyumnya. Ya, saat dia tersenyum, seketika serasa cahaya dan suara-suara spesial effect menyelimuti seisi gerbong kereta. 

Setidaknya, barangkali demikian yang dirasakan si gadis cantik berscarf merah maroon tadi. Karena saat si pria itu memasuki gerbong dan berdiri di antara kerumunan, si gadis yang tidak sengaja melihat pria itu langsung mengakhiri pembicaraan telponnya, menyelipkan ponselnya ke dalam tas cokelatnya, dan menyemat pandangan tak lepas dari pria itu.

Kereta kuning terus melaju, menembus persawahan dan perkebunan tembakau di sepanjang perjalanan di daerah Klaten. Langit yang tadi biru cerah perlahan merona merah terang saat malam menjelang. Di kejauhan tampak kerbau dan bebek digiring pemiliknya pulang ke kandang.

Entah karena menyadari dirinya sedang diperhatikan, oleh saya atau oleh si gadis cantik, si pria itu meninggalkan kedua temannya dan kemudian bergeser menuju tempat saya duduk, sehingga praktis si gadis dan si pria berdiri persis di depan saya.

Namun meski kemudian mereka berjauhan, si pria dan dua orang temannya masih saling melontarkan kalimat-kalimat obrolan, beberapa gurauan, canda antar sahabat yang lucu memang. Bukan hanya saya yang tertarik menguping obrolan antar sahabat itu, si gadis tampaknya juga menyimak karena sebentar-sebentar dia pun ikut tersenyum saat terdengar hal yang lucu dari obrolan si pria dan teman-temannya. Si gadis tampak begitu asyik menyimak pembicaraan dan setiap tingkah laku si pria sehingga akhirnya saya urung menawarkan tempat duduk saya kepada si gadis.

Si pria yang humoris, dan si gadis yang malu-malu menyembunyikan senyumnya di balik scarf chifon merah maroon yang dia kenakan. Tapi, aroma ketertarikan itu sarat tercium di udara, saya pun bisa merasakannya. Si pria akhirnya menyadari kalau si gadis memperhatikannya. Si pria kemudian tersenyum kepada si gadis, menatap tajam dan langsung mengulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan. Si gadis ragu, malu, tapi akhirnya menyambut uluran tangan si pria. Mereka saling menyebut nama, dan setidaknya saya patut menduga ada jantung yang berdegup lebih kencang saat itu, ada darah yang mengalir lebih cepat saat itu.

Yang jelas, dari satu senyum, satu pandangan, satu jabat tangan, dan satu nama itu perbincangan yang lebih seru dimulai. Si pria tampak begitu percaya diri berbicara di depan si gadis, dia menceritakan tempat dimana dia kuliah, tempat tinggalnya, bahkan hingga kesibukannya sehari-hari selain kuliah. Si gadis meski masih tampak malu-malu, tetapi tetap bersedia menjawab setiap pertanyaan si pria.

Pemandangan di luar semakin gelap, sebagian besar penumpang kereta kuning itu memilih tenggelam dalam lelap. Tapi mereka begitu asyik berbincang, hingga tidak mempedulikan keberadaan saya yang duduk tertegun memperhatikan setiap perkataan dan gerak badan, bahkan si pria tidak lagi mengacuhkan teman-temannya yang berdiri agak jauh dari dia.

Cawas, Klaten, Ceper, Prambanan. Saya terus memperhatikan mereka yang asyik berduaan. Dan pandangan mata mereka, hmmm... saya hapal betul pandangan semacam itu. "Chemistry", kata orang-orang di televisi.

Saat kereta kuning melintas daerah Bandara yang benderang, sebagian penumpang lalu tergerak bersiap-siap, mengingat mereka sudah akan segera sampai di tujuan. Si gadis dan si pria pun tampak menyadari itu. Si pria tak membuang waktu, dikeluarkannya ponsel dari saku jeansnya dan sejurus kemudian nomor telepon si gadis sudah tersimpan aman di memori phonebook-nya. Si pria lalu mengeluarkan selembar kartu nama dari dompetnya dan menyerahkannya pada si gadis. Si gadis menerima kartu nama itu, kali ini dia tidak hanya tersenyum malu, tetapi tertawa lepas, tampak sekali kebahagiaan yang dia rasakan. Si gadis lalu menyelipkan kartu nama si pria di dompetnya.

Pukul 18.35, kereta kuning melambat dan akhirnya berhenti di stasiun Lempuyangan. Saya, si gadis, dan banyak penumpang lain bersiap turun. Sebelum si gadis turun dari gerbong kereta, sekali lagi, si pria yang tampaknya baru akan turun di stasiun berikutnya, tersenyum simpul, menatap tajam, dan mengulurkan tangannya. Si gadis menerima jabat tangan itu, kali ini tampak lebih erat.

Pintu otomatis Prambanan ekspress terbuka perlahan, kali ini giliran kerumunan orang menghambur keluar dari kereta. Si gadis dan si pria tampak masih saling melihat menembus kaca jendela gerbong kereta. Hingga laju kereta memaksa mereka melepas lekat pandangannya.

Saya tidak bermaksud menguntit si gadis, hanya kebetulan saya berjalan tidak jauh di belakangnya saat menuju pintu keluar. Di depan stasiun, saya berhenti sejenak, memeriksa kunci kendaraan dan karcis penitipan motor saya, hingga pandangan saya teralih saat saya melihat si gadis cantik berscarf merah maroon berjalan menghampiri seorang pria yang menunggunya di sebelah mobil Honda Jazz merah. Pria yang ini tampak lebih dewasa, kemeja hitam lengan panjangnya tampak rapi, rambutnya diminyaki, dan senyumnya tipis berwibawa sekali. Si gadis tidak hanya berjalan menghampiri si pria, tetapi sejurus kemudian memeluknya dan kemudian mendaratkan satu kecupan di bibirnya.

Komentar

Postingan Populer