Gula Lontar ( bagian 2)

 Cerita Pendek oleh I.P Yuda Hananta

Peristiwa kematian Sang Raja Pau itu terjadi sekitar belasan tahun lalu. Seorang warga Pau menjelaskan sambil menyuguhkan sirih pinang padaku. Aku mengunyahnya perlahan, getir, seperti kenangan akan kematian orang tersayang yang kembali terbayang.

Sosok jenazah itu sendiri sejak belasan tahun lalu, setelah dimandikan dan dikenakan kain dan ikat kepala, didudukkan dalam sikap meringkuk layaknya seperti bayi dalam rahim. Sekin waktu itu disemayamkan di rumahnya, dan kian lama kian besar karena lilitan kain Sumba yang membalut tubuhnya terus bertambah.

Pelaksanaan pemakaman ini, penting bagi masyarakat Sumba, terutama bagi kalangan Maramba (bangsawan), mereka akan terkena aib apabila tak sanggup memakamkan jenazah keluarganya, sesuai adat yang berlaku.

Kampung Pau, salah satu kampung dari 16 perkampungan di bawah kekuasaan adat kabihu Watu Pelitu, selama lebih dari 50 hari menjadi pusat dari hiruk pikuk itu. Masyarakat, yang dihari-hari biasa hidup tersebar di rumah kebun masing-masing, kini kembali menghuni rumah-rumah kerucut besar di kawasan duka kampung itu. Mereka masih begitu taat dalam pengaruh keluarga kerajaan masa lampau.

Suasana perkabungan kematian belasan tahun lalu, terulang kembali dengan perantaraan suasana sendu bunyi gong dan tambur yang mengiringi kidung duka. Tampah piring-piring sirih pinang beredar, bibir dan mulut pun berludah merah matang.

Dapur mengepulkan asap dan terus sibuk mendidihkan air penanak nasi dan menyeduh kopi. Kerbau, sapi, babi dan unggas disembelih dan disajikan berhari-hari. Rokok dan tuak pun ikut menemani.

Sebagaimana sistem kasta di Bali, dalam pelapisan sosial tradisional yang tampaknya masih tersirat hingga kini, lapisan tertinggi masyarakat Sumba ialah golongan Rato (imam, pengatur upacara kepercayaan), Maramba (bangsawan, pengatur masyarakat), Kabihu (orang merdeka) dan Ata (hamba). Zaman dahulu, seorang hamba kalau terpilih harus ikut masuk kubur, walaupun Ia masih hidup. Peraturan adat itu kini tidak berlaku lagi.

Tabuhan gong, tambur, ratapan dan lagu-lagu terus dilagukan untuk memberikan petunjuk pada Sang Raja supaya dia tak tersesat dalam perjalanannya di alam baka.

Upacara penarikan batu kubur adalah yang paling ditunggu-tunggu, saat selama empat hari batu besar ribuan kilogram itu ditarik dari perbukitan oleh ribuan manusia dengan tali serat daun nibung dengan kayu-kayu sebagai landasan. Dan di waktu penguburan, ratusan kain tenun ikat Sumba yang paling bagus, yang selembarnya dibandrol beberapa juta rupiah, beserta beberapa kilogram perhiasan emas ikut dikubur. Disemarakkan dengan upacara penyembelihan kerbau dan kuda.

Kameraku tak henti-hentinya membidik setiap hal. Hari itu, setiap yang kulihat rasanya sayang bila terlewat. Kerumunan orang semakin ramai. Wartawan, wisatawan, dan warga memenuhi setiap sudut. Dan di tengah keramaian itu, di antara ribuan orang di sana, aku melihat sosoknya. Mata hazel itu memang sulit dilupakan. Dia tersenyum, dan aku menghampirinya.

"There you are, ... ah how lucky I am", aku asal bunyi tanpa menimbang dampak kata-kataku.

Kali ini dia menarik bibirnya lebih lebar, dia tertawa. Dan mata hazelnya menatapku tajam, menusuk ke dalam hati.

Dan pertemuan kedua ini, menandai bertautnya hati kami. Panas terik matahari di atas tanah Sumba tak kami gubris.  Aku tidak akan lagi sendiri di sini, dan di tempat-tempat tugas liputanku selanjutnya.

Ah Tuhan memang bekerja dengan cara misterius, bahkan bagiku yang kadang lupa bahwa setiap hal dan kejadian sudah diatur dalam kuasa-Nya.

Hari-hari di Sumba memang tidak mudah, keras, sekeras batu karang di mana hidup dijalani di atasnya. Tapi Sumba meninggalkan kenangan manis, semanis lempeng gula lontar yang begitu dicecap kemudian meleleh perlahan.

Komentar

Postingan Populer