Gula Lontar (bagian 1)

 Cerita Pendek oleh I.P Yuda Hananta

Aku mengeratkan sabuk pengamanku, lalu duduk menyandar. Aku menarik nafas dalam, lalu mulai menebar pandanganku. Keluar jendela memperhatikan petugas berompi oranye menyala yang mengatur ini - itu. Ke lorong, memperhatikan satu demi satu penumpang yang masuk berdesakan sambil menjinjing bawaannya. Seorang Ibu tampak kesulitan meletakkan kerdus berukuran cukup besar ke atas rak di atas tempat duduknya, seorang pramugari hitam manis berambut digelung dengan sigap membantu menyorongkan kerdus itu ke dalam. Si Ibu tersenyum, dan si pramugari beralih membantu penumpang-penumpang lain. Si pramugari tersenyum padaku, dan aku membalas senyumnya, tenang. Meski dalam hati aku diliputi perasaan tidak nyaman, grogi.

Bukan karena ini pertama kalinya aku menempuh perjalanan udara, bukan pula karena pesawat yang kunaiki kali ini adalah pesawat kecil dengan baling-baling yang kudengar sering jatuh di pedalaman. Dan bukan karena aku sendirian, karena toh selama ini kemana-mana aku sendirian. Ah, entah, ini perasaan yang bahkan aku sendiri sulit mendefinisikan.

Kali ini aku terbang menuju Waingapu, suatu kota di Pulau Sumba. Tempat yang aku hanya pernah dengar dan tahu dari buku-buku geografi semasa SMA.

Jurnalistik adalah duniaku. Memutuskan bekerja, berkubang dan mencari nafkah dari jurnalistik adalah salah satu keputusan besar dalam hidupku. Hasratku yang tidak tertahan akan keinginan hidup penuh petualangan membuatku meninggalkan pekerjaan membosankanku di suatu bank. Aku menyimpangi ilmu ekonomi yang kupelajari semasa kuliah. Dan saat ini aku bekerja untuk majalah yang diterbitkan oleh maskapai penerbangan terbesar di Indonesia. Aku menulis, memotret, bercerita untuk mereka. tulisan dan gambar-gambar jepretanku terpampang di majalah yang dibaca-baca saat orang-orang terbang. Aku begitu bangga dan mencintai pekerjaanku, tetapi tidak demikian dengan Bapak. Bapak tidak mau bicara denganku di bulan-bulan awal aku bekerja di sini. Dan akhir-akhir ini, setahun berlalu, kami hanya bicara seperlunya, tentang adik-adikku, tentang kesehatannya, tentang rumah. Tapi tidak tentang pekerjaanku. Ibu telah lama dipanggil Tuhan. Kalau dia ada, aku pasti lebih merasa tenang.

Liputan khusus event adalah tugas utamaku. Sebelum hari ini, aku sejauh ditugaskan meliput event-event di tempatku tinggal di Jogja: Grebeg Sekaten, Merti Code, Peh Cun, Festival Kesenian Yogyakarta, Jogja Fashion Week. Atau paling-paling beberapa event lain di sekitar Jogja: Solo Batik Carnival, Kirab Malam Satu Suro di Solo, atau karnaval-karnaval lain yang banyak di Semarang, Magelang, Purworejo, hingga dataran tinggi Dieng. Jawa Tengah dan Jogja memang salah satu wilayah yang aktif dengan kegiatan atraksi bagi wisatawan, baik dalam negeri dan mancanegara. Sehingga banyak hal yang bisa diceritakan.

Hingga sebuah email datang sekitar dua minggu yang lalu. Email dari Pemimpin Redaksi tentang event upacara pemakaman Raja di Sumba yang masuk daftar wajib liputan, sementara koresponden wilayah Bali dan Nusa Tenggara sedang sakit berat, dan dia memilihku untuk menggantikan, pergi ke Sumba, meliput acara tersebut.

Kaget, perasaanku campur-campur. Aku tidak berpikir panjang, tanpa pula merasa harus meminta persetujuan siapapun, aku mengiyakan tugas itu. 

Dan siang ini, aku sudah di Denpasar. Setelah transit penerbangan dari Jogja selama tiga jam, aku melanjutkan penerbangan ke Waingapu.

Pesawat yang terbang ke Waingapu dari Denpasar ini memang kecil saja. Kapasitasnya tidak lebih dari 50 penumpang, dan siang ini penuh. Beragam orang ku perhatikan. Tampak beberapa pejabat pemerintah daerah berseragam dengan tanda pengenal bergantung di bagian depan badannya. Beberapa orang bicara dalam bahasa Jawa yang kupahami betul, ah tampaknya mereka ini perantauan, bekerja dan mencari nafkah di tanah Sumba, karena mungkin Jawa tidak lagi bersahabat. Tentara, pedagang, mahasiswa, pesawat ini mengangkut banyak kepentingan, dan mungkin beragam mimpi-mimpi. Dan seseorang yang langsung menarik perhatianku, saat dia melangkah memasuki kabin pesawat dengan santai. Tubuhnya jangkung, posturnya bagus. Rambutnya pirang, matanya hazel. Dia langsung tampak berbeda dari semua orang lain di kabin ini. Dia tampak tenang dan tersenyum, meski harus menyusuri lorong sempit dengan kesulitan. Dia hanya menenteng tas kecil di salah satu bahunya, mungkin bawaannya lain yang banyak ada di bagasi.

Aku terus memperhatikannya hingga dia duduk, dan ternyata mengambil seat di sebelahku, aku langsung berhenti bernafas. Dia tersenyum padaku, dan aku bertambah gugup.

"Hi, flying to Waingapu?", tanya dia. Basa-basi yang begitu kentara, karena seluruh penumpang di dalam kabin itu juga tahu pesawat ini menuju Waingapu. Tapi aku suka. Aku tersenyum. Aku menanggapi basa-basi itu dengan antusias.

Pertanyaan dan jawaban singkat sebelum lepas landas. Dan begitu di udara, obrolan berlanjut lebih menarik. Pertanyaan dan jawaban panjang, dengan penjelasan-penjelasan. 

Aku duduk di dekat jendela, biasanya aku terus memperhatikan ke luar, berteman kamera DSLR aku senang membidik awan, mencoba menangkap riak laut, pulau-pulau, dan gunung-gunung yang tampak anggun dilihat dari ketinggian. Tapi tidak kali itu, aku abaikan tebing-tebing pantai selatan Lombok, mengabaikan gagahnya gunung Tambora di pulau Sumbawa yang mengepulkan asapnya di luar jendela, bahkan cuek saat pesawat terbang rendah di atas perairan Pulau Rinca dan Komodo, pandanganku terus ke dalam kabin, ke seorang asing di sebelahku.

Kami mendiskusikan banyak hal. Tentang Waingapu. Tentang wisata. Tentang Indonesia. Tentang Amerika Serikat negaranya. Tentang pekerjaan jurnalistikku (jarang-jarang ada yang antusias mendengar ceritaku begini). Tentang kehidupan kami.

Obrolan mengalir lancar karena kami punya persamaan. Dia meninggalkan kehidupannya di Amerika, dan keluarganya, dan sahabat-sahabatnya di Philadelphia untuk pergi ke Indonesia setahun yang lalu. Dia ternyata tahu jauh lebih banyak tentang Waingapu daripada aku. Negara tropis adalah dunianya. Dia begitu mencintai alam, hewan, dan tumbuhan. Waingapu hanyalah satu dari sekian banyak tempat di Indonesia yang pernah dan ingin selalu dikunjunginya: Karimun Jawa, Belitong, Baluran, Derawan, Wakatobi, Banda Neira, Mentawai, Raja Ampat dan banyak tempat lain di berbagai pulau.

Cerita-ceritanya tentang luar biasa indahnya tempat-tempat di Indonesia membuat saya merasa ciut. Bagi saya yang mengaku berkewarganegaraan Indonesia, mengaku gemar travelling, bahkan mengaku bekerja untuk penerbitan majalah pariwisata, saya mendapati ada banyak tempat yang bahkan saya belum pernah dengar sama sekali.

Hampir dua jam berlalu, tanpa terasa kami habiskan dengan obrolan kesana-kemari. Tidak ada penat, justru perasaan bahagia yang membuncah. Perasaan yang tidak biasa. Kaca mata ray-ban ku memungkinkanku memandanginya, setiap detil wajahnya tanpa dia ketahui. Hidungnya yang mancung, mata hazelnya, helaian rambut pirang yang kadang menutupi sebagian dahinya, ah tipikal wajah Kaukasia sebenarnya, tapi tetap saja aku harus mengakui dia menarik.

Aku mulai galau, pesawat semakin merendah dan itu artinya aku akan segera berpisah dengannya. Di kesempatan begini, biasanya akan berlanjut dengan tukar-menukar kontak: nomor telepon, email, akun media sosial, atau apapun, tetapi dia tidak menunjukkan gelagat itu. Daratan mulai tampak menggantikan lautan. Warna hijau menyembul sesekali dari daratan yang cokelat gersang. Sinar matahari tampaknya begitu menyengat di luar.

Dan akhirnya roda pesawat menyentuh landasan Bandara Umbu Mehang Kunda, kota Waingapu. 

Kami berjalan beriringan sampai ke pintu kedatangan. Matahari ekstra menyengat siang itu, tapi aku menemukan keteduhan saat berjalan di sampingnya.

Di tengah hiruk-pikuk para penjemput, porter dan deru kendaraan, jabat tangan kami menandai perpisahan. Aku tidak rela, tapi aku langsung berpikir realistis. Ini namanya euphoria, karena menemukan orang yang begitu menyenangkan dan cerdas. Nanti juga reda, pikirku.

Sebuah mobil Avanza hitam menjemputnya, dia melambaikan tangan, dan aku membalasnya. Dia berlalu, dan lalu sepuluh menit kemudian sebuah mobil lain yang telah disiapkan petugas hotel yang kureservasi datang menjemputku.

Aku lebih banyak diam di mobil, menebar jala pandanganku ke luar, menangkap pemandangan apapun yang bisa direkam, oleh mata, dan oleh kameraku. Sumba, dulu termahsyur sebagai pulau cendana (sandalwood), yang juga terkenal dengan produk ternak dan tenun ikatnya. Jalanan berdebu, sabana dan stepa membentang luas di kanan-kirinya. Batang-batang pohon kehi menyeruak tajam menantang langit yang biru terang. Yang masih berdaun, beberapa meah meranggas, beberapa putih berselimut debu tebal. Rumah-rumah beratap jerami tinggi dan beralaskan tanah kering dengan pagar bunga bougenville yang berwarna mencolok: oranye, ungu, magenta. Kuda, sapi, bahkan babi nyaris liar, merumput dengan nyaman, hijau-cokelat-kuning, mereka nikmati tanpa peduli. Di tanah ini, hujan tampaknya terlalu angkuh untuk membasuh.

Mobil ini berjalan langsung ke sebuah hotel di pusat kota Waingapu. Kota Waingapu, kecil saja, tapi cukup semarak. Taman kota dengan kolam berhias Mamuli (simbol khas Sumbawa perlambang kesuburan), pasar tradisional yang menyediakan nyaris apapun (buah dan sayur mayur yang cukup mahal, ikan ayam dan daging yang murah dan berlimpah, kelontong, apa saja). Dan toko-toko, kantor-kantor pemerintahan, dan mesjid, dan gereja.

Begitu tiba di hotel, aku menjatuhkan badanku ke pembaringan. Hembus pendingin ruangan, gemericik air di bak mandi, lemon tea dingin di gelas yang mengembun. Senyaman apartemenku di bilangan Sudirman di Jakarta. Ah, tapi kamar ini fiktif rasanya, fakta ada di luar sana.

Selesai melaporkan ketibaanku pada bos-ku di Jakarta, aku melanjutkan memanfaatkan waktuku sore itu untuk memejamkan mata.

Keesokan harinya, mobil yang sama dengan yang menjemputku tempo hari sudah terparkir gagah di depan hotel. Hari ini aku akan  melaju ke Kampung Raja Pau, salah satu situs megalitikum terkenal di Sumba selain Kampung Raja Rende yang lebih ke Timur, ataupun Kampung Raja Prailiu yang dekat saja dalam kota Waingapu. Di Kampung Raja Pau itulah aku akan melaksanakan tugasku: meliput acara besar, upacara pemakaman keluarga Raja Pau. Hari ini telah ditunggu-tunggu sejak bertahun-tahun. Jenazah yang akan diupacarai hari ini disemayamkan di rumah khusus selama itu pula, dengan kidung-kidung Marapu dan tabuhan gong yang menemani setiap malamnya.Upacara pemakaman seperti ini adalah warisan budaya tak ternilai dari jaman megalitikum, ribuan tahun yang lalu.

Jalanan yang kususuri kali ini tampil lebih menawan. Pantai Walakiri menyuguhkan deretan pohon kelapa dan cemara udang, pasir putih dan air biru kehijauan yang tampak menggoda dari kejauhan. Sawah dengan padi menghijau tampak di beberapa potong jalan, dengan pohon lontar tinggi menyembul di pematangnya.

Mendekati lokasi tujuan, pemandangan pohon bakau dengan sungai-sungai jernih gantian tampil. Kampung Raja Pau sudah di depan mata, kampung kecil yang cuma terpisah jarak darat sekitar 65 km dari kota kabupaten Waingapu. Hiruk pikuk tampak di sana. Seorang dari mereka menyambutku ramah  dan mempersilakanku duduk di teras rumah panggungnya.


Bersambung...


Komentar

Postingan Populer