Di Kota Perak (part 2)
Something becomes most precious when you have to lose a lot to have it.
Mungkin kalimat itulah yang paling cocok untuk menggambarkan arti dokter Yuda untukku. It's too personal to explain. Bagi sebagian orang, sosok dokter Yuda mungkin menyebalkan; people's enemy. Tapi buatku, he's the sweetest, smartest guy ever lived.
I didn't know what you've been through, neither you knew what I've been through. We just met in the intersection of life accidentally before fate did us part.
I hated it that I had to tell you the truth without even knowing your truth. This feeling bothers me so much that it made me lose myself.
Bittersweet like chocolate. I lost a lot. Could you please at least let me have your spirit stayed in my heart forever?
Aku mengeluarkan sepeda motor pinjamanku untuk berkeliling Kotagede. Motor ini milik adik sepupuku, Adi. Aku memutuskan untuk pindah sementara waktu dari Jakarta ke Yogyakarta. Perputaran roda nasibku bergulir cepat setahun belakangan. Hidupku yang selama ini konstan, stagnan, begitu begitu saja, mendadak melaju kencang dan jungkir balik seperti rollercoaster. Dan aku harus tetap bisa bertahan dalam rollercoaster ini selama mungkin sambil memegangi sendok berisi minyakku* (from the Alchemist, have you read it?) agar tidak sampai tumpah. Ibuku pasti akan menambahi frase "dan tidak menciprati muka orang lain" jika beliau tahu perumpamaanku ini.
Aku memutuskan untuk menetap sementara di Jogja dan tinggal bersama keluarga tanteku di sini. Adik sepupuku; Adi, memang sakit sejak beberapa tahun belakangan. Malang tak dapat ditolak, akhirnya Ia pun dipanggil Yang Maha Kuasa sebulan kemarin.
Aku menjalani bulan-bulan yang berat. Perpisahan demi perpisahan ku alami berturut-turut beberapa bulan terakhir. Menurut hematku, wajar saja kalau aku sempat terguncang sesaat. Namun tak bisa kupungkiri kalau "perpisahanku" dengan dokter Yuda lah yang membuatku paling terguncang. Aku sungguh tidak menduga ternyata Ia sakit selama beberapa bulan terakhir sebelum kepergiannya. Yah, aku sadar bahwa dokter juga seorang manusia biasa. Aku cuma tidak menduga bahwa "sinyal - sinyal perpisahan" yang diisyaratkannya adalah perpisahan semacam ini. Takdir. Seperti ucapnya pada saat itu.
You do not have the power to stop the time.
I know, I just didn't expect it to come this early to your beautiful soul, doc...
Lalu orang - orang mulai mengecapku kehilangan arah, kurang bersyukur, dan tipis iman saat aku tidak juga berhenti menangisi kepergiannya yang terasa mendadak buatku.
Memangnya dia siapa? Segitu berartinya buatmu sampai menangisinya berbulan-bulan?
Yuda memang spesial! Dia spesial bagi banyak orang. Dia sedemikian baiknya hingga di saat kondisi kesehatannya tidak stabil pun masih berpikir untuk menolong teman - temannya dan tidak ingin membuat mereka khawatir atas kondisi kesehatannya. He's one in a million because he had a golden heart!
Aku sering mengatakan dia sinting karena bolak - balik membuatku galau berat selama berbulan - bulan. Sebal! Apa - apaan sih. Dia cuma tertawa-tawa kegeeran saat akhirnya mengetahui maksudku yang sebenarnya.
"Ah ya, gue emang ganteng. It's in my blood." Imbuhnya suatu ketika yang membuat mataku terbelalak dan menepuk jidat saat membacanya.
"Whatttt?? apa - apaan nih cowok! Sinting... narsis tingkat dewa!!" Ujarku saat itu sambil setengah mengumpat.
Tapi siapa sangka di balik otak jahilnya yang brilliant itu ternyata dia merahasiakan kondisi kesehatannya...
Ahhh dokter Yudaaaa... kamu pasti tahu apa kelanjutan kalimat ini. Please don't go... ucapku lirih dalam hati. I just met you again and I'm not ready to be left this way. Alles is liefde (semuanya adalah cinta; terjemahan bebas dari bahasa Belanda).
Is it loss? Whatever you name it.
Mungkin kalimat itulah yang paling cocok untuk menggambarkan arti dokter Yuda untukku. It's too personal to explain. Bagi sebagian orang, sosok dokter Yuda mungkin menyebalkan; people's enemy. Tapi buatku, he's the sweetest, smartest guy ever lived.
I didn't know what you've been through, neither you knew what I've been through. We just met in the intersection of life accidentally before fate did us part.
I hated it that I had to tell you the truth without even knowing your truth. This feeling bothers me so much that it made me lose myself.
Bittersweet like chocolate. I lost a lot. Could you please at least let me have your spirit stayed in my heart forever?
***
Aku mengeluarkan sepeda motor pinjamanku untuk berkeliling Kotagede. Motor ini milik adik sepupuku, Adi. Aku memutuskan untuk pindah sementara waktu dari Jakarta ke Yogyakarta. Perputaran roda nasibku bergulir cepat setahun belakangan. Hidupku yang selama ini konstan, stagnan, begitu begitu saja, mendadak melaju kencang dan jungkir balik seperti rollercoaster. Dan aku harus tetap bisa bertahan dalam rollercoaster ini selama mungkin sambil memegangi sendok berisi minyakku* (from the Alchemist, have you read it?) agar tidak sampai tumpah. Ibuku pasti akan menambahi frase "dan tidak menciprati muka orang lain" jika beliau tahu perumpamaanku ini.
Aku memutuskan untuk menetap sementara di Jogja dan tinggal bersama keluarga tanteku di sini. Adik sepupuku; Adi, memang sakit sejak beberapa tahun belakangan. Malang tak dapat ditolak, akhirnya Ia pun dipanggil Yang Maha Kuasa sebulan kemarin.
***
Aku menjalani bulan-bulan yang berat. Perpisahan demi perpisahan ku alami berturut-turut beberapa bulan terakhir. Menurut hematku, wajar saja kalau aku sempat terguncang sesaat. Namun tak bisa kupungkiri kalau "perpisahanku" dengan dokter Yuda lah yang membuatku paling terguncang. Aku sungguh tidak menduga ternyata Ia sakit selama beberapa bulan terakhir sebelum kepergiannya. Yah, aku sadar bahwa dokter juga seorang manusia biasa. Aku cuma tidak menduga bahwa "sinyal - sinyal perpisahan" yang diisyaratkannya adalah perpisahan semacam ini. Takdir. Seperti ucapnya pada saat itu.
You do not have the power to stop the time.
I know, I just didn't expect it to come this early to your beautiful soul, doc...
Lalu orang - orang mulai mengecapku kehilangan arah, kurang bersyukur, dan tipis iman saat aku tidak juga berhenti menangisi kepergiannya yang terasa mendadak buatku.
Memangnya dia siapa? Segitu berartinya buatmu sampai menangisinya berbulan-bulan?
Yuda memang spesial! Dia spesial bagi banyak orang. Dia sedemikian baiknya hingga di saat kondisi kesehatannya tidak stabil pun masih berpikir untuk menolong teman - temannya dan tidak ingin membuat mereka khawatir atas kondisi kesehatannya. He's one in a million because he had a golden heart!
Aku sering mengatakan dia sinting karena bolak - balik membuatku galau berat selama berbulan - bulan. Sebal! Apa - apaan sih. Dia cuma tertawa-tawa kegeeran saat akhirnya mengetahui maksudku yang sebenarnya.
"Ah ya, gue emang ganteng. It's in my blood." Imbuhnya suatu ketika yang membuat mataku terbelalak dan menepuk jidat saat membacanya.
"Whatttt?? apa - apaan nih cowok! Sinting... narsis tingkat dewa!!" Ujarku saat itu sambil setengah mengumpat.
Tapi siapa sangka di balik otak jahilnya yang brilliant itu ternyata dia merahasiakan kondisi kesehatannya...
Ahhh dokter Yudaaaa... kamu pasti tahu apa kelanjutan kalimat ini. Please don't go... ucapku lirih dalam hati. I just met you again and I'm not ready to be left this way. Alles is liefde (semuanya adalah cinta; terjemahan bebas dari bahasa Belanda).
Is it loss? Whatever you name it.
***
...bersambung.

Komentar
Posting Komentar