Di Kota Perak (part 1)




Cerita pendek ditulis oleh: Dian Paramita

Suasana Kotagede pagi itu mulai ramai. Baru pukul 06.15 pagi namun suasana di sekitar pasar sudah ramai. Sepeda onthel, moge, motor bebek dan Vespa berseliweran, berhimpitan di pertigaan pasar menunggu giliran melintas. Di sini, tiap pengguna jalan bertoleransi saat hendak menyeberangkan kendaraan ke jalur sebelah. Jika salah satu arahnya sedang ramai, maka pengguna kendaraan yang hendak menyeberangkan motornya akan menunggu hingga kondisi jalan agak sepi, baru lah kemudian melintas. Semacam peraturan tidak tertulis. Jangan heran kalau nanti di klakson, atau diumpat oleh pengendara lain jika kita nekat memotong jalan!

***

Begitulah suasana kota ini. Kawasan "kota kecil yang besar". Besar oleh peninggalan sejarah dan kemolekan arsitekturnya yang khas. Perpaduan indah dan eksotis antara arsitektur bangunan Belanda dan situs peninggalan kerajaan Mataram. Kotagede yang terkenal dengan silver jewellery-nya. Kerajinan perak dan tembaga. Betapa mudahnya menemukan toko-toko perhiasan perak dengan ukiran-ukiran rumit; detail dan indah di sepanjang jalan.

Namun bukan perhiasan perak yang sedang kucari saat ini, melainkan cokelat! Ya, Kotagede kini juga menjadi surga bagi pecinta cokelat. Dark chocolate, milk chocolate, praline, chocolate pepper, cinnamon. Cokelat dengan cita rasa semi-Belgia. Pahit, manis, sedikit asam, ada juga yang pedas,  dan yang pasti lumer di mulut. Hmmm.. heavenly taste to your palette.

Sudah tiga bulan sejak kepindahanku ke sini. Pertemuan demi pertemuan kembali dengan orang-orang di masa lalu yang akhirnya membelokkan jalan hidupku. Memang sudah sejak beberapa tahun lalu aku hendak kembali ke kota ini. Yogyakarta; bukan kota kelahiranku namun tetap kuanggap sebagai kampung halaman. Aku tentu ingat di setiap hari raya  bertahun-tahun lalu saat masa kecilku, menyusuri jalan ini sambil menjinjing koper dari terminal bus ke arah rumah nenek di pagi buta saat matahari pun belum terbit di ufuk Timur.

Dan kini, aku kembali kemari dengan perasaan berkecamuk. Haru - biru, sedih, marah, namun ada sedikit perasaan lega di dada. Pertemuan demi pertemuan, perpisahan demi perpisahan. Semoga membawaku ke masa depan yang ku impikan sejak lama.

Sebagian orang mungkin menganggapku tidak waras dan tidak bisa berpikir jernih atas keputusan demi keputusan yang kuambil sejak beberapa bulan terakhir.

***


Keberadaan dokter Yuda memang memiliki andil dalam pengambilan keputusanku untuk melanjutkan hidupku ke depan. Namun tentu Ia tidak dengan sengaja mempengaruhiku untuk melakukannya. Ia memang sosok yang inspiratif, motivasional, dan mengagumkan. Kontroversial, bisa dibilang begitu. Jumlah haters nya mungkin sebanding dengan jumlah pengagumnya. Aku cuma tidak menyangka akan kembali ke kota ini dengan jalan cerita seperti ini. Apakah karena dia? Mungkin, tapi belum tentu juga. Bisa jadi ini memang jalan hidup yang harus kulalui.

Aku dan dokter Yuda bertemu di kota ini sepuluh tahun silam saat kami masih sama-sama bersekolah S1 di almamater yang sama. Beberapa tahun berselang, Ia melanjutkan studinya ke Belanda, dan dari sanalah "petualangannya" dimulai.

Aku ingat Ia pernah berkisah tentang mimpi-mimpinya untuk menghabiskan sisa hidupnya di Eropa. Amsterdam atau Paris. Meski akhirnya mimpinya untuk menetap di Eropa tidak terwujud, setidaknya ia telah mewujudkan mimpinya untuk berkeliling segala penjuru mata angin untuk melihat dunia sebelum hidupnya berakhir. To live the life you imagine. Itulah nilai moral terbesar yang kuperoleh darinya selama beberapa tahun terakhir. Di mataku, dokter Yuda adalah sosok inspiratif yang mengagumkan, seperti arti namanya; Endless.

Kekuatan mental, pikiran, dan keteguhan hatinya menginspirasi banyak orang untuk mengejar mimpi-mimpi mereka yang nyaris terlupakan. Dokter Yuda lah sosok yang justru semakin memicu semangatku untuk tetap mengejar mimpiku apapun itu.

Dan dia tidak hanya memberi omong kosong belaka. Dari perkataan dan sikapnya aku bisa merasakan kebahagiaannya bahwa apa yang telah Ia lakukan selama ini ternyata menginspirasi orang lain.

***

Setahun perkenalanku dengannya akhirnya meyakinkanku untuk kembali mengingat tujuanku semula. Aku akan kembali mengejar mimpiku! Entah dari mana Ia seolah bisa membaca jalan pikiranku dan mengarahkannya ke suatu titik. Kemampuan yang tidak habis-habisnya membuatku berdecak kagum kepadanya. Ah, dia pasti sudah menyadarinya sejak awal. Mungkin dia cuma terkikik geli di seberang sana saat membaca kalimat demi kalimatku yang terkesan kikuk.

"Are you kidding me?  Hei, jangan-jangan kamu mabuk atau kurang tidur ya?" Sindirnya suatu ketika.

Ah ya, mungkin dok. Hahaha... ujarku dalam hati.

Dang! Ah, dia memang begitu. Seringkali tutur katanya halus tapi menohok. Kali ini dia to the point sekali! Segitu gampangnya dia membaca isi pikiranku tanpa perlu bertatap muka.

 Sepengetahuanku, Ia memang cukup brilliant semasa kuliah dulu. Dokter Yuda selalu jadi go to person bagi teman-teman yang ingin bertanya tentang banyak hal. Wawasannya luas, pembawaannya humble dan hangat. Namun, di sisi lain tampaknya Ia agak jahil dan baperan. Dan saat itu tampaknya aku jadi salah satu korban kejahilan dan kebaperannya. Tapi nggak apa-apa, aku rela kok, dok... :p

***

Dokter Yuda berasal dari sebuah kota kecil di luar kota Solo; Karanganyar. Kota kecil yang diselimuti sejuknya udara Gunung Lawu. Sawah, ladang, dan perkebunan teh membentang sepanjang mata memandang. Di sanalah Ia dilahirkan. Di sana pulalah Ia dimakamkan.

Yogyakarta dan Solo berjarak tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dengan motor atau mobil dan difasilitasi infrastruktur jalan yang menghubungkan langsung kedua kota tersebut. Bahkan ada kereta api khusus untuk menghubungkan keduanya; Prambanan Ekspress atau KRL, Solo Ekspress, dan Joglosemar. Apakah karena alasan itu saya memutuskan untuk pindah ke kota ini? Agar bisa lebih mudah menemuinya. Mungkin, bisa jadi. Probably my subconsciousness speaks on its own.

"Aku cuma laki-laki biasa yang berasal dari kota kecil. Nggak kayak kamu yang sejak kecil tinggal di kota besar." Ujarnya suatu ketika.

"Masa kecilku kuhabiskan berlarian di tepi rel kereta dan berlumpur di sawah, nggak seperti kamu yang hidup dikelilingi hutan beton dan gedung pencakar langit Ibukota." berkali - kali Ia mencoba menjelaskan.

Aku nggak pernah mempermasalahkan itu kok, dok. Aku juga cuma perempuan biasa. I like your grit and personality anyway.

No, just let it go. Please. Ucapnya lirih dalam hati.

"Bukannya kamu udah keliling Eropa beberapa tahun belakangan?" tanyaku kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Ah ya, yang dibilang teman-temanku menghamburkan uang." Ucapnya mencoba bercanda.

"Cara berpikirmu, pembawaan dan gaya bicaramu itu Belanda banget. Tinggal lima tahun di sana udah bikin karakter londo mendarah daging kayaknya dalam dirimu." Lanjutku kemudian.

"No, please. You don't understand. It's about my situation." Akhirnya ia mulai mencoba membuka diri.

"I have my situation, too. Does it matter?" Ucapku kemudian.

Aku nggak bisa kasih tau kamu sekarang, nanti juga suatu saat kamu akan paham. Batinnya lirih sambil menahan air yang hendak jatuh di pelupuk matanya.

***

... bersambung.

Komentar

Postingan Populer