Tentang Hobi Saya: Tari Tradisional

Happy New Year 2018!

Saya punya sebuah resolusi "hobi" di tahun baru ini. Bukan sesuatu yang besar, juga bukan sesuatu yang baru. Tidak juga berkaitan dengan hobi merajut. Saya cuma merasa butuh sedikit menggerakkan tubuh setelah beberapa tahun terakhir memiliki hobi yang cenderung "kurang bergerak".

Mungkin ada sebagian teman yang tahu, bahwa di akhir masa perkuliahan S1 saya dulu di Jogja, saya sempat mencoba mengambil "kursus singkat" Tari Jawa Gaya Yogyakarta. Walaupun hanya mengikutinya selama beberapa bulan, tapi rasanya cukup menyenangkan walaupun hanya sempat mengikuti ujian tingkat dasar. Selepas lulus kuliah pada saat itu, sebelum pulang ke Jakarta saya juga sempat iseng ngekos di Solo beberapa minggu untuk belajar Tari Jawa Gaya Surakarta. Tapi kali ini tidak berlangsung sesuai rencana karena keluarga di Jakarta sudah berkoar-koar untuk segera menyuruh saya kembali kesini. Akhirnya saya nyerah dan balik lagi ke Jakarta.

Resolusi awal tahun saya kali ini, masih berkaitan dengan hobi menari.



Beberapa waktu lalu, saat saya jalan-jalan di salah satu tempat perbelanjaan di dekat rumah, saya lihat ada Sanggar Tari Nusantara yang anggotanya anak-anak TK, SD, dan kelihatannya ada juga anak SMP. Saya iseng menyaksikan mereka latihan. Salah satu jenis tarian yang diajarkan adalah Tari Bali. Tarian yang sempat saya lihat adalah Tari Legong dan Tari Pendet (hmm.. nggak terlalu yakin itu tari Pendet sih, kelihatannya lebih mirip tari Panyembrahma, not sure! :p). Gara-gara lihat latihan tari itu, saya jadi kepingin latihan nari lagi. Maybe it's a good idea, mengingat akhir-akhir ini saya kurang gerak, kayaknya latihan menari bisa jadi ide menarik! Tapi kalau latihan bareng anak SD kayaknya agak gimanaaaa gitu ya, mungkin saya akan cari sanggar tari untuk remaja atau orang dewasa; kalau nggak keburu hilang moodnya hehehe..

Teman-teman yang mengenal saya sejak kecil, tentu tahu kalau hobi saya menari tradisional sudah ditanamkan oleh orang tua sejak saya masih TK. Sejak usia 5 tahun saya sudah didaftarkan di sebuah sanggar tari Bali di dekat rumah. Selain sekolah, masa kanak-kanak saya habiskan sebagian besar di sanggar untuk berlatih tari Bali, dan pentas hampir setiap minggu selama kurun waktu 8 tahun. Saat saya membuka kembali album foto masa kecil, isinya hampir seluruhnya adalah foto saya berkostum tari Bali yang sedang pentas di sana-sini. Teman-teman sekolah pada saat itu bahkan sampai hafal dan menjuluki saya "si penari Bali" gara-gara setiap ada acara sekolah saya selalu jadi salah satu murid yang ditunjuk untuk pentas menari. Totalnya saya sempat menguasai sekitar 9 jenis tari Bali mulai dari Pendet, Panji Semirang, Manuk Rawa, Tenun, Kebyar Duduk, hingga yang "semi repertoar" klasik seperti Legong Keraton Lasem (plus Legong Keraton Garuda), juga Wiranata, Taruna Jaya, dan yang terakhir saya pelajari sebelum "lulus" adalah Oleg Tamulilingan.

Dari tari-tarian yang pernah saya pelajari, yang paling berkesan tentu saat pementasan tari Legong Keraton Lasem. Legong Keraton Lasem adalah salah satu tari klasik Bali yang berkisah tentang Prabu Lasem yang hendak meminang Puteri Rangkesari, namun usahanya dihalangi oleh kakak dari Puteri Rangkesari dengan mengirimkan burung Garuda. Repertoar Tari Legong Keraton dipentaskan bertiga, satu penari Condong dan dua penari Legong. Kedua penari Legong berperan masing-masing sebagai Prabu Lasem dan Puteri Rangkesari, sedangkan pemeran Condong juga berperan ganda sebagai burung Garuda. Namun di beberapa repertoar ada juga peran rangkap Garuda dimainkan oleh pemeran Puteri Rangkesari (saat tidak ada pemeran Condong). Saat latihan kami berlatih per fragment, namun saat pentas kami beberapa kali tampil full selama 25 menit. Saya biasanya berperan sebagai Garuda, juga sebagai Putri Rangkesari.

Sebagian besar tari Bali yang saya kuasai memang tari hiburan karena fungsinya hanya untuk pentas anak-anak atau lomba tari daerah. Namun saya juga sempat merasakan pengalaman menari di Pura, pentas setelah teman-teman Hindu selesai sembahyang. Sebagai non-Hindu dan non-Balinese tentu pengalaman itu cukup berkesan; menyaksikan proses sembahyang umat Hindu dari dekat. Saya bahkan juga mengalami sendiri diminta duduk di antaranya (dalam kostum tari); ikut diperciki air dan ditempeli beras di kening. Selain di Pura, saya juga pernah pentas di malam Natal umat Kristiani (bukan di Gereja); menari tarian anak-anak Manuk Rawa. Pengalaman yang cukup berkesan, yang sampai sekarang saya maknai sebagai upaya pengenalan toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Jadi, apakah saya akan kembali latihan menari? We'll see. Beberapa hari ini sih saya sudah beberapa kali streaming video tari-tarian, berusaha mengingat kembali repertoar tari Legong Keraton yang dulu sempat dipelajari. Kelihatannya saya masih cukup ingat sebagian, walaupun detail sikapnya tentu perlu diperbaiki. Saat berusaha me-recall memori tari Bali, saya baru sadar kalau guru tari saya dulu cukup berhasil membentuk sikap dasarnya, karena saat berlatih (sambil nonton video sambil ngaca hahaha..) kelihatannya sikap dasar tarinya masih cukup "dapat", tentu masih perlu perbaikan sana-sini, dan perlu menghafal ulang rangkaian pakem gerakannya. Sampai saya menemukan sanggar yang cocok untuk menari lagi, sepertinya untuk sementara waktu akan saya pelajari sendiri lewat streaming video, sekadar untuk me-refresh irama dan ritme Gamelan Bali yang dulu sangat akrab di telinga.

Tapi ya gitu, seperti orang yang sudah lama tidak menari, atau aktif bergerak selama beberapa waktu, lalu memutuskan untuk "bergerak" lagi, alhasil pinggang, punggung, dan kaki saya pegal-pegal sampai nyaris encok rasanya.. but it's fun anyway! 👌 

Komentar

Postingan Populer